yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati menilai, hiruk pikuk media sosial selama dua bulan terakhir saat pilpres yang dipenuhi dengan lalu lintas diskusi negatif, "mendidik" publik seakan-akan perbincangan yang keras dan kasar menjadi sebuah "budaya" yang wajar di alam media sosial. Hal itu berkembang seperti kasus Florence Sihombing serta @Kemalsept saat ini.
"Berdasarkan riset termutakhir di barat, emosi dapat menular melalui media sosial. Bila komentar negatif meningkat, maka respons positif lanjutan akan berkurang. Begitu juga sebaliknya," tegasnya di Depok, Senin sore (08/09/2014).
Hal ini, lanjutnya, kemudian "diimitasi" oleh kaum-kaum muda yang memang menjadi penghuni utama media sosial.
"Sekira 60 persen warga medsos ialah kaum mudah dari 13 - 40 tahun. Saya menduga, persoalan etika komunikasi yang dianggap seharusnya sudah dimiliki oleh kaum muda ini, ternyata tidak dimiliki oleh mereka," jelasnya.
Dosen Vokasi UI ini menilai, pengguna media sosial belum memahami fungsinya sekaligus tidak memiliki keterampilan komunikasi yang mumpuni.
"Saya mengilustrasikan media sosial seperti pisau, yang bila digunakan oleh seorang ahli masak akan mampu menghasilkan hasil masakan yang baik. Apabila digunakan oleh orang yang tidak memahami fungsi pisau dan tidak memiliki ketrampilan, maka pisau dapat melukai sang pemilik pisau dan orang lain," paparnya.
Bahkan Devie menyebut media sosial kini seolah sebagai 'Diary Pribadi' bagi si pemilik akun untuk menorehkan berbagai curahan hatinya. Tanpa disadari, kebanyakan curahan tersebut terkadang juga berisi umpatan bagi orang lain.
"Karena banyak pengguna medsos yang melihat medsos sebagai 'Diary Pribadi'. Padahal dari akar katanya, jelas media sosial, yang bermakna, bahwa ini adalah ranah publik. Netiquette menjadi pengetahuan pokok yang harus dimiliki seluruh pengguna medsos," tutup Devie.
"Berdasarkan riset termutakhir di barat, emosi dapat menular melalui media sosial. Bila komentar negatif meningkat, maka respons positif lanjutan akan berkurang. Begitu juga sebaliknya," tegasnya di Depok, Senin sore (08/09/2014).
Hal ini, lanjutnya, kemudian "diimitasi" oleh kaum-kaum muda yang memang menjadi penghuni utama media sosial.
"Sekira 60 persen warga medsos ialah kaum mudah dari 13 - 40 tahun. Saya menduga, persoalan etika komunikasi yang dianggap seharusnya sudah dimiliki oleh kaum muda ini, ternyata tidak dimiliki oleh mereka," jelasnya.
Dosen Vokasi UI ini menilai, pengguna media sosial belum memahami fungsinya sekaligus tidak memiliki keterampilan komunikasi yang mumpuni.
"Saya mengilustrasikan media sosial seperti pisau, yang bila digunakan oleh seorang ahli masak akan mampu menghasilkan hasil masakan yang baik. Apabila digunakan oleh orang yang tidak memahami fungsi pisau dan tidak memiliki ketrampilan, maka pisau dapat melukai sang pemilik pisau dan orang lain," paparnya.
Bahkan Devie menyebut media sosial kini seolah sebagai 'Diary Pribadi' bagi si pemilik akun untuk menorehkan berbagai curahan hatinya. Tanpa disadari, kebanyakan curahan tersebut terkadang juga berisi umpatan bagi orang lain.
"Karena banyak pengguna medsos yang melihat medsos sebagai 'Diary Pribadi'. Padahal dari akar katanya, jelas media sosial, yang bermakna, bahwa ini adalah ranah publik. Netiquette menjadi pengetahuan pokok yang harus dimiliki seluruh pengguna medsos," tutup Devie.