XiaoYanZi
IndoForum Beginner A
- No. Urut
- 144616
- Sejak
- 14 Jul 2011
- Pesan
- 1.118
- Nilai reaksi
- 38
- Poin
- 48
TRIBUNNEWS.COM -Geger terjadi di Jl Cokroatmojo, Kelurahan Parteker Pamekasan, Minggu (7/8/2011) dini hari. Seorang maling burung nyaris tewas dirajam warga, sedangkan dua lainnya nekat melancarkan perang batu meski sudah terkepung ratusan warga.
Insiden itu terjadi, Minggu dini hari atau sekitar 01.15 WIB. Saat itu, ada empat pria mengendap-endap masuk rumah Mohammad Farid (43) di Jl Cokroatmojo. Mereka adalah Atun Pak Dul Bari (45); Fatlah Pak Saiful (35) serta Idrisi, ketiganya warga Kampung Rembangan, Desa Pragaan Daja, Kecamatan Pragaan, Sumenep; Wasil (35), warga Kampung Tamanan, Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan Sumenep, residivis yang baru enam bulan keluar dari tahanan Sumenep.
Menurut keterangan warga, keempat orang itu dengan tenang masuk ke rumah Farid yang saat itu tidur lelap. Keempat tamu tak diundang itu langsung mengambil sangkar yang berisi sepasang burung cinta (lovebird) induk yang harganya sekitar Rp 10 juta.
Tanpa diduga keempat maling itu, aksi mereka diawasi H Sukar, tetangga sebelah Farid, yang sejak awal curiga menyaksikan gelagat keempat orang itu. Begitu yakin mereka maling, Sukar langsung berteriak ‘maling’ sekuat tenaga. Selain membangunkan pemilik rumah, teriakan Sukar itu juga membangunkan warga.
Kontan keempat maling itu lari lintang pukang. Atun dan Fatlah lari ke arah Jl Parteker, sedangkan Wasil dan Idrisi lari ke arah lain. Rupanya Atun dan Fatlah lari ke arah yang salah, karena di depan mereka ada beberapa orang nongkrong. Keduanya melompat pagar rumah seorang warga di belakang SMA Wahid Hasyim. Untuk menghindari sergapan, pasangan maling itu justru masuk ke gang buntu.
Sementara itu, para warga, laki-laki dan perempuan, semakin banyak berdatangan mengepung lokasi kedua pria itu. Ternyata Atun dan Fatlah kemudian kabur Jl Cokroatmojo IX dan naik ke atap rumah salah satu warga.
Rupanya Atun dan Fatlah tidak mau menyerah begitu saja, meski sudah dipaksa warga. Mereka malah melancarkan perang dengan melemparkan batu bata ke arah warga. Warga pun langsung menyambut tantangan itu dengan melempar balik. Perang batu tak berlangsung lama karena kedua maling itu akhirnya menyerah dan turun.
Tetapi, sampai di bawah, warga sudah menunggu dan akhirnya menghujani mereka dengan bogem mentah, hingga babak belur. Mujur bagi mereka, karena Kapolsek Kota, AKP Mustaghfir dan sejumlah anggotanya tiba di lokasi dan menyelamatkan keduanya dari amuk massa.
Dari interogasi singkat, diketahui nama Wasil dan Idrisi. Namun, polisi yang mendatangi rumah Wasil tidak menemukan pria itu, termasuk di tempat persembunyiannya di Prenduan. Begitu juga dengan Idrisi.
Sementara itu, warga masih berkerumun di lokasi kejadian, karena yakin Wasil dan Idrisi masih bersembunyi di sekitar tempat itu. Dugaan mereka benar. Sekitar pukul 06.15 WIB, Ny Sahratus, warga Jl Cokrotmojo IX, datang dari pasar menyalakan keran air di sumur rumahnya.
Ketika melongok ke bawah, di sumur berkedalaman 7 meter, Ny Sahratus melihat Wasil berdiri di dasar sumur. “Saya yakin, orang di dalam sumur itu pencuri yang dicari-cari warga,” kata Ny Sahratus.
Kemudian Ny Sahratus memberitahu warga. Tak ayal lagi, puluhan warga datang dan meminta Wasil naik, tapi tidak mau. Akhirnya warga melempari Wasil dengan batu bata, hingga tubuh Wasil remuk.
Ipu Arif, salah seorang anggota Polres Pamekasan yang berada di lokasi mencegah tindakan warga yang sudah tersulut emosi. “Tolong jangan main hakim sendiri. Pasrahkan kepada kami,” kata Iptu Arif.
Selanjutnya Wasil dibawa ke Polsek Kota dimintai keterangan. Sedang Atun dan Fatlah, dibawa ke Puskesmas untuk dijahit kepalanya yang robek.
Tertangkapnya ketiga tersangka itu juga sampai ke Desa Prenduan, Sumenep. Puluhan warga Prenduan pemilik lovebird yang selama mengaku burungnya hilang mendatangi Polsek Kota. “Benar Pak, ini malingnya yang sering beraksi di desa kami,” kata salah seorang warga.
Dikatakan, dua hari sebelum beraksi, Jumat (5/8/2011) dini hari lalu, Wasil dikejar warga Prenduan, kepergok mencuri burung lovebird di rumah Lukman, namun Wasil kabur.
Kapolsek Kota, AKP Mustaghfir, yang dimintai konfirmasinya mengatakan, kini ketiga tersangka masih dimintai keterangan di Mapolsek. Sedang salah seorang temannya yang kabur, masih dalam pengejaran petugas.
