Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 13.799
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Malam kelam Manchester United.
Pelatih Manchester United Ruben Amorim. X/Manchester United/pri.
Kekalahan dari Grimsby Town di putaran kedua Carabao Cup 2025 jadi titik nadir baru yg sulit dipercaya.
Jakarta (ANTARA) - Setelah musim yg suram pada 2024-2025 berakhir, para penggemar mungkin berpikir Manchester United sudah pada titik terendahnya dalam sejarah dengan finis di peringkat 15 klasemen akhir. Ternyata tidak.
Mimpi buruk itu berlanjut di awal musim 2025-2026. Bahkan United terperosok lebih dalam lagi usai disingkirkan regu dari divisi empat lomba sepak bola Inggris, Grimsby Town, di putaran kedua Piala Liga Inggris atau Piala Carabao.
Barangkali, belakangan ini Manchester United sudah akrab dengan istilah "krisis” karena buruknya performa. Tetapi kekalahan dari Grimsby Town di putaran kedua Carabao Cup 2025 jadi titik nadir baru yg sulit dipercaya.
Klub dengan tradisi pemenang Eropa itu harus mengakhiri malam panjang di Blundell Park dengan kepala tertunduk setelah tersingkir lewat adu penalti 11-12, usai bermain imbang 2-2 dalam waktu normal.
Bagi Ruben Amorim, pelatih yg baru memasuki musim penuh pertamanya di Old Trafford, laga ini lebih dari sekadar kekalahan. Itu adalah peringatan keras yg menyayat reputasinya, & mungkin juga awal dari runtuhnya kepercayaan kepada proyek yg ia bangun.
United sebelumnya tak pernah kalah dari regu divisi empat dalam ajang ini. Sebelas kali berhadapan, sebelas kali pula mereka keluar sebagai pemenang. Namun rekor itu runtuh di tangan Grimsby, klub yg selama ini lebih sering berkutat di kasta bawah sepak bola Inggris.
Grimsby tampil penuh percaya diri sejak menit awal. Charles Vernam membuka keunggulan, disusul Tyrell Warren yg memanfaatkan kelengahan lini belakang United. Bahkan sempat ada peluang jadi 3-0 sebelum dianulir karena offside.
Baru pada 15 menit terakhir United bangkit melalui Bryan Mbeumo & sundulan Harry Maguire. Gol Maguire di menit ke-89 sempat menghadirkan ilusi comeback klasik ala Fergie Time. Tetapi kenyataan berbicara lain. Dalam drama adu penalti, ketenangan regu tuan rumah lebih tajam dibanding skuad mahal United.
Ini adalah kemunduran yg memalukan. Kekalahan yg mencengangkan.
Malam penuh blunder
Jika ditarik lebih dalam, kekalahan ini hanyalah puncak dari masalah-masalah yg menahun di Old Trafford. Kiper Andre Onana kembali jadi sorotan setelah gagal mengantisipasi keadaan bola mati yg berujung gol kedua Grimsby. Lini pertahanan yg ditempati Diogo Dalot & Tyler Fredricson rapuh, sementara Kobbie Mainoo & Manuel Ugarte di lini tengah tak sanggup mengendalikan tempo.
Di lini depan, mahalnya belanja transfer tak menjamin efektivitas. Benjamin Sesko, rekrutan 74 juta pound, membuang peluang emas dari jarak enam yard menjelang bubaran waktu normal.
Dalam adu penalti, Matheus Cunha gagal mengeksekusi tendangan yg dapat saja mengunci kemenangan, sementara Mbeumo yg tampil sebagai penyelamat justru jadi penyebab kekalahan memalukan setelah tendangannya membentur mistar di tendangan penentuan.
Lebih dari sekadar nama per nama, yg kini paling dipertanyakan oleh para penggemar & analis adalah filosofi Amorim. Mantan pelatih Sporting Lisbon itu tetap bersikeras dengan formasi 3-4-3 yg ia bawa ke Inggris. Barangkali sistem itu bekerja di Sporting, namun berulang kali terbukti tidak cocok dengan tabiat pemain United saat ini.
