• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Martini Layu Sebelum Berkembang

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Martini Layu Sebelum Berkembang



Rona merah yg terpancar dari wajahnya dengan lesung pipi menghiasi kedua pipinya. Rambut hitam pekat, mata bak bola pimpong & alis bak semut beriring. Martini adalah seorang gadis belia, gadis polos nan imut yg begitu cepat tergilas roda kehidupan yg begitu kejam. Jatuh sayang pada seorang pemuda asing, memperdayanya hingga menanamkan benih-benih sayang di rahimnya, lalu meninggalkan tanpa jejak. Martini, tak seorang pun peduli padanya. Kelahiran bayi perempuan mungil tanpa ikatan perkawinan dianggap aib oleh ayah ibunya & berujung riuhnya warga perkampungan yg mengharapkan Martini menjauh dari kampung halaman.


Tanpa alas kaki membungkus kaki mungilnya, dengan langkah terseok-seok, rambut yg acak-acakan, mata yg sembab, air matanya terus saja mengalir dari kedua pipinya. Berlahan menjauh, lambat laun riuhnya warga tak lagi terdengar, tertelan malam yg mulai menyelimuti perkampungan. Sesekali ia meringis menahan sakit. Buntalan kain hitam di tangan kiri, seorang bayi mungil dalam dekapan tangan kanan & buntalan putih di atas kepalanya. Sesekali terdengar tangisan kecil dari bibir mungil sang bayi yg masih memerah. Gerimis mulai turun, lambat laun semakin deras, memaksanya untuk sejenak melepaskan penat di sebuah pos kamling perkampungan. Tubuh sang bayi mulai menggigil kedharapan, tangisannya lambat laun terdengar semakin menyayat hati. Diraihnya selembar kain dari buntalan hitam & membungkus tubuh mungil itu, lalu mendekapnya makin erat. Hingga tangisan itu menghilang & berubah jadi dengkuran halus.


Beralaskan buntalan kain hitam, Martini dengan hati-hati meletakkan bayi mungilnya lalu dengan berlahan ia merebahkan tubuh di samping sang bayi mungil, memejamkan mata, sejenak melepaskan segala beban yg menderanya, & berharap larut dalam mimpi indah.


Martini, adalah satu dari potret kehidupan yg begitu kejam. Memaksanya untuk tumbuh dewasa & menjalani kerasnya kehidupan yg semestinya belum saatnya ia rasakan. Memaksa untuk layu sebelum kuncupnya mekar. Saat sebayanya asyik dengan gendongan tas ransel di punggung, dengan riangnya berlarian menuju tempat menuntut ilmu. Saat seusianya tertawa riang memamerkan gadget baru keteman-teman sebayanya. Namun, berbeda halnya dengan Martini, benih sayang yg begitu cepat tumbuh di hatinya, melabuhkan raganya dalam dekapan sang pemuda asing. Peluh bercampur jadi satu, lalu cairan kental terus mengalir dalam aliran darahnya, bersemayam, & terus tumbuh membesar. Hingga waktu mengantarkan sang jambang bayi terus meronta menutut haknya untuk mengenal kehidupan baru di dunia. Lalu dengan entengnya sang penabur benih berpaling, menjauh, & akhirnya hilang dari pandangan. Tinggalah Martini dengan ribuan cibiran yg terus mendera, menyiksa batin, mengoyak luka di hati, & mengantarkannya pada perjalanan yg tak berujung & tak berarah. Genggamam jemari mungil nan lembut memaksa Martini untuk terus kuat menghadapi pekatnya dunia.


Martini, belum saja sempat merasakan manisnya masa membingkai cerita lewat jendela SMP. Martini, belum pernah memahami betapa bangganya saat hari perdana seragam putih biru membalut di tubuh, saat sepasang sepatu baru menghiasi kaki indahnya. Martini, belum paham rasanya deg-degan saat menanti gebetan di gerbang sekolah. Martini, teruslah berjuang melawan pekatnya dunia. Martini, tularkan semangat hidupmu pada benih sayangmu, hembuskan napas kehidupan hingga kelak ketika engkau sudah di ujung napas. Ajarkan ia tentang kehidupan, ajarkan ia memiliki apa yg jadi haknya, hingga kelak engkau menutup mata untuk selamanya. Ajarkan ia mengenal sayang pada Tuhannya sebelum ia mengenal sayang pada mahluk-Nya. Agar kelak saat waktunya tiba ketika kuncupnya mekar, di petik tangan kokoh & mendekapnya dalam sayang sepenuh jiwa. Ajarkan ia untuk terus tumbuh dengan tangguh supaya tak ada yg sanggup menorehkan luka di hatinya, supaya tak ada lagi Martini Martini cilik sepertimu.


Sepenggal kisah fiksi, tetapi tidak dapat dipungkiri di era modern saat ini Martini-Martini tumbuh di mana-mana. Bukan cuma terjadi di perkotaan besar, faktanya hal serupa juga melanda hingga pelosok pedesaan yg notabene akses informasi masih minim. Budaya siri tak lagi mengakar & mendarah daging pada generasi saat ini. Gempuran tekhnologi & minimnya supervisi orang tua serta kurangnya pengetahuan orang tua akan arti pentingnya penanaman nilai-nilai religi sejak masih dini jadi faktor penyebab rusaknya pergaulan anak ABG zaman sekarang, terjadi pergeseran moral & minimnya etika. Miris menyaksikan pergaulan ala anak ABG, dengan bangganya mempertontonkan adegan-adegan yg tak semestinya mereka lakukan diusia masih dini.


Akhir mengatakan semoga keturunan kita senantiasa dijauhkan dari hal-hal buruk & terus tumbuh berkembang sesuai usianya serta semoga Tuhan senantiasa melindungi kemanapun mereka melangkah.
Kemarin 21:40
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.