Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Manusia & Perjuangan Mengasuh Ruang & Waktu
Sejak permulaan penciptaannya, manusia & makhluk lainnya oleh Tuhan sudah dianugerahi dua dimensi pelengkap ; ruang & waktu. Dimensi yg senantiasa berdampingan dengan kehidupan ini adalah faktor eksternal yg sangat menentukan kelangsungan & kelestarian kehidupan.
Bumi tempat kita berpijak yg amat luas ini, adalah ruang tanpa batas (dalam pengertian untuk mengelolanya dibutuhkan human resources yg cukup) dimana manusia & makhluk lainnya saling berbagi peran untuk mengelolanya. Setiap makhluk hidup sudah memiliki porsinya sendiri. Sehingga bagian yg dimanfaatkan semestinya adalah bagian yg jadi porsinya saja. Keseimbangan di alam ini sudah diatur sedemikian rupa sehingga asas keadilan di bumi terpenuhi. Tidak akan ada satupun makhluk yg terabaikan & tidak akan ada yg mendapatkan porsi yg tidak semestinya. Itulah hukum alam mula-mula setelah penciptaannya.
Keseimbangan alam yg sudah lama terjaga dengan hukum seleksinya, kemudian jadi terganggu, atau bahkan menciptakan keseimbangan baru yg oleh alam sebenarnya adalah sebuah proses "pengrusakan" & manusia sebaliknya menganggap itu sebagai peradaban yg harus di terus bertumbuh.
Dimensi ruang yg awalnya baik-baik saja, kemudian merasa "hidupnya" terancam & mengerjakan perlawanan balik dengan cara melawan proses yg sedang berlangsung. Manusia yg kadung terobsesi pada mimpi peradabannya itu, kemudian mengumpat alam, yg merupakan perwujudan dari dimensi ruang, dengan sebutan "bencana alam". Sungguh ironis sebab disaat bersamaan, alam yg terancam keseimbangannya tidak pernah mengerjakan hal yg sama, semisal mengumpat manusia dengan "bencana manusia", alih-alih memilih mengembalikan keseimbangannya seperti semula.
Sementara itu, dimensi waktu pula yg merupakan saudara tua dimensi ruang adalah pencatat sejarah. Dia memperhatikan detil demi detil kejadian secara saksama & tak ada satupun yg luput. Demikianlah perannya yg menyaksikan berbagai peristiwa & tersimpat kuat dalam memorinya.
Meski tak langsung berdampak pada usaha mengembalikan keseimbangan, namun dimensi waktu adalah pengamat yg jujur. Dia mengikuti setiap perkembangan & mencatatnya dengan rapi. Dia tahu, bahwa siklus di bumi serupa rantai akbar yg tak berujung. Dia tahu generasi lama akan berganti generasi baru. Dia tahu manusia akan lapuk bukan olehnya, tetapi oleh pergeseran siklus. Namun lagi-lagi, nampaknya manusia sering mengumpatnya dengan sebutan " termakan waktu". Padahal apa saja perubahan yg terjadi, adalah keniscayaan yg oleh alam dianggap sebuah siklus biasa.
Sesekali, rasanya manusia perlu merenung tentang apa yg sudah sebut keseimbangan itu. Nampaknya, beberapa hal yg kita anggap lumrah nyatanya oleh dimensi ruang ataupun waktu dianggap sebagai upaya mengganggu keseimbangan. Jadi, sudah sejauh mana keadaan kita sekarang? Apakah masih dapat hidup dengan peradaban tanpa merusak keseimbangan? Jawabnya tanyakan pada dimensi waktu. Pada akhirnya, kita akan menerima catatannya tentang segala kejadian di bumi.
Hari ini 09:36
Sejak permulaan penciptaannya, manusia & makhluk lainnya oleh Tuhan sudah dianugerahi dua dimensi pelengkap ; ruang & waktu. Dimensi yg senantiasa berdampingan dengan kehidupan ini adalah faktor eksternal yg sangat menentukan kelangsungan & kelestarian kehidupan.
Bumi tempat kita berpijak yg amat luas ini, adalah ruang tanpa batas (dalam pengertian untuk mengelolanya dibutuhkan human resources yg cukup) dimana manusia & makhluk lainnya saling berbagi peran untuk mengelolanya. Setiap makhluk hidup sudah memiliki porsinya sendiri. Sehingga bagian yg dimanfaatkan semestinya adalah bagian yg jadi porsinya saja. Keseimbangan di alam ini sudah diatur sedemikian rupa sehingga asas keadilan di bumi terpenuhi. Tidak akan ada satupun makhluk yg terabaikan & tidak akan ada yg mendapatkan porsi yg tidak semestinya. Itulah hukum alam mula-mula setelah penciptaannya.
Keseimbangan alam yg sudah lama terjaga dengan hukum seleksinya, kemudian jadi terganggu, atau bahkan menciptakan keseimbangan baru yg oleh alam sebenarnya adalah sebuah proses "pengrusakan" & manusia sebaliknya menganggap itu sebagai peradaban yg harus di terus bertumbuh.
Dimensi ruang yg awalnya baik-baik saja, kemudian merasa "hidupnya" terancam & mengerjakan perlawanan balik dengan cara melawan proses yg sedang berlangsung. Manusia yg kadung terobsesi pada mimpi peradabannya itu, kemudian mengumpat alam, yg merupakan perwujudan dari dimensi ruang, dengan sebutan "bencana alam". Sungguh ironis sebab disaat bersamaan, alam yg terancam keseimbangannya tidak pernah mengerjakan hal yg sama, semisal mengumpat manusia dengan "bencana manusia", alih-alih memilih mengembalikan keseimbangannya seperti semula.
Sementara itu, dimensi waktu pula yg merupakan saudara tua dimensi ruang adalah pencatat sejarah. Dia memperhatikan detil demi detil kejadian secara saksama & tak ada satupun yg luput. Demikianlah perannya yg menyaksikan berbagai peristiwa & tersimpat kuat dalam memorinya.
Meski tak langsung berdampak pada usaha mengembalikan keseimbangan, namun dimensi waktu adalah pengamat yg jujur. Dia mengikuti setiap perkembangan & mencatatnya dengan rapi. Dia tahu, bahwa siklus di bumi serupa rantai akbar yg tak berujung. Dia tahu generasi lama akan berganti generasi baru. Dia tahu manusia akan lapuk bukan olehnya, tetapi oleh pergeseran siklus. Namun lagi-lagi, nampaknya manusia sering mengumpatnya dengan sebutan " termakan waktu". Padahal apa saja perubahan yg terjadi, adalah keniscayaan yg oleh alam dianggap sebuah siklus biasa.
Sesekali, rasanya manusia perlu merenung tentang apa yg sudah sebut keseimbangan itu. Nampaknya, beberapa hal yg kita anggap lumrah nyatanya oleh dimensi ruang ataupun waktu dianggap sebagai upaya mengganggu keseimbangan. Jadi, sudah sejauh mana keadaan kita sekarang? Apakah masih dapat hidup dengan peradaban tanpa merusak keseimbangan? Jawabnya tanyakan pada dimensi waktu. Pada akhirnya, kita akan menerima catatannya tentang segala kejadian di bumi.
Hari ini 09:36