Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Bantuan dari pemerintah saat pandemi corona
Sejak adanya pandemi corona & diberlakukannya pembatasan-pembatasan ruang gerak masyarakat, pemerintah mengeluarkan beberapa bantuan untuk masyarakatnya yg terdampak covid itu kriterianya. Kalau menurut pandangan saya yg terdampak covid itu semua warga masyarakat tetapi disini yg menerima bantuan tersebut cuma orang-orang yg memenuhi kriteria-kriteria tertentu (saya tak tahu pasti apa kriterianya).
Bantuan yg ada dari pemerintah sejauh yg saya tahu adalah dana dari pemerintah pusat, propinsi & kabupaten. Nominalnya dari pemerintah pusat adalah Rp 600.000,00 (berupa uang) yg dari propinsi & kabupaten nominalnya sama yaitu sebesar Rp 200.000,00 (berupa sembako). Perolehan bantuan tersebut secara berkala dengan beberapa kali tahapan penerimaan tidak cuma satu kali saja.
Di atas cuma sebagai citra saja, yg harap saya kupas disini adalah serba-serbi cerita yg ada di masyarakat berkaitan dengan bantuan tersebut. Saya tidak akan mengkritisi kebijakan pemerintah sudah benar atau belum karena itu bukan tugas saya (tugas para politikus). Saya cuma harap menceritakan kejadian yg ada di masyarakat dengan adanya bantuan tersebut & para pengurus bantuan tersebut (di sini tentu pihak pemerintah desa yg kebagian repotnya karena tingkat pemerintah yg paling rendah & dekat dengan masyarakat)
Kisah pertama
Saat itu cuma satu bantuan yg turun ke masyarakat & itu pun cuma berupa kartu pengambilan saja belum ada barangnya. Masyarakat sudah heboh semua, yg dapat kartu apalagi yg tidak dapat kartunya. Sampai ada kisah yg langsung mampir ke telinga, salah satu warga yg sudah dapat kartu tersebut secara langsung mempertanyakan ke saya "dapat apa nanti? Dan berapa lama?"
Serta pertanyaan-pertanyaan lain yg menciptakan saya jengah sendiri.
Bagaimana tidak jengah, saya bukan petugas pemberi bantuan ataupun pegawai pemerintah tetapi pertanyaan ditujukan ke saya seolah-olah saya tahu semuanya. Karena gemes juga saya jawab dengan agak emosi "alhamdulillah, sudah dapat bantuan walau apapun bentuk rupanya serta berapa lama daripada warga lain yg ada yg tidak dapat bantuan". Sontak terdiam warga tersebut, & saya tinggal pergi.
Kisah kedua
Seorang warga yg mendapatkan bantuan berupa sembako (beras 10kg, telur 1kg, kecap serta minyak goreng) masih menanyakan gas nya ikut kok ga ada? Dan masih orang sama dengan diterimanya bantuan kedua menanyakan apakah sembako yg diterima saat itu sesuai dengan nominal Rp 200.000,00 ?
Kisah Empat
Orang yg menerima bantuan sembako harap mendapatkan bantuan yg berupa uang tunai & sebaliknya yg mendapat bantuan berupa uang tunai harap mendapatkan bantuan berupa sembako.
Kisah Kelima
Warga yg mendapatkan bantuan seolah tidak butuh bantuan tersebut dengan datang ke letak pengambilan bantuan sangat telat. Karena seperti yg tertera diundangan pengambilan dimulai jam 08.00 hingga 11.00 tetapi hingga waktu yg tertulis belum juga datang hingga salah satu petugas mencari keberadaan orang tersebut & ditanyai mau mengambil atau tidak ?