Di Indonesia, lovebird juga disebut burung cinta atau burung bercinta. Daya tarik utama burung berparuh bengkok yang mirip nuri kecil ini terletak pada warna, tingkah polah dan kicauannya. Beberapa tahun terakhir burung ini makin banyak penggemarnya, sehingga harganya pun terus naik hingga jutaan rupiah.
Insiden itu terjadi, Minggu dini hari atau sekitar 01.15 WIB. Saat itu, ada empat pria mengendap-endap masuk rumah Mohammad Farid (43) di Jl Cokroatmojo. Mereka adalah Atun Pak Dul Bari (45); Fatlah Pak Saiful (35) serta Idrisi, ketiganya warga Kampung Rembangan, Desa Pragaan Daja, Kecamatan Pragaan, Sumenep; Wasil (35), warga Kampung Tamanan, Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan Sumenep, residivis yang baru enam bulan keluar dari tahanan Sumenep.
Menurut keterangan warga, keempat orang itu dengan tenang masuk ke rumah Farid yang saat itu tidur lelap. Keempat tamu tak diundang itu langsung mengambil sangkar yang berisi sepasang burung cinta (lovebird) induk yang harganya sekitar Rp 10 juta.
Tanpa diduga keempat maling itu, aksi mereka diawasi H Sukar, tetangga sebelah Farid, yang sejak awal curiga menyaksikan gelagat keempat orang itu. Begitu yakin mereka maling, Sukar langsung berteriak ‘maling’ sekuat tenaga. Selain membangunkan pemilik rumah, teriakan Sukar itu juga membangunkan warga.
Kontan keempat maling itu lari lintang pukang. Atun dan Fatlah lari ke arah Jl Parteker, sedangkan Wasil dan Idrisi lari ke arah lain. Rupanya Atun dan Fatlah lari ke arah yang salah, karena di depan mereka ada beberapa orang nongkrong. Keduanya melompat pagar rumah seorang warga di belakang SMA Wahid Hasyim. Untuk menghindari sergapan, pasangan maling itu justru masuk ke gang buntu.
Sementara itu, para warga, laki-laki dan perempuan, semakin banyak berdatangan mengepung lokasi kedua pria itu. Ternyata Atun dan Fatlah kemudian kabur Jl Cokroatmojo IX dan naik ke atap rumah salah satu warga.
Rupanya Atun dan Fatlah tidak mau menyerah begitu saja, meski sudah dipaksa warga. Mereka malah melancarkan perang dengan melemparkan batu bata ke arah warga. Warga pun langsung menyambut tantangan itu dengan melempar balik. Perang batu tak berlangsung lama karena kedua maling itu akhirnya menyerah dan turun.
Tetapi, sampai di bawah, warga sudah menunggu dan akhirnya menghujani mereka dengan bogem mentah, hingga babak belur. Mujur bagi mereka, karena Kapolsek Kota, AKP Mustaghfir dan sejumlah anggotanya tiba di lokasi dan menyelamatkan keduanya dari amuk massa.
Dari interogasi singkat, diketahui nama Wasil dan Idrisi. Namun, polisi yang mendatangi rumah Wasil tidak menemukan pria itu, termasuk di tempat persembunyiannya di Prenduan. Begitu juga dengan Idrisi.
Sementara itu, warga masih berkerumun di lokasi kejadian, karena yakin Wasil dan Idrisi masih bersembunyi di sekitar tempat itu. Dugaan mereka benar. Sekitar pukul 06.15 WIB, Ny Sahratus, warga Jl Cokrotmojo IX, datang dari pasar menyalakan keran air di sumur rumahnya.
Ketika melongok ke bawah, di sumur berkedalaman 7 meter, Ny Sahratus melihat Wasil berdiri di dasar sumur. “Saya yakin, orang di dalam sumur itu pencuri yang dicari-cari warga,” kata Ny Sahratus.
Kemudian Ny Sahratus memberitahu warga. Tak ayal lagi, puluhan warga datang dan meminta Wasil naik, tapi tidak mau. Akhirnya warga melempari Wasil dengan batu bata, hingga tubuh Wasil remuk.
Ipu Arif, salah seorang anggota Polres Pamekasan yang berada di lokasi mencegah tindakan warga yang sudah tersulut emosi. “Tolong jangan main hakim sendiri. Pasrahkan kepada kami,” kata Iptu Arif.
Selanjutnya Wasil dibawa ke Polsek Kota dimintai keterangan. Sedang Atun dan Fatlah, dibawa ke Puskesmas untuk dijahit kepalanya yang robek.
Tertangkapnya ketiga tersangka itu juga sampai ke Desa Prenduan, Sumenep. Puluhan warga Prenduan pemilik lovebird yang selama mengaku burungnya hilang mendatangi Polsek Kota. “Benar Pak, ini malingnya yang sering beraksi di desa kami,” kata salah seorang warga.
Dikatakan, dua hari sebelum beraksi, Jumat (5/8/2011) dini hari lalu, Wasil dikejar warga Prenduan, kepergok mencuri burung lovebird di rumah Lukman, namun Wasil kabur.
Kapolsek Kota, AKP Mustaghfir, yang dimintai konfirmasinya mengatakan, kini ketiga tersangka masih dimintai keterangan di Mapolsek. Sedang salah seorang temannya yang kabur, masih dalam pengejaran petugas.
Di Indonesia, lovebird juga disebut burung cinta atau burung bercinta. Daya tarik utama burung berparuh bengkok yang mirip nuri kecil ini terletak pada warna, tingkah polah dan kicauannya. Beberapa tahun terakhir burung ini makin banyak penggemarnya, sehingga harganya pun terus naik hingga jutaan rupiah.