• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Masyarakat Adat Karuhun (AKUR) Sunda Wiwitan

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Masyarakat Adat Karuhun (AKUR) Sunda Wiwitan


CPR42-Sabtu (19/03), komunitas Skolastikat Xaverian kembali mengadakan dialog interaktif dengan tema Mengenal Masyarakat Adat Karuhun (Akur) Sunda Wiwitan. Acara dialog kali ini dihadiri kurang lebih 50 peserta dengan latar belakang yg berbeda-beda. Hadir beberapa teman mahasiswa STF Driyarkara, teman-teman santri dari Pesantren Gus Dur Ciganjur, beberapa siswa SMA, beberapa orang dari lingkungan & beberapa aktivis ICRP.

Acara dialog kali ini terasa istimewah karena hadir juga P. Anton sebagai Provinsial Xaverian yg kebetulan sedang berada di Jakarta.

Masyarakat AKUR Sunda Wiwitan merupakan suatu komunitas kecil yg menghidupkan kembali ajaran spiritual leluhur yg sudah lama ditinggal.

Kekayaan spiritual ini digali kembali perdana kali oleh Pangeran Sadewa Madrais Alibasa Kusuma Wijayaningrat, yg kerap dipanggil Pangeran Madrais, setelah sekian zaman lamanya hilang di bawah politik adu domba penjajahan bangsa kolonial. Komunitas yg berkembang di Cigugur, Jawa Barat ini memiliki dua ajaran utama, yakni pencerahan diri sebagai pribadi manusia & pencerahan diri sebagai bagian dari bangsa. Kedua ajaran ini jadi landasan bagi komunitas Sunda Wiwitan dalam pergaulan hidup sehari-hari. Welas asih merupakan salah satu ajaran yg diwariskan oleh leluhur mereka jadi dasar relasi & penghormatan pada keberagaman yg ada di bangsa Indonesia ini.

Masyarakat Adat Karuhun (AKUR) Sunda Wiwitan


cara Seren Taun termasuk budaya Sunda Wiwitan yg pernah ditolak Gereja Katolik (doc.google)

Ibu Dewi Kunti yg hadir sebagai pembicara dalam acara ini menceritakan perjalanan masyarakat Sunda Wiwitan yg kerap kali mendapat perlakuan diskriminasi dari pemerintah. Sulitnya mendapatkan akta kelahiran bagi masyarakat Sunda Wiwitan merupakan salah satu bentuk perlakuan diskriminatif yg mereka alami. Dalam berbagai urusan administratif, komunitas ini kerap dilecehkan & tidak dihargai. Bahkan komunitas ini kerapkali disamakan dengan agama Islam, Kristen, & Hindu, sehingga dalam berbagai urusan administratif salah satu dari ketiga agama tersebut dipakai & dicantumkan dalam kolom agama sehingga segala urusan administrasi lancar. Dalam perjalanannya, komunitas masyarakat Sunda Wiwitan ini pernah memeluk agama Katolik & Hindu, namun karena disparitas ajaran & tradisi menciptakan komunitas ini keluar dari kedua agama tersebut & membentuk suatu komunitas sendiri.

Perlakuan diskriminatif yg dialami kelompok masyarakat Sunda Wiwitan ini menimbulkan simpati dari berbagai kalangan. Salah seorang santri dari pesantren Ciganjur yg hadir sebagai peserta dalam acara ini mengungkapkan rasa keprihatinannya atas apa yg dialami masyarakat Sunda Wiwitasn ini.

Ibu Dewi Kanti mengungkapkan bahwa hingga sekarang ini komunitas masyarakat Sunda Wiwitan ini masih berjuang untuk mendapat pengakuan dari pemerintah. Perjuangan yg mereka lakukan bukan pertama-tama supaya masysarakat Sunda Wiwitan dijadikan sebagai agama resmi. Masyartakat Sunda Wiwitan tidak mau terjebak dalam tindakan legalitas belaka. Tapi perjuangan mereka yg utama adalah supaya negara sungguh-sungguh hadir di tengah masyarakat, sebaliknya bukan terjebak dalam apa-apa yg formal.

Komunitas yg mulai terbentuk di akhir zaman 19 ini tidak mengerjakan penyebaran ajaran. Namun, komunitas masyarakat ini mengaku diri sebagai komunitas yg inklusif. Mereka sering terbuka dengan berbagai budaya, agama, & ideologi manapun. Hal ini sesuai dengan pandangan filosofis yg mereka anut yaitu damai. Damai yg dapat memeluk dengan rasa persaudaraan semua orang melampaui batas-batas geografis, suku, agama, & ideologi yg ada. Hal ini senada dengan apa yg diungkapkan oleh P. Rubi selaku rektor komunitas Skolastikat Xaverian yg mengatakan bahwa acara dialog yg dibuat oleh Komunitas Skolastikat Xaverian ini bertujuan untuk menjaring semakin banyak orang yg mensayangi kebenaran berkehendak baik.

Masyarakat Adat Karuhun (AKUR) Sunda Wiwitan


Acara dialog ini diakhiri dengan fobar (foto bareng) & diteruskan dengan makan malam bersama.


Kemarin 21:47
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.