Oleh: Lesminingtyas *
Sejak kecil saya mengenal sosok Mbok Mariah; pembantu yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di rumah orang tua saya. Pembantu itu sudah kami perlakukan sebagai saudara dan kami sapa dengan panggilan Uwa (Bude). Walaupun dulu saya diasuh Uwa, tetapi saya tidak begitu menyukainya karena Uwa selalu pilih kasih. Karena Uwa menganggap saya sebagai anak yang paling nakal, saya selalu kena marah ketika kedua orang tua saya tidak ada di rumah. Dalam membagi lauk untuk makan, Uwa selalu memberi saya bagian yang paling kecil. Lain sekali dengan kakak laki-laki saya yang selalu mendapat perhatian dan pelayanan lebih dari Uwa.
Semasa mudanya, Uwa bekerja mencari uang untuk ketiga anaknya. Namun di masa tuanya, tidak ada satu pun anak yang mau menampung Uwa. Itulah sebabnya walaupun Uwa sudah tidak kuat bekerja sebagai pembantu, orang tua saya tetap bersedia memberi tumpangan hingga Tuhan memanggilnya. Namun sayangnya, semakin tua Uwa semakin sering mencari gara-gara dan membuat ibu saya marah. Kalau sudah konflik dengan Uwa, ibu sering sakit. Sebagai tokoh masyarakat, ibu juga tidak siap digunjingkan Uwa di depan orang lain.
Dengan alasan kemanusiaan, kakak-kakak saya yang kebetulan sedang tidak punya pembantu, bersedia menampung Uwa. Karena Uwa memang susah diatur, kakak saya yang ketiga hanya bisa menampung Uwa selama 6 bulan. Kakak yang keempat juga hanya mampu bertahan selama 1 tahun hidup serumah dengan orang model Uwa. Kakak yang kedua yang dulu selalu dimanja oleh Uwa, sebenarnya ingin menampung Uwa sampai kapanpun, tetapi istri kakak saya hanya mampu menghadapi tingkah Uwa selama dua hari saja.
Kakak tertua saya yang kebetulan kaya raya dan punya banyak usaha, paling betah menampung Uwa. Sudah lebih dari 3 tahun Uwa tinggal bersama kakak tertua dengan model hubungan "simbiosis mutualisme". Uwa bebas bertingkah di rumah kakak karena si tuan rumah hampir tidak pernah ada di rumah. Kakak juga menikmati tenaga Uwa yang murah meriah, cukup dengan imbalan "suka-suka". Itupun kalau kakak saya tidak terlalu sibuk dan ingat dengan Uwa. Melihat Uwa tidak lagi konflik dengan tuan rumah, kedua orang tua saya berusaha memenuhi kebutuhan pokok Uwa yang sering dilupakan kakak.
Setahun yang lalu pengasuh Mika; anak bungsu saya, pulang kampung dan tidak pernah kembali lagi. Karena saya tidak mendapatkan penggantinya, orang tua saya meminta kakak tertua untuk merelakan Uwa sebagai pengasuh Mika. Sebenarnya saya sendiri kurang puas karena Uwa yang sudah berumur 66 tahun itu bekerja jauh di bawah standar. Walapun banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan sendiri, tetapi saya tidak sampai hati untuk memberikan gaji di bawah standar pengasuh Mika yang sebelumnya.
Walaupun saya adalah "majikan" yang menggaji dam memberikan makan serta kebutuhan lainnya, tetapi Uwa lebih loyal kepada kakak laki-laki yang tinggal di rumah saya. Bila di rumah ada makanan, Uwa selalu menyisihkan yang terbaik untuk kakak. Setiap sore sepulang kerja, kakak selalu disambut dengan secangkir teh manis, sedangkan untuk segelas air putih pun saya harus mengambil sendiri. Kalau anak-anak saya protes melihat sikap Uwa yang lebih mengabdi dan melayani kakak, saya selalu berusaha memberi pengertian bahwa tangan dan kaki saya masih sanggup melakukan pekerjaan tanpa harus dilayani.
