effie
IndoForum Staff Personnel
- No. Urut
- 601
- Sejak
- 17 Apr 2006
- Pesan
- 8.576
- Nilai reaksi
- 353
- Poin
- 83
Dari sejumlah musibah kecelakaan yang terjadi di perlintasan Kereta Api, sebagian disebabkan mesin kendaraan tiba-tiba mati. Hal inilah yang diduga menjadi pemicu kecelakaan.
Mengapa jika mesin kendaraan tiba-tiba mati di lintasan rel KA sulit dihidupkan kembali? Menurut Kepala Laboratorium Motor Bakar Teknik Mesin Institut Teknologi Surabaya (ITS) Dr. Ir. Djoko Sungkono seperti dikutip berbagai media, ternyata itu disebabkan pengaruh gesekan antara roda KA dan relnya.
Kasus terbaru yang terjadi perlintasan Mbah Ruwet di Jombor, Ceper, Klaten, yang menelan korban jiwa 15 penumpang minibus, dan belasan lainnya luka. Kasus sebelumnya misalnya, Rektor dan Pembantu Rektor III Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, Jatim tewas karena saat mobilnya melintas rel, dihantam KA. Maka, disarankan jika mesin mobil tiba-tiba mati di rel, maka penumpang segera keluar dan mendorongnya.
Mengapa mesin susah hidup? Menurut Djoko, karena terjadi impedansi yang ditimbulkan pergesekan roda KA dan relnya. Impedansi itu cukup untuk mengakibatkan mesin mobil mati dan sulit dihidupkan kembali. Itu terutama berpengaruh pada mobil atau kendaraan berbahan bakar bensin, meskipun kendaraan berbahan bakar solar juga ada yang terpengaruh.
Pada kendaraan berbahan bakar bensin, menurut dia, karena starternya digerakkan dinamo. Dari dinamo ini dihasilkan medan magnet yang selanjutnya menggerakkan mesin mobil. Namun, tidak akan jadi masalah bila mesin mobil tidak mati. Medan magnet ini mulai berpengaruh ketika KA berjarak 1,5 kilometer dari lokasi lintasan di mana kendaraan bermotor itu melintasi rel.
Dalam sejumlah musibah kecelakaan pada 2004, kecelakaan di perlintasan terjadi karena masalah tersebut. ''Roda KA dari baja berjenis ferritic mempunyai medan magnet sangat kuat. Baja ferritic itu terbaik magnetnya dibanding jenis baja yang lain''. Jelas Djoko.
Untuk mengantisipasinya, lanjut dia di tiap perlintasan KA dibuat ground yang menghubungkan rel KA dengan tanah setempat itu akan bisa menghilangkan medan magnet.
Mengapa jika mesin kendaraan tiba-tiba mati di lintasan rel KA sulit dihidupkan kembali? Menurut Kepala Laboratorium Motor Bakar Teknik Mesin Institut Teknologi Surabaya (ITS) Dr. Ir. Djoko Sungkono seperti dikutip berbagai media, ternyata itu disebabkan pengaruh gesekan antara roda KA dan relnya.
Kasus terbaru yang terjadi perlintasan Mbah Ruwet di Jombor, Ceper, Klaten, yang menelan korban jiwa 15 penumpang minibus, dan belasan lainnya luka. Kasus sebelumnya misalnya, Rektor dan Pembantu Rektor III Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, Jatim tewas karena saat mobilnya melintas rel, dihantam KA. Maka, disarankan jika mesin mobil tiba-tiba mati di rel, maka penumpang segera keluar dan mendorongnya.
Mengapa mesin susah hidup? Menurut Djoko, karena terjadi impedansi yang ditimbulkan pergesekan roda KA dan relnya. Impedansi itu cukup untuk mengakibatkan mesin mobil mati dan sulit dihidupkan kembali. Itu terutama berpengaruh pada mobil atau kendaraan berbahan bakar bensin, meskipun kendaraan berbahan bakar solar juga ada yang terpengaruh.
Pada kendaraan berbahan bakar bensin, menurut dia, karena starternya digerakkan dinamo. Dari dinamo ini dihasilkan medan magnet yang selanjutnya menggerakkan mesin mobil. Namun, tidak akan jadi masalah bila mesin mobil tidak mati. Medan magnet ini mulai berpengaruh ketika KA berjarak 1,5 kilometer dari lokasi lintasan di mana kendaraan bermotor itu melintasi rel.
Dalam sejumlah musibah kecelakaan pada 2004, kecelakaan di perlintasan terjadi karena masalah tersebut. ''Roda KA dari baja berjenis ferritic mempunyai medan magnet sangat kuat. Baja ferritic itu terbaik magnetnya dibanding jenis baja yang lain''. Jelas Djoko.
Untuk mengantisipasinya, lanjut dia di tiap perlintasan KA dibuat ground yang menghubungkan rel KA dengan tanah setempat itu akan bisa menghilangkan medan magnet.