Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Marshel Widianto, namanya tercoreng akibat kasus Dea OnlyFans. Mau bagaimana lagi dirinya menapaki karir dari bawah, gara-gara kasus maksiat dirinya terjerambab.
Marshel walau sudah pusing dengan kasusnya, ia tetap memaksa untuk menghibur di sebuah acara podcast om Deddy, namun terlihat kerapuhan dirinya ketika media menghakimi tanpa persidangan.
Bisa dilihat video podcast Marshel bersama om Deddy, disini kita tak akan membahas kasusnya. Mungkin diantara kalian yg baca thread ini juga sama dengan Marshel, kalau narkoba atau pelaku kriminal masih dapat dihindari tetapi kalau birahi?
Tentu hal yg satu ini alamiah, agak sulit untuk dikontrol. Terlebih di zaman digital seperti ini, Marshel adalah salah satu seniman yg tak dapat menahan birahinya, jangankan seniman anggota dewan pun di dalam gedung DPR sering terciduk menonton film yg menunjukkan berpacu dalam birahi.
Jadi, hampir masalah birahi menyebabkan manusia sering lupa bahwa dirinya publik figure, yg harus menunjukkan kebaikan bahkan kalau dapat harus seperti malaikat tanpa ada kesalahan.
Yang kita akan bahas saat ini bagaimana media memberitakan tentang sesuatu hal yg terkesan tendesius. Mereka mengpakai berbagai macam cara untuk meningkatkan view supaya masyarakat mau membacanya.
Tentu dibumbui dengan judul fantastis, bombastis & menarik. Bahkan bagi pewarta amatir tak segan untuk menerobos kode etik jurnalistik, hingga Marshel tertekan karena media sudah jadi hakim yg menciptakan opini hingga dirinya menangis.
Tangisan Marshel di podcast om Deddy ini memperlihatkan kemarahan dirinya kepada media, bukan itu saja tetapi akibat kasusnya ini juga menciptakan Marshel banyak kehilangan job.
Peribahasa akibat nila setitik rusak susu sebelanga, sepertinya cocok disematkan pada Marshel. Tapi inilah resiko jadi artis, media tidak perduli dengan mental orang yg diberitakan. Karena media cuma mewartakan, walau terkesan dari judul terlalu dibesarkan.
Dunia pers digital & media sosial menjadikan banyak orang dapat berkomentar, namun ada yg hilang dimana Media yg merangsang intelektualitas & diskusi yg mencerdaskan semakin langka, karena pasar yg disuka masyarakat memang berita receh yg tak mencerdaskan.
Untuk apa susah payah jadi idealis kalau tujuan utama tak tercapai, yaitu cuan. Tak ubahnya di kaskus diskusi yg jadi image kaskus dahulu semakin tenggelam.
Banyak thread di forum untuk diskusi sekarang jadi sepi, apa alasannya? Mereka yg sering berdiskusi, lebih banyak menciptakan grup WA untuk lebih nyaman berdiskusinya.
Tek tokkannya untuk lawan diskusi lebih asik di grup WA, IG dll, maka media harus berbenah supaya tetap dibaca oleh masyarakat yg dahaga akan informasi.
Kalau juragan sendiri apa tanggapannya dengan hal ini?
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, bila ada kritik silahkan dihinggakan & semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat & merdeka. See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2022
referensi : klik, klik, klik
Pic : google