• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Mau Hijrah Saja Kok Jadi Serba Salah?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Mau Hijrah Saja Kok Jadi Serba Salah?


Penulis: Susi Retno Utami
Editor: Fatio Nurul Efendi


Cangkeman.net -Halo kawan pembaca. Apa kabar? Semoga senantiasa dalam kondisi yg sehat yaa, amin.

Okguys,langsung saja perkenalan sama pembahasan dalam tulisan ya. Jadi, topik tulisanku kali ini adalah berangkat dari adanya seorang, eh bukan seorang sih. Lebih tepatnya bermula dari satu keluarga yg dapat dikatakan baru saja berhijrah. Sebagaimana makna dari mengatakan 'hijrah' yaitu perubahan sikap, tingkah laku, atau yg lainnya menuju ke arah yg lebih baik, ya begitulah satu keluarga di salah satu lingkungan yg belakangan kuketahui memang sudah banyak berubah jadi lebih baik.

Vibes-nya satu keluarga itu tuh udah beda banget lah ya sama penampakan sikap & tingkah laku mereka di masa lalu. Jujur sebagai orang yg melihat perubahan itu, saya sih enggak ada masalah, ya biasa aja. Tapi cenderung ikutan seneng juga, karena kalau ketemu sama mereka kesannya jadi adem serta membawa aura yg positif gitulah. Itu kalau pendapat aku.

Tapi ternyata, ya seperti pada umumnya, pendapat setiap orang tidak dapat diseragamkan. Aku memang merasa tidak masalah dengan hijrahnya satu keluarga yg cukup sering kutemui itu. Tapi lain halnya dengan orang-orang yg lain. Soalnya enggak sedikit juga yg merasa agak enggak nyaman dengan hijrahnya satu keluarga itu.Loh,aku yg tahu soal ketidaknyamanan itu pun jadi heran juga. Apanya sih yg bikin enggak nyaman? Emang mereka menyalahi apa, hingga timbul perasaan seperti itu dari orang-orang lain ini?

Nah,setelah mencoba mengulik sebabnya, akhirnya saya mulai nemuin jawabannya. Rupa-rupanya, orang-orang yg enggak merasa nyaman ini adalah karena setiap berjumpa dengan salah satu anggota keluarga yg sudah hijrah itu, eh mereka merasa diceramahi. Secara garis besar, orang-orang ini berpendapat,"Ya kalau mau hijrah ya hijrah saja, tetapi enggak perlu menceramahi orang lain seolah dia sudah jadi yg paling benar."

Tidak berhenti dengan pendapat itu. Tapi kebiasaan-kebiasaan baru dari satu keluarga yg hijrah juga sering jadi bahan dialog dari orang-orang yg ngakunya kurang nyaman itu. Menjadi rajin salat berjamaah di masjid saja jadi obrolan. Enggak ikut kegiatan biasa yg pertimbangannya adalah agama, juga jadi obrolan. Dan beberapa hal lain pun jadi obrolan. Sebenarnya wajar saja ya, karena setiap dari manusia memang secara tidak langsung akan mengerjakan evaluasi kepada manusia lainnya. Sehingga muncul yg namanya pendapat dalam sebuah dialog atau perbincangan.

Namun masalahnya, dialog yg terjadi adalah dialog dengan konotasi & nada-nada tidak suka yg pada akhirnya membawa kesan negatif.

Huh,aku menghela napas agak panjang saat tahu soal itu. Ya, di sini saya enggak mau menyalahkan atau membenarkan. Toh saya juga kadang masih kelepasan buat bicara yg enggak baik. Cuma saya cukup gelisah saat mendengar itu semua. Ya gini loh, ada orang yg berubah jadi lebih baik, tetapi kok malah kayaknya orang itu jadi serba salah. Bukan saya membela yg hijrah & memojokkan orang yg enggak nyaman sama hijrahnya satu keluarga itu, bukan gitu sih. Aku tetap berada dalam jalur bahwa kebebasan berpendapat adalah benar. Tapi dalam kasus ini, saya ngerasa kayak aneh aja gitu. Kenapa perubahan yg baik & positif itu harus diperdebatkan & seolah-olah terus digali sisi enggak baiknya. Kenapa gitu?

Padahal, kalau seandainya mau untuk melihat sisi baik & positifnya. Ada ragam hal menarik loh yg dapat diambil dari hijrahnya satu keluarga itu. Yang namanya manusia memang enggak akan luput dari yg namanya kesalahan. Mereka yg sudah hijrah, juga tidak sering jadi benar apalagi sempurna tanpa cela. Tapi meski salah & buruknya manusia adalah maklum, bukan berarti itu menjadikan wajar untuk terus memiliki pikiran serta prasangka yg tidak baik kepada perubahan hidup yg sedang dijalani oleh orang lain.

Sebagai penutup, saya cuma mau bilang kalau ini mungkin dapat dijadiin pengingat buat kawan pembaca & tentunya juga buat saya pribadi. Di mana, kita wajar kok enggak suka sama beberapa orang karena perilaku atau juga opsi hidupnya. Tapi sebaiknya, kita janganlah terlalu sering menunjukkan ketidaksukaan kita di muka umum. Karena kalau dibiarkan, itu bukan dinamakan sebagai kebebasan berpendapat lagi, tetapi dapat menjurus pada tumbuh & suburnya penyakit di dalam hati. Kalau ada sesuatu yg misal menciptakan kita merasa enggak nyaman atau enggak suka, ya sudah tidak perlu untuk sering dijadikan masalah yg bikin pusing. Solusi yg dapat jadi tepat adalah jauhi yg sekiranya enggak baik, & mulailah untuk mengambil sisi baiknya. Pasti ada kok sisi baiknya, selama kita sering mencoba untuk berpikir secara positif & menjauhi praduga yg negatif.

Ok kali ini cukup hingga di sini ya. Semoga membawa manfaat, & hingga jumpa di lain tulisan.


Tulisan ini ditulis diCangkemanpada tanggal 12 Desember 2022 Hari ini 18:05
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.