Dari semua kisah di atas saya cuma harap mengambil pelajaran (untuk diri saya sendiri tentu saja & mengingatkan bersama pembaca semua) yg sangat sepele tetapi tidak dapat dilihat oleh orang-orang tersebut yaitu rasa syukur. Mereka tidak ada rasa syukur sama sekali atas rejeki yg sudah mereka dapat apapun itu bentuknya & tidak perlu susah payah untuk mencari cuma datang. Dan tidak semua warga mendapatkan bantuan tersebut cuma orang-orang tertentu saja berdasarkan kriteria pemerintah, harusnya bersyukur karena jadi salah satu orang terpilih itu. Mereka (penerima bantuan yg protes) juga tidak melihat bagaimana proses panjang sehingga mereka dapat mendapat bantuan tersebut ? Perjuangan petugas yg hampir tiap malam lembur demi memikirkan nasib para warganya (meninggalkan anak istri di rumah/merelakan waktu berkumpul dengan keluarga). Petugas mendapatkan bayaran? Kalau bayaran karena jadi petugas mengurusi bantuan itu sama sekali tidak dapat, keluarga & bahkan petugas sendiri tidak dapat bantuan tersebut. Masih juga menerima komplain dari masyarakat.
Rasa syukur atas sedap yg sudah diberi kepada kita adalah sangatlah penting. Tidak usah perlu bingung cari sedap apa emang yg sudah ku dapat hari ini, pasti akan timbul pertanyaan tersebut "aku ga dapat apa-apa hari ini ?"
JANGAN PERNAH LUPAKAN KALAU SEHAT ADALAH NIKMAT YANG TIDAK AKAN BISA TERGANTIKAN !!!
Kisah di atas adalah nyata ada di masyarakat bukan rekayasa. Saya menciptakan tulisan ini hanyalah harap mengeluarkan unek-unek saya supaya tidak jadi enek. Maaf bila ada yg tidak berkenan atau ada yg tersinggung bukan maksud untuk mengkritisi kebijakan pemerintah tetapi cuma menceritakan realita yg ada di masyarakat dengan adanya bantuan dari pemerintah karena pandemi saat ini.
Narasi tulisan murni opini pribadi
Ilustrasi gambar milik pribadi
Spesial buat keluargaku, perjuangan tidak cuma melulu mencari materi
270620
#ummuza Hari ini 02:12
Sejak adanya pandemi corona & diberlakukannya pembatasan-pembatasan ruang gerak masyarakat, pemerintah mengeluarkan beberapa bantuan untuk masyarakatnya yg terdampak covid itu kriterianya. Kalau menurut pandangan saya yg terdampak covid itu semua warga masyarakat tetapi disini yg menerima bantuan tersebut cuma orang-orang yg memenuhi kriteria-kriteria tertentu (saya tak tahu pasti apa kriterianya).
Bantuan yg ada dari pemerintah sejauh yg saya tahu adalah dana dari pemerintah pusat, propinsi & kabupaten. Nominalnya dari pemerintah pusat adalah Rp 600.000,00 (berupa uang) yg dari propinsi & kabupaten nominalnya sama yaitu sebesar Rp 200.000,00 (berupa sembako). Perolehan bantuan tersebut secara berkala dengan beberapa kali tahapan penerimaan tidak cuma satu kali saja.
Di atas cuma sebagai citra saja, yg harap saya kupas disini adalah serba-serbi cerita yg ada di masyarakat berkaitan dengan bantuan tersebut. Saya tidak akan mengkritisi kebijakan pemerintah sudah benar atau belum karena itu bukan tugas saya (tugas para politikus). Saya cuma harap menceritakan kejadian yg ada di masyarakat dengan adanya bantuan tersebut & para pengurus bantuan tersebut (di sini tentu pihak pemerintah desa yg kebagian repotnya karena tingkat pemerintah yg paling rendah & dekat dengan masyarakat)
Kisah pertama
Saat itu cuma satu bantuan yg turun ke masyarakat & itu pun cuma berupa kartu pengambilan saja belum ada barangnya. Masyarakat sudah heboh semua, yg dapat kartu apalagi yg tidak dapat kartunya. Sampai ada kisah yg langsung mampir ke telinga, salah satu warga yg sudah dapat kartu tersebut secara langsung mempertanyakan ke saya "dapat apa nanti? Dan berapa lama?"
