Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
GDP Venture, kembali menggelar acara bincang-bincang bisnis yg penuh insightful di Power Lunchdengan tema Maximizing Business Growth with an Effective crowdsourcing Model. Lunch ini dihadiri oleh David Soong - CEO SweetEscape, Dimas Harry Priawan - Co-founder & CEO Dekoruma, dan Ardyanto Alam - CEO Garasi.id. SweetEscape, Dekoruma & Garasi.id merupakan tiga portfolio GDP Venture yg cukup berhasil menerapkan crowdsourcing model dalam bisnisnya.
Konsep bisnis crowdsourcingkini sudah tidak asing lagi di mana layanin, ide, atau konten diperoleh dengan meminta kontribusi dari banyak orang secara daring. Contoh perusahaan yg sukses secara global dari menerapkan konsep ini adalah Airbnb.
SweetEscape, platform layanin jasa fotografi oleh fotografer lokal, kini hadir di lebih dari 500 kota di lima benua dengan lebih dari 1,000 partner fotografer. Bisnis SweetEscape tidak cuma melayani klien retail dengan berbagai layanin jasa foto seperti acara ulang tahun, pertunangan, liburan, bayi yg baru lahir & momen penting lainnya, tetapi juga sudah merambah pasar B2B dengan menyediakan layanin foto produk, foto jajaran direksi & manajemen, bahkan hingga video perusahaan.
Dengan beragam klien hingga ke mancanegara, SweetEscape harus memilih kawan fotografer yg tepat untuk memenuhi kebutuhan klien. David Soong, CEO SweetEscape, menjelaskan, "Selain menghasilkan foto yg bagus, partner fotografer kami harus memiliki kemampuan komunikasi yg baik. Mereka harus dapat berkomunikasi dengan anak-anak maupun klien yg datang dalam kelompok akbar SweetEscape. Untuk pemotretan di luar negeri, fotografer kami sering kali juga berperan sebagai pemandu lokal dengan memberikan informasi tentang tempat-tempat menarik untuk dikunjungi, tempat makan, & aktivitas yg dapat dilakukan. Oleh karena itu, mereka diwajibkan sanggup berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dengan soft skills seperti ini, klien kami jadi lebih puas dengan layanin yg kami berikan."
Dalam menerapkan crowdsourcingsecara efektif, perusahaan harus menerapkan standar operasional yg jelas untuk mendapatkan kualitas yg sama dari partner kerja serta meminimalisasi resiko akan ketidakpuasan pelanggan, seperti yg diutarakan oleh Ardyanto Alam, CEO dari Garasi.id, Kami di Garasi.id bekerjasama dengan bengkel-bengkel opsi untuk memastikan layanin yg diberikan kepada pelanggan kami mempunyai kualitas yg sama. Kami menerapkan standar operasional yg jelas & dapat diadopsi dengan standar operasional yg sudah ada di bengkel tersebut. Tentunya supaya standar operasional kami dapat diterima dengan baik, kami memilih kawan bengkel yg memang kualitasnya tidak diragukan, seperti salah satunya sering mengpakai komponen asli.
Saat ini Garasi.id mempunyai produk Warranty,Jasa Inspeksi, Jasa Servis & Asisten Darurat, dimana mereka menawarkan berbagai layanin untuk garansi mobil bekas yg mencakup komponen mesin & transmisi selama satu tahun, dengan batas usia mobil 14 tahun & klaim maksimal Rp20 juta per tahun. Mereka juga menyediakan jasa inspeksi untuk pemeriksaan kendaraan atau mobil bekas yg akan dibeli. layanin servis mobil di rumah atau di bengkel kawan yg mencakup servis berkala, perawatan eksterior & interior, serta perawatan AC. Hingga layanin bantuan darurat 24 jam untuk keadaan seperti derek, ganti ban, kehadapatn bahan bakar, & kunci tertinggal.
Dekorumadidirikan tahun 2015 sebagai marketplace furniture, kemudian peluasan bisnis dengan membuka jasa layanin desain interior hingga penjualan rumah. Dalam menjalankan bisnisnya, Dekoruma bekerjasama dengan desainer-desainer interior yg sanggup mengerjakan desain dengan gaya Japandi (Jepang & Skandinavia), gaya interior khas Dekoruma. Dimas Harry Priawan, Co-founder & CEO Dekoruma menjelaskan mengenai hak cipta, Kami sering mencantumkan nama desainer interior kami di setiap karyanya, karena hak cipta adalah milik mereka. Ada salah satu desainer kami yg jadi berdikari dari hasil kerja dengan kami & membuka usahanya sendiri. Kami tidak merasa tersaingi & sangat bangga, bahkan seringkali kami masih tetap bekerjasama dengan baik. Kelebihan dari kami adalah kami membangun suatu teknologi yg kami namakan Thudio by Dekoruma, dimana para desainer dapat langsung mengetahui estimasi biaya dari desain yg mereka kerjakan, sehingga dapat menyesuaikan dengan anggaran yg dimiliki oleh konsumen.
Konsep bisnis crowdsourcingkini sudah tidak asing lagi di mana layanin, ide, atau konten diperoleh dengan meminta kontribusi dari banyak orang secara daring. Contoh perusahaan yg sukses secara global dari menerapkan konsep ini adalah Airbnb.
SweetEscape, platform layanin jasa fotografi oleh fotografer lokal, kini hadir di lebih dari 500 kota di lima benua dengan lebih dari 1,000 partner fotografer. Bisnis SweetEscape tidak cuma melayani klien retail dengan berbagai layanin jasa foto seperti acara ulang tahun, pertunangan, liburan, bayi yg baru lahir & momen penting lainnya, tetapi juga sudah merambah pasar B2B dengan menyediakan layanin foto produk, foto jajaran direksi & manajemen, bahkan hingga video perusahaan.
Dengan beragam klien hingga ke mancanegara, SweetEscape harus memilih kawan fotografer yg tepat untuk memenuhi kebutuhan klien. David Soong, CEO SweetEscape, menjelaskan, "Selain menghasilkan foto yg bagus, partner fotografer kami harus memiliki kemampuan komunikasi yg baik. Mereka harus dapat berkomunikasi dengan anak-anak maupun klien yg datang dalam kelompok akbar SweetEscape. Untuk pemotretan di luar negeri, fotografer kami sering kali juga berperan sebagai pemandu lokal dengan memberikan informasi tentang tempat-tempat menarik untuk dikunjungi, tempat makan, & aktivitas yg dapat dilakukan. Oleh karena itu, mereka diwajibkan sanggup berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dengan soft skills seperti ini, klien kami jadi lebih puas dengan layanin yg kami