Suatu sore, sepulang kerja saya terkejut karena Mika diasuh oleh tetangga sebelah rumah. Ketika masuk ke kamar Uwa, saya mendapati Uwa tergolek pucat dengan suhu badan yang sangat tinggi. Saya pun segera meminta Dika; anak sulung saya untuk mencari obat penurun panas di kotak P3K. Ketika Dika memberikan obat dan segelas air putih, Uwa meminta saya untuk membuatkan bubur sumsum terlebih dulu karena Uwa tidak berselera makan.
Walaupun badan masih sangat letih, saya pun memasak bubur sesuai permintaan Uwa. Hati saya mulai lelah ketika Uwa marah-marah karena menurutnya bubur sumsum buatan saya tidak enak, terlalu asin, bau sangit dan sebagainya. Supaya saya tidak sakit hati, saya pura-pura tidak mendengar ocehan Uwa yang sebenarnya cukup menyesakkan telinga itu.
Belum juga saya sempat mandi, Uwa berteriak-teriak memanggil saya. Ketika saya mendekat, dengan kasar Uwa minta dikerik.
"Ya, ntar" kata saya pelan sambil menyambar handuk dan berlalu.
Sebelum masuk kamar mandi, saya meminta Dika untuk memanggil tukang pijit yang tinggal kurang lebih 800 meter dari rumah kami.
Ketika si Umi tukang pijit datang, Uwa menolak dikerik ataupun dipijit. Menurut Uwa, orang Sunda tidak bisa membedakan antara mengerik badan dengan memarut kelapa. Saya menjadi serba salah. Maksud hati ingin menolong Uwa, sekaligus memberi penghasilan tambahan untuk Umi. Sebenarnya badan dan kaki saya juga sudah membutuhkan jasa Umi, tetapi sore itu saya tidak punya waktu karena harus mengurus anak-anak dan Uwa. Sebagai permohonan maaf atas pembatalan "order", saya pun tetap mengeluarkan uang sepuluh ribuan untuk Umi.
Belum juga menutup pintu melepas Umi pergi, Uwa kembali berteriak-teriak layaknya bayi telat mendapatkan susu. Tidak cukup berteriak-teriak, Uwa menangis meraung-raung sambil matanya melotot mirip orang kesurupan. Anak-anak saya takut sekali. Sayapun takut karena saya pikir Uwa sedang meregang nyawa.
Sebelum menghampiri kamar Uwa lagi, saya berusaha menelpon kakak supaya segera pulang. Namun sayang dari seberang sana, kakak meminta pengertian saya karena malam itu ia sedang entertain dengan kliennya di Café Senayan. Saya pun menelpon ibu saya di Jawa untuk meminta beliau datang ke Bogor karena saya takut Uwa tidak bertahan lama lagi.
Saya sangat berharap ibu memberikan jawaban yang menenangkan seperti misalnya "Tenang saja, besok bapak dan ibu akan datang. Kalau ada apa-apa dengan Uwa, bapak dan ibu yang akan menanggung". Namun entah apa sebabnya ibu hanya menjawab "Nggak usah takut ! Kalaupun Uwa meninggal, di Bogor juga banyak makam ! Gampang khan, tinggal dikubur saja di situ !". Saya semakin panik mendapat jawabab ibu yang seolah mengisyaratkan "mekanisme lepas tangan".
Karena tidak ada sanak keluarga yang bisa menolong, saya menelpon beberapa tetangga untuk datang. Tak lama kemudian Ibu Rosa, Ibu Eko, Ibu Mita dan Ibu Henry datang ke rumah. Saya pun mengajak mereka melihat kondisi Uwa di kamar.
Begitu melihat banyak tetangga yang datang, tangisan Uwa berhenti. Uwa pun kembali meminta saya untuk mengeriknya. Ego saya mulai berontak.
"Menyediakan tukang pijit dengan bayaran mahal sekalipun, saya masih sanggup, tapi untuk melakukannya sendiri, sorry saja ya !" kata saya dalam hati.
Berat rasanya hati ini ketika harus merendahkan diri melayani pelayan dengan cara yang sedemikian rendahnya. Saya yang terbiasa bekerja sebagai sekretaris di sebuah organisasi internasional dan juga penulis rasanya hanya menyiapkan jari-jari tangan ini untuk keyboard komputer, bukan untuk mengerik atau mengurut. Terlebih lagi untuk mengerik dan mengurut seorang pembantu.