Serta pertanyaan-pertanyaan lain yg menciptakan saya jengah sendiri.
Bagaimana tidak jengah, saya bukan petugas pemberi bantuan ataupun pegawai pemerintah tetapi pertanyaan ditujukan ke saya seolah-olah saya tahu semuanya. Karena gemes juga saya jawab dengan agak emosi "alhamdulillah, sudah dapat bantuan walau apapun bentuk rupanya serta berapa lama daripada warga lain yg ada yg tidak dapat bantuan". Sontak terdiam warga tersebut, & saya tinggal pergi.
Kisah kedua
Seorang warga yg mendapatkan bantuan berupa sembako (beras 10kg, telur 1kg, kecap serta minyak goreng) masih menanyakan gas nya ikut kok ga ada? Dan masih orang sama dengan diterimanya bantuan kedua menanyakan apakah sembako yg diterima saat itu sesuai dengan nominal Rp 200.000,00 ?
Kisah Empat
Orang yg menerima bantuan sembako harap mendapatkan bantuan yg berupa uang tunai & sebaliknya yg mendapat bantuan berupa uang tunai harap mendapatkan bantuan berupa sembako.
Kisah Kelima
Warga yg mendapatkan bantuan seolah tidak butuh bantuan tersebut dengan datang ke letak pengambilan bantuan sangat telat. Karena seperti yg tertera diundangan pengambilan dimulai jam 08.00 hingga 11.00 tetapi hingga waktu yg tertulis belum juga datang hingga salah satu petugas mencari keberadaan orang tersebut & ditanyai mau mengambil atau tidak ?
Dari semua kisah di atas saya cuma harap mengambil pelajaran (untuk diri saya sendiri tentu saja & mengingatkan bersama pembaca semua) yg sangat sepele tetapi tidak dapat dilihat oleh orang-orang tersebut yaitu rasa syukur. Mereka tidak ada rasa syukur sama sekali atas rejeki yg sudah mereka dapat apapun itu bentuknya & tidak perlu susah payah untuk mencari cuma datang. Dan tidak semua warga mendapatkan bantuan tersebut cuma orang-orang tertentu saja berdasarkan kriteria pemerintah, harusnya bersyukur karena jadi salah satu orang terpilih itu. Mereka (penerima bantuan yg protes) juga tidak melihat bagaimana proses panjang sehingga mereka dapat mendapat bantuan tersebut ? Perjuangan petugas yg hampir tiap malam lembur demi memikirkan nasib para warganya (meninggalkan anak istri di rumah/merelakan waktu berkumpul dengan keluarga). Petugas mendapatkan bayaran? Kalau bayaran karena jadi petugas mengurusi bantuan itu sama sekali tidak dapat, keluarga & bahkan petugas sendiri tidak dapat bantuan tersebut. Masih juga menerima komplain dari masyarakat.
Rasa syukur atas sedap yg sudah diberi kepada kita adalah sangatlah penting. Tidak usah perlu bingung cari sedap apa emang yg sudah ku dapat hari ini, pasti akan timbul pertanyaan tersebut "aku ga dapat apa-apa hari ini ?"
JANGAN PERNAH LUPAKAN KALAU SEHAT ADALAH NIKMAT YANG TIDAK AKAN BISA TERGANTIKAN !!!
Kisah di atas adalah nyata ada di masyarakat bukan rekayasa. Saya menciptakan tulisan ini hanyalah harap mengeluarkan unek-unek saya supaya tidak jadi enek. Maaf bila ada yg tidak berkenan atau ada yg tersinggung bukan maksud untuk mengkritisi kebijakan pemerintah tetapi cuma menceritakan realita yg ada di masyarakat dengan adanya bantuan dari pemerintah karena pandemi saat ini.
Narasi tulisan murni opini pribadi
Ilustrasi gambar milik pribadi
Spesial buat keluargaku, perjuangan tidak cuma melulu mencari materi
270620
#ummuza Hari ini 02:12