Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Malam Satu Suro
sumber: www. Alinea.id
Masih ingat tentang film malam satu suro? Jika kita pernah nonton pasti masih melekat bagaimana ceritanya.
Malam Satu Suro adalah film horor romantis Indonesia tahun 1988 yg disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra & dibintangi oleh Suzanna & Fendy Pradana.
Malam keramat identik dengan mahluk halus. Tentu saja yg terbayang di benak adalah manusia mati, gentayangan jadi pocong, kuntilanak, genderuwo & sejenisnya.
Sangat berkelindan dengan rasa takut, bulu kuduk berdiri, suara ngeri, kilatan cahaya di malam gelap, hujan rintik & lain-lain.
Pada masanya, film Malam Satu Suro sempat viral (istilah anak sekarang). Setelah itu lenyap ditelan masa. Lalu apa yg tersisa? Tentu saja cuma cerita.
Pada kenyataannya, di beberapa akbar daerah di Indonesia malam satu suro. Sebagian akbar masyarakat Jawa khususnya di pulau Jawa. Malam satu suro masih dianggap sebagai malam istimewa.
Entah bagaimana asal mulanya, bila datang malam satu suro mereka yg memiliki barang yg dikeramatkan ada yg dimandikan, diasap, digantikain kuningnya, & lain-lain. Menurut kepercayaan mereka kalau tak diruwat (dirawat) barang tersebut akan mendatangkan malapetaka bagi pemiliknya.
Pertanyaannya, mengapa barang yg mendatangkan malapetaka dipelihara?
Di berbagai daerah banyak tradisi memperingati Tahun Baru Jawa sekaligus Islam ini. Sementara itu, di lingkungan Keraton Surakarta & Yogyakarta, beragam ritual & kirab digelar. Ramai & semarak. Kondisi begini masih berlangsung hingga saat ini. Bahkan ditinggkatkan guna menarik wisatawan. Begitulh kebiasaan.
Nyadran
ilustrasi
Awal Ramadhan, bagi beberapa masyarakat di indonesia diperingati dengan acara macam-macam. Ada yg namanya ruwahan, megang, muegang, padusan, malamang, dll.
Katanya nyadran adalah hasil akulturasi budaya Jawa dengan Islam. Entah siapa yg perdana kali mempopulerkan bahwa seremoni ini adalah akulturasi Jawa & Islam? Nyadran diadakan satu bulan sebelum dimulainya puasa, atau pada 15, 20, & 23 Ruwah.
Di Pulau Jawa, biasanya nyadran dilakukan dengan membersihkan makam orang tua atau keluarga lalu mendoakannya. Di daerah lain, di Kalimantan misalnya, mereka tidak mengenal nyadran. Pun begitu tetap saja saat sehari sebelum Ramadhan, banyak yg tadang ke kubur. Terutama kubur orang tua atau leluhur mereka.
Sebagian ada yg datang dengan membacakan yasin, menabur bunga, serta membersihkan areal pekuburan.
Masyarakat yg mengerjakan tradisi Nyadran percaya, membersihkan makam adalah simbol dari pembersihan diri menjelang Bulan Suci. Bukan cuma hubungan manusia dengan Sang Pencipta, Nyadran dilakukan sebagai bentuk bakti kepada para pendahulu & leluhur.
Di pulau Jawa, setelah nyadran biasanya ada acara kenduri atau makan bersama.
Ada pun yg paling menggeltik dari akhir proses ini, ada beberapa masyarakat yg mengerjakan ritual sambungan dari Nyadran. Katanya supaya doa & permohonan mereka terkabul harus ada acara selamatan.
Padahal kita tahu, malam itu adalah malam perdana Ramadhan. Bagi umat islam setelah salat Isya mereka melaksanakan terawih di surau atau masjid.
Benar mengatakan orang pintar, apa yg ada di kepala itulah yg terpikirkan. Apa yg ada di hati itulah yg memberi perintah untuk dilaksanakan.
Akhirnya bagaimana malam satu suro jadi keramat, begitu juga dengan malam awal ramadhan juga dianggap keramat merupakan hasil penalaran mereka belaka.
Terlepas dari benar salahnya, terlepas dari terkabul hajat atau keharapannya tetap saja dua malam, malam satu suro & malam awal ramdhan dianggap keramat (bertuah) untuk benda-benda keramat yg mereka punya. Juga hajat atau keharapan yg dipanjatkan terkabul (terlaksana).
Wallahu a'lam.