Perang batin pun mulai bergolak. Di satu sisi, rasa kemanusiaan saya ingin menolong, tetapi di sisi lain saya merasa jijik . Selama hidup, belum pernah sekalipun orang tua saya minta untuk dilayani yang sedemikian. Hampir saja saya meminta Dika untuk memanggil kembali Umi, tapi saya pikir percuma juga kalau nanti akhirnya Uwa menolak lagi. Karena cukup lama berpikir, Uwa kembali berteriak minta dikerik dan dipijit.
Dengan berat hati dan dengan menahan jijik, saya pun mengerik Uwa, sambil berkeluh kesah dalam hati "Tuhan, bukankah saya sudah banyak melayani kaum miskin, anak-anak terlantar dan penderita TBC yang terbuang? Apakah sebagai majikan saya harus melayani pelayan sendiri dengan sedemikian rendahnya?".
Karena tidak ada seorang pun yang menghibur saya malam itu, saya pun mencoba menghibur diri saya sendiri dengan mengingat Matius 25 : 40 "....Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku".
Hati saya pun mulai nyaman dan bisa melakukan "tugas pengabdian" kepada pembantu, tanpa rasa jijik lagi. Tidak tanggung-tanggung, saya mencoba men-setting otak saya dengan berpikir "Alangkah menyesalnya saya kalau tetap meninggikan hati dan tidak rela melayani, kemudian tiba-tiba wajah Uwa berubah menjadi wajah Tuhan Yesus !"
"Yes, ini bisa menjadi renungan !" pikir saya kegirangan.
Namun belum begitu lama hati saya bersuka cita, Uwa kembali berteriak-teriak marah karena tidak puas dengan pelayanan saya.
"Uuuu! Ngakunya orang Jawa, tapi kok nggak njawani! Disuruh ngerik kok malah kayak marut singkong!" Uwa mengkritik habis saya di depan para tetangga.
"Uwa, maunya yang seperti apa ?" saya mencoba bersabar.
"Ngerik itu pakai perasaan, jangan kayak nyikat WC" kata Uwa ketus.
Belum juga setengah menit saya mencoba gaya kerik yang lain, Uwa kembali mengkritik.
"Uuuuu! Ini ngerik atau nulis sih? Wong ngerik kok nggak kerasa ! Sudah, sudah, sudah.diurut saja!" lagi-lagi Uwa tidak puas.
Sambil menahan rasa gondok, saya pun bertanya kepada Tuhan "Tuhan, saya sudah melayani orang ini dengan sepenuh hati, tapi mengapa orang ini Kau biarkan terus menjengkelkan hati saya? Bukankah dalam kontrak kita tidak ada janjiMu yang mengatakan saya harus siap dicaci orang yang sudah saya layani?"
Belum juga saya mendapat jawabannya, Uwa kembali mengkritik saya karena pijitan saya tidak memuaskannya. Saya hanya terdiam menunduk sambil kembali berharap belas kasihan Tuhan "Tuhan, tolong tutup mulut orang ini, supaya tidak mempermalukan saya di depan para tetangga!"
Ketika ocehan Uwa tidak segera berhenti, nurani saya bebisik "Bukankah kamu sendiri yang menuliskan bahwa menyanyangi pembantu yang loyal dan mengutungkan kita itu bukan kasih yang dikehendaki Tuhan, tetapi hanya merupakan keinginan manusia? Bukankah kamu sendiri yang menuliskan bahwa menyayangi pembantu yang menyebalkan dan bekerja di bawah standar itu baru yang namanya kasih? Inilah waktunya kamu membuktikan bahwa tulisanmu adalah kesaksian hidupmu!"
Walaupun tak henti-hentinya Uwa menjelek-jelekkan saya di depan para tetangga, saya tidak menggubrisnya. Hati dan pikiran saya justru sibuk mencari jawaban "Sudahkah saya mengasihi dan melayani orang-orang yang 'tidak layak' dan 'tak berharga', seperti Tuhan Yesus telah menderita sengsara untuk saya yang tidak layak dan tak berharga di hadapanNya?"
* MSH. Lesminingtyas adalah penulis buku "TANGAN YANG MENENUN" yang mengisahkan perjuangan orang tua tunggal dalam mengajar anak tentang kasih dan takut akan Tuhan.
