• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita "Manusia Akar" Muncul di Indonesia

facebookeb

IndoForum Senior A
No. Urut
210735
Sejak
9 Jan 2013
Pesan
7.471
Nilai reaksi
96
Poin
48
p3iD8.jpg
Sekitar 2007 silam, Indonesia dihebohkan munculnya Dede Koswara. Tubuh pria yang tinggal di Bandung, Jawa Barat itu dipenuhi kutil. Ia lantas disebut “manusia akar”. Kisah Dede bahkan sempat mendunia. Belakangan diketahui, penyakitnya muncul karena Human Papiloma Virus (HPV).

Kini, fenomena serupa kembali muncul. Penyakit itu menyerang Wasid, pemuda asal Kampung Pamatang Masjid, Kecamatan Saketi, Pandeglang, Banten. Tangan dan kakinya juga dipenuhi kutil yang menyerupai akar. Sudah lebih dari 20 tahun Wasid menanggung penyakit itu seorang diri.

Pertama kali, ia mengalami serangan aneh di usia sekitar 10 tahun. Wasid mengeluh tubuhnya dipenuhi gatal. Di kakinya, memang ada bintik-bintik merah. Namun itu tak terlalu dipedulikan. Keluarganya mengira, itu hanya bintik merah biasa. Nyatanya, gatal yang dialami Wasid makin hebat.

Bintik-bintik merah di kakinya pun membesar. Ia akhirnya dilarikan ke Puskesmas setempat. Rupanya Puskesmas tak berhasil menyembuhkan derita Wasid. Bintik merah di tubuhnya justru menjalar dan membesar. Tangannya pun mengalami hal serupa. Pasrah, Wasid pun membiarkan kondisi itu.

Pemuda 35 tahun itu tak berani bermimpi sembuh, karena kondisi keuangan tak mendukungnya. Wasid hanya seorang buruh. Ia bahkan tak bisa bekerja layaknya orang normal. Sebab, mendadak ia bisa terserang gatal dan pusing jika terlalu lama terkena air. Wasid merasa tak nyaman dengan dirinya sendiri.

Tak hanya itu, ia juga kerap disergap rasa rendah diri. Wasid malu dengan kondisinya. Ia tak berani bertemu banyak orang, bahkan memutuskan tidak menikah. Kini, sehari-hari Wasid hidup mengandalkan bantuan beras miskin yang disalurkan pemerintah desanya.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.