Kemarin 20:38
sumber: www. Alinea.id
Masih ingat tentang film malam satu suro? Jika kita pernah nonton pasti masih melekat bagaimana ceritanya.
Malam Satu Suro adalah film horor romantis Indonesia tahun 1988 yg disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra & dibintangi oleh Suzanna & Fendy Pradana.
Malam keramat identik dengan mahluk halus. Tentu saja yg terbayang di benak adalah manusia mati, gentayangan jadi pocong, kuntilanak, genderuwo & sejenisnya.
Sangat berkelindan dengan rasa takut, bulu kuduk berdiri, suara ngeri, kilatan cahaya di malam gelap, hujan rintik & lain-lain.
Pada masanya, film Malam Satu Suro sempat viral (istilah anak sekarang). Setelah itu lenyap ditelan masa. Lalu apa yg tersisa? Tentu saja cuma cerita.
Pada kenyataannya, di beberapa akbar daerah di Indonesia malam satu suro. Sebagian akbar masyarakat Jawa khususnya di pulau Jawa. Malam satu suro masih dianggap sebagai malam istimewa.
Entah bagaimana asal mulanya, bila datang malam satu suro mereka yg memiliki barang yg dikeramatkan ada yg dimandikan, diasap, digantikain kuningnya, & lain-lain. Menurut kepercayaan mereka kalau tak diruwat (dirawat) barang tersebut akan mendatangkan malapetaka bagi pemiliknya.
Pertanyaannya, mengapa barang yg mendatangkan malapetaka dipelihara?
Di berbagai daerah banyak tradisi memperingati Tahun Baru Jawa sekaligus Islam ini. Sementara itu, di lingkungan Keraton Surakarta & Yogyakarta, beragam ritual & kirab digelar. Ramai & semarak. Kondisi begini masih berlangsung hingga saat ini. Bahkan ditinggkatkan guna menarik wisatawan. Begitulh kebiasaan.
Nyadran
ilustrasi
Awal Ramadhan, bagi beberapa masyarakat di indonesia diperingati dengan acara macam-macam. Ada yg namanya ruwahan, megang, muegang, padusan, malamang, dll.
Katanya nyadran adalah hasil akulturasi budaya Jawa dengan Islam. Entah siapa yg perdana kali mempopulerkan bahwa seremoni ini adalah akulturasi Jawa & Islam? Nyadran diadakan satu bulan sebelum dimulainya puasa, atau pada 15, 20, & 23 Ruwah.
Di Pulau Jawa, biasanya nyadran dilakukan dengan membersihkan makam orang tua atau keluarga lalu mendoakannya. Di daerah lain, di Kalimantan misalnya, mereka tidak mengenal nyadran. Pun begitu tetap saja saat sehari sebelum Ramadhan, banyak yg tadang ke kubur. Terutama kubur orang tua atau leluhur mereka.
Sebagian ada yg datang dengan membacakan yasin, menabur bunga, serta membersihkan areal pekuburan.
Masyarakat yg mengerjakan tradisi Nyadran percaya, membersihkan makam adalah simbol dari pembersihan diri menjelang Bulan Suci. Bukan cuma hubungan manusia dengan Sang Pencipta, Nyadran dilakukan sebagai bentuk bakti kepada para pendahulu & leluhur.
Di pulau Jawa, setelah nyadran biasanya ada acara kenduri atau makan bersama.
Ada pun yg paling menggeltik dari akhir proses ini, ada beberapa masyarakat yg mengerjakan ritual sambungan dari Nyadran. Katanya supaya doa & permohonan mereka terkabul harus ada acara selamatan.
Padahal kita tahu, malam itu adalah malam perdana Ramadhan. Bagi umat islam setelah salat Isya mereka melaksanakan terawih di surau atau masjid.
Benar mengatakan orang pintar, apa yg ada di kepala itulah yg terpikirkan. Apa yg ada di hati itulah yg memberi perintah untuk dilaksanakan.
Akhirnya bagaimana malam satu suro jadi keramat, begitu juga dengan malam awal ramadhan juga dianggap keramat merupakan hasil penalaran mereka belaka.
Terlepas dari benar salahnya, terlepas dari terkabul hajat atau keharapannya tetap saja dua malam, malam satu suro & malam awal ramdhan dianggap keramat (bertuah) untuk benda-benda keramat yg mereka punya. Juga hajat atau keharapan yg dipanjatkan terkabul (terlaksana).
Wallahu a'lam.
Kemarin 20:38