Sejak kecil saya mengenal sosok Mbok Mariah; pembantu yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di rumah orang tua saya. Pembantu itu sudah kami perlakukan sebagai saudara dan kami sapa dengan panggilan Uwa (Bude). Walaupun dulu saya diasuh Uwa, tetapi saya tidak begitu menyukainya karena Uwa selalu pilih kasih. Karena Uwa menganggap saya sebagai anak yang paling nakal, saya selalu kena marah ketika kedua orang tua saya tidak ada di rumah. Dalam membagi lauk untuk makan, Uwa selalu memberi saya bagian yang paling kecil. Lain sekali dengan kakak laki-laki saya yang selalu mendapat perhatian dan pelayanan lebih dari Uwa.
Semasa mudanya, Uwa bekerja mencari uang untuk ketiga anaknya. Namun di masa tuanya, tidak ada satu pun anak yang mau menampung Uwa. Itulah sebabnya walaupun Uwa sudah tidak kuat bekerja sebagai pembantu, orang tua saya tetap bersedia memberi tumpangan hingga Tuhan memanggilnya. Namun sayangnya, semakin tua Uwa semakin sering mencari gara-gara dan membuat ibu saya marah. Kalau sudah konflik dengan Uwa, ibu sering sakit. Sebagai tokoh masyarakat, ibu juga tidak siap digunjingkan Uwa di depan orang lain.
Dengan alasan kemanusiaan, kakak-kakak saya yang kebetulan sedang tidak punya pembantu, bersedia menampung Uwa. Karena Uwa memang susah diatur, kakak saya yang ketiga hanya bisa menampung Uwa selama 6 bulan. Kakak yang keempat juga hanya mampu bertahan selama 1 tahun hidup serumah dengan orang model Uwa. Kakak yang kedua yang dulu selalu dimanja oleh Uwa, sebenarnya ingin menampung Uwa sampai kapanpun, tetapi istri kakak saya hanya mampu menghadapi tingkah Uwa selama dua hari saja.
Kakak tertua saya yang kebetulan kaya raya dan punya banyak usaha, paling betah menampung Uwa. Sudah lebih dari 3 tahun Uwa tinggal bersama kakak tertua dengan model hubungan "simbiosis mutualisme". Uwa bebas bertingkah di rumah kakak karena si tuan rumah hampir tidak pernah ada di rumah. Kakak juga menikmati tenaga Uwa yang murah meriah, cukup dengan imbalan "suka-suka". Itupun kalau kakak saya tidak terlalu sibuk dan ingat dengan Uwa. Melihat Uwa tidak lagi konflik dengan tuan rumah, kedua orang tua saya berusaha memenuhi kebutuhan pokok Uwa yang sering dilupakan kakak.
Setahun yang lalu pengasuh Mika; anak bungsu saya, pulang kampung dan tidak pernah kembali lagi. Karena saya tidak mendapatkan penggantinya, orang tua saya meminta kakak tertua untuk merelakan Uwa sebagai pengasuh Mika. Sebenarnya saya sendiri kurang puas karena Uwa yang sudah berumur 66 tahun itu bekerja jauh di bawah standar. Walapun banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan sendiri, tetapi saya tidak sampai hati untuk memberikan gaji di bawah standar pengasuh Mika yang sebelumnya.
Walaupun saya adalah "majikan" yang menggaji dam memberikan makan serta kebutuhan lainnya, tetapi Uwa lebih loyal kepada kakak laki-laki yang tinggal di rumah saya. Bila di rumah ada makanan, Uwa selalu menyisihkan yang terbaik untuk kakak. Setiap sore sepulang kerja, kakak selalu disambut dengan secangkir teh manis, sedangkan untuk segelas air putih pun saya harus mengambil sendiri. Kalau anak-anak saya protes melihat sikap Uwa yang lebih mengabdi dan melayani kakak, saya selalu berusaha memberi pengertian bahwa tangan dan kaki saya masih sanggup melakukan pekerjaan tanpa harus dilayani.
