Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Belakangan ini ada orang gila yg sering berkeliaran di depan warung saya. Orang gila itu (atau bahasa kerennya ODGJ) memakai kombinasi pakaian paling ajaib yg pernah saya lihat seperti karung goni, tali plastik & juga topi anak Sd yg entah darimana dia dapat. Dan selayaknya orang gila, penampilan maupun keberadaannya tidak disukai.
Saya sudah sering melihat orang gila & ada beberapa orang gila yg bahkan sering 'mampir' ke warung saya namun orang gila yg satu ini adalah yg paling mengganggu diantara mereka. Dia suka berteriak-teriak tidak jelas, buang air di selokan, melempari mobil yg lewat & tentunya mengambil jajanan tanpa membayar.
Keberadaan orang gila amatlah buruk untuk bisnis. Bukan cuma karna keberadaannya menciptakan orang lain enggan untuk mampir namun juga menciptakan saya merasa tidak berdaya. Apa gunanya berdebat dengan orang gila? Jika memakai kekerasan maka dia tak segan memungut batu & melempari semua yg ada di depannya. Sungguh sebuah bencana.
Orang gila bukan satu-satunya yg menciptakan saya lelah. Pembicaraan dengan pelanggan pun dapat dengan mudah menciptakan saya lelah, contohnya begini;
Quote:
"Bang, beli."
"Beli apa?"
"Beli rokok."
"Rokok apa?"
"Rokok S***a."
"Beli berapa?"
"Beli satu bungkus."
"Yang akbar atau yg kecil?"
"Yang besar."
Sumpah, itu percakapan paling menguras energi yg pernah saya lakukan. Apa sih susahnya tinggal bilang, Bang, beli s***a akbar sebungkus? kenapa banyak sekali orang suka mengerjakan sesuatu dengan cara yg sulit?
Tipe pembeli yg seperti ini biasanya adalah bocah yg disuruh oleh bapaknya. Dengan diiming-imingi kembaliannya buat Kamu anak-anak yg semestinya tidak boleh menyentuh rokok ini bersedia membeli apa saja & saat mereka memutuskan untuk membeli jajanan dimulailah detik-detik paling membosankan di dunia ini.
Pertama mereka akan melihat etales jajanan lalu bertanya, "Ini berapa bang?" "seribu" dia akan mengangguk tetapi tidak mengambilnya. Kemudian dia akan beralih ke kiri lalu menanyakan pertanyaan yg sama namun tidak membelinya. Berulang terus hingga akhirnya sepuluh menit berlalu dengan cuma membeli 3 butir permen. Bloody hell! Anak ini pasti punya banyak sekali waktu.
Namun yg lebih berbahaya dibandingkan bocah adalah peminta sumbangan. Bukan pencuri, bukan penipu, bukan sales abal-abal melainkan orang yg meminta sumbangan untuk kegiatan amal. Pengemis memang menyebalkan karna mereka tidak akan pergi sebelum Kau memberi mereka sejumlah uang namun orang yg meminta sumbangan ini lebih berbahaya.
Ini merupakan pengalaman pribadi saya saat ada seorang yg meminta sumbangan untuk pembangunan masjid. Mereka menunjukkan beberapa foto yg terlihat meyakinkan lengkap dengan surat-suratnya. Karna saya tak begitu paham tentang ijin bangunan & semacamnya saya tak tahu apakah surat itu palsu & memutuskan untuk percaya. Meski demikian, saya harap mengetes sesuatu.
"Abang udah solat Maghrib belum?"
Kebetulan saat itu adalah sore hari, satu jam setelah adzan Ashar namun betapa terkejutnya saya saat orang tersebut menjawab 'sudah.'
"Solatnya lima rakaat kan?"
"Iya," jawabnya dengan senyum meyakinkan. Disinilah saya tahu bahwa mereka ini cuma penipu yg bahkan bukan beragama Islam. Disitu saya marah & menantang mereka bersyahadat namun kemudian mereka mengelak dengan bilang mereka muallaf, belum tahu tentang solat & segala macam. Nah, muallaf macam apa yg bahkan nggak tahu syahadat?
Fyuhh, karna warung saya buka 15 jam perhari maka banyak orang aneh yg sering mampir & terkadang menciptakan jengkel. Meski begitu hidup harus berlanjut, perut perlu diberi makan & segala kekesalan harus disapu ke paret pembuangan. Untuk semua penjaga warung yg membaca ini, bserjuanglah!
Sekian dari saya mari berjumpa di thread saya yg lainnya. Hari ini 12:02