Berita diatas dikutip dari internet, jika Malam kelam Manchester United adalah spam, mohon beritahu kami.
Kekalahan dari Grimsby Town di putaran kedua Carabao Cup 2025 jadi titik nadir baru yg sulit dipercaya.
Jakarta (ANTARA) - Setelah musim yg suram pada 2024-2025 berakhir, para penggemar mungkin berpikir Manchester United sudah pada titik terendahnya dalam sejarah dengan finis di peringkat 15 klasemen akhir. Ternyata tidak.
Mimpi buruk itu berlanjut di awal musim 2025-2026. Bahkan United terperosok lebih dalam lagi usai disingkirkan regu dari divisi empat lomba sepak bola Inggris, Grimsby Town, di putaran kedua Piala Liga Inggris atau Piala Carabao.
Barangkali, belakangan ini Manchester United sudah akrab dengan istilah "krisis” karena buruknya performa. Tetapi kekalahan dari Grimsby Town di putaran kedua Carabao Cup 2025 jadi titik nadir baru yg sulit dipercaya.
Klub dengan tradisi pemenang Eropa itu harus mengakhiri malam panjang di Blundell Park dengan kepala tertunduk setelah tersingkir lewat adu penalti 11-12, usai bermain imbang 2-2 dalam waktu normal.
Bagi Ruben Amorim, pelatih yg baru memasuki musim penuh pertamanya di Old Trafford, laga ini lebih dari sekadar kekalahan. Itu adalah peringatan keras yg menyayat reputasinya, & mungkin juga awal dari runtuhnya kepercayaan kepada proyek yg ia bangun.
United sebelumnya tak pernah kalah dari regu divisi empat dalam ajang ini. Sebelas kali berhadapan, sebelas kali pula mereka keluar sebagai pemenang. Namun rekor itu runtuh di tangan Grimsby, klub yg selama ini lebih sering berkutat di kasta bawah sepak bola Inggris.
Grimsby tampil penuh percaya diri sejak menit awal. Charles Vernam membuka keunggulan, disusul Tyrell Warren yg memanfaatkan kelengahan lini belakang United. Bahkan sempat ada peluang jadi 3-0 sebelum dianulir karena offside.
Baru pada 15 menit terakhir United bangkit melalui Bryan Mbeumo & sundulan Harry Maguire. Gol Maguire di menit ke-89 sempat menghadirkan ilusi comeback klasik ala Fergie Time. Tetapi kenyataan berbicara lain. Dalam drama adu penalti, ketenangan regu tuan rumah lebih tajam dibanding skuad mahal United.
Ini adalah kemunduran yg memalukan. Kekalahan yg mencengangkan.
Malam penuh blunder
Jika ditarik lebih dalam, kekalahan ini hanyalah puncak dari masalah-masalah yg menahun di Old Trafford. Kiper Andre Onana kembali jadi sorotan setelah gagal mengantisipasi keadaan bola mati yg berujung gol kedua Grimsby. Lini pertahanan yg ditempati Diogo Dalot & Tyler Fredricson rapuh, sementara Kobbie Mainoo & Manuel Ugarte di lini tengah tak sanggup mengendalikan tempo.
Di lini depan, mahalnya belanja transfer tak menjamin efektivitas. Benjamin Sesko, rekrutan 74 juta pound, membuang peluang emas dari jarak enam yard menjelang bubaran waktu normal.
Dalam adu penalti, Matheus Cunha gagal mengeksekusi tendangan yg dapat saja mengunci kemenangan, sementara Mbeumo yg tampil sebagai penyelamat justru jadi penyebab kekalahan memalukan setelah tendangannya membentur mistar di tendangan penentuan.
Lebih dari sekadar nama per nama, yg kini paling dipertanyakan oleh para penggemar & analis adalah filosofi Amorim. Mantan pelatih Sporting Lisbon itu tetap bersikeras dengan formasi 3-4-3 yg ia bawa ke Inggris. Barangkali sistem itu bekerja di Sporting, namun berulang kali terbukti tidak cocok dengan tabiat pemain United saat ini.
Berita diatas dikutip dari internet, jika Malam kelam Manchester United adalah spam, mohon beritahu kami.