Suatu sore, sepulang kerja saya terkejut karena Mika diasuh oleh tetangga sebelah rumah. Ketika masuk ke kamar Uwa, saya mendapati Uwa tergolek pucat dengan suhu badan yang sangat tinggi. Saya pun segera meminta Dika; anak sulung saya untuk mencari obat penurun panas di kotak P3K. Ketika Dika memberikan obat dan segelas air putih, Uwa meminta saya untuk membuatkan bubur sumsum terlebih dulu karena Uwa tidak berselera makan.
Walaupun badan masih sangat letih, saya pun memasak bubur sesuai permintaan Uwa. Hati saya mulai lelah ketika Uwa marah-marah karena menurutnya bubur sumsum buatan saya tidak enak, terlalu asin, bau sangit dan sebagainya. Supaya saya tidak sakit hati, saya pura-pura tidak mendengar ocehan Uwa yang sebenarnya cukup menyesakkan telinga itu.
Belum juga saya sempat mandi, Uwa berteriak-teriak memanggil saya. Ketika saya mendekat, dengan kasar Uwa minta dikerik.
"Ya, ntar" kata saya pelan sambil menyambar handuk dan berlalu.
Sebelum masuk kamar mandi, saya meminta Dika untuk memanggil tukang pijit yang tinggal kurang lebih 800 meter dari rumah kami.
Ketika si Umi tukang pijit datang, Uwa menolak dikerik ataupun dipijit. Menurut Uwa, orang Sunda tidak bisa membedakan antara mengerik badan dengan memarut kelapa. Saya menjadi serba salah. Maksud hati ingin menolong Uwa, sekaligus memberi penghasilan tambahan untuk Umi. Sebenarnya badan dan kaki saya juga sudah membutuhkan jasa Umi, tetapi sore itu saya tidak punya waktu karena harus mengurus anak-anak dan Uwa. Sebagai permohonan maaf atas pembatalan "order", saya pun tetap mengeluarkan uang sepuluh ribuan untuk Umi.
Belum juga menutup pintu melepas Umi pergi, Uwa kembali berteriak-teriak layaknya bayi telat mendapatkan susu. Tidak cukup berteriak-teriak, Uwa menangis meraung-raung sambil matanya melotot mirip orang kesurupan. Anak-anak saya takut sekali. Sayapun takut karena saya pikir Uwa sedang meregang nyawa.
Sebelum menghampiri kamar Uwa lagi, saya berusaha menelpon kakak supaya segera pulang. Namun sayang dari seberang sana, kakak meminta pengertian saya karena malam itu ia sedang entertain dengan kliennya di Café Senayan. Saya pun menelpon ibu saya di Jawa untuk meminta beliau datang ke Bogor karena saya takut Uwa tidak bertahan lama lagi.
Saya sangat berharap ibu memberikan jawaban yang menenangkan seperti misalnya "Tenang saja, besok bapak dan ibu akan datang. Kalau ada apa-apa dengan Uwa, bapak dan ibu yang akan menanggung". Namun entah apa sebabnya ibu hanya menjawab "Nggak usah takut ! Kalaupun Uwa meninggal, di Bogor juga banyak makam ! Gampang khan, tinggal dikubur saja di situ !". Saya semakin panik mendapat jawabab ibu yang seolah mengisyaratkan "mekanisme lepas tangan".
Karena tidak ada sanak keluarga yang bisa menolong, saya menelpon beberapa tetangga untuk datang. Tak lama kemudian Ibu Rosa, Ibu Eko, Ibu Mita dan Ibu Henry datang ke rumah. Saya pun mengajak mereka melihat kondisi Uwa di kamar.
Begitu melihat banyak tetangga yang datang, tangisan Uwa berhenti. Uwa pun kembali meminta saya untuk mengeriknya. Ego saya mulai berontak.
"Menyediakan tukang pijit dengan bayaran mahal sekalipun, saya masih sanggup, tapi untuk melakukannya sendiri, sorry saja ya !" kata saya dalam hati.
Berat rasanya hati ini ketika harus merendahkan diri melayani pelayan dengan cara yang sedemikian rendahnya. Saya yang terbiasa bekerja sebagai sekretaris di sebuah organisasi internasional dan juga penulis rasanya hanya menyiapkan jari-jari tangan ini untuk keyboard komputer, bukan untuk mengerik atau mengurut. Terlebih lagi untuk mengerik dan mengurut seorang pembantu.
Perang batin pun mulai bergolak. Di satu sisi, rasa kemanusiaan saya ingin menolong, tetapi di sisi lain saya merasa jijik . Selama hidup, belum pernah sekalipun orang tua saya minta untuk dilayani yang sedemikian. Hampir saja saya meminta Dika untuk memanggil kembali Umi, tapi saya pikir percuma juga kalau nanti akhirnya Uwa menolak lagi. Karena cukup lama berpikir, Uwa kembali berteriak minta dikerik dan dipijit.
Dengan berat hati dan dengan menahan jijik, saya pun mengerik Uwa, sambil berkeluh kesah dalam hati "Tuhan, bukankah saya sudah banyak melayani kaum miskin, anak-anak terlantar dan penderita TBC yang terbuang? Apakah sebagai majikan saya harus melayani pelayan sendiri dengan sedemikian rendahnya?".
Karena tidak ada seorang pun yang menghibur saya malam itu, saya pun mencoba menghibur diri saya sendiri dengan mengingat Matius 25 : 40 "....Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku".
Hati saya pun mulai nyaman dan bisa melakukan "tugas pengabdian" kepada pembantu, tanpa rasa jijik lagi. Tidak tanggung-tanggung, saya mencoba men-setting otak saya dengan berpikir "Alangkah menyesalnya saya kalau tetap meninggikan hati dan tidak rela melayani, kemudian tiba-tiba wajah Uwa berubah menjadi wajah Tuhan Yesus !"
"Yes, ini bisa menjadi renungan !" pikir saya kegirangan.
Namun belum begitu lama hati saya bersuka cita, Uwa kembali berteriak-teriak marah karena tidak puas dengan pelayanan saya.
"Uuuu! Ngakunya orang Jawa, tapi kok nggak njawani! Disuruh ngerik kok malah kayak marut singkong!" Uwa mengkritik habis saya di depan para tetangga.
"Uwa, maunya yang seperti apa ?" saya mencoba bersabar.
"Ngerik itu pakai perasaan, jangan kayak nyikat WC" kata Uwa ketus.
Belum juga setengah menit saya mencoba gaya kerik yang lain, Uwa kembali mengkritik.
"Uuuuu! Ini ngerik atau nulis sih? Wong ngerik kok nggak kerasa ! Sudah, sudah, sudah.diurut saja!" lagi-lagi Uwa tidak puas.
Sambil menahan rasa gondok, saya pun bertanya kepada Tuhan "Tuhan, saya sudah melayani orang ini dengan sepenuh hati, tapi mengapa orang ini Kau biarkan terus menjengkelkan hati saya? Bukankah dalam kontrak kita tidak ada janjiMu yang mengatakan saya harus siap dicaci orang yang sudah saya layani?"
Belum juga saya mendapat jawabannya, Uwa kembali mengkritik saya karena pijitan saya tidak memuaskannya. Saya hanya terdiam menunduk sambil kembali berharap belas kasihan Tuhan "Tuhan, tolong tutup mulut orang ini, supaya tidak mempermalukan saya di depan para tetangga!"
Ketika ocehan Uwa tidak segera berhenti, nurani saya bebisik "Bukankah kamu sendiri yang menuliskan bahwa menyanyangi pembantu yang loyal dan mengutungkan kita itu bukan kasih yang dikehendaki Tuhan, tetapi hanya merupakan keinginan manusia? Bukankah kamu sendiri yang menuliskan bahwa menyayangi pembantu yang menyebalkan dan bekerja di bawah standar itu baru yang namanya kasih? Inilah waktunya kamu membuktikan bahwa tulisanmu adalah kesaksian hidupmu!"
Walaupun tak henti-hentinya Uwa menjelek-jelekkan saya di depan para tetangga, saya tidak menggubrisnya. Hati dan pikiran saya justru sibuk mencari jawaban "Sudahkah saya mengasihi dan melayani orang-orang yang 'tidak layak' dan 'tak berharga', seperti Tuhan Yesus telah menderita sengsara untuk saya yang tidak layak dan tak berharga di hadapanNya?"
* MSH. Lesminingtyas adalah penulis buku "TANGAN YANG MENENUN" yang mengisahkan perjuangan orang tua tunggal dalam mengajar anak tentang kasih dan takut akan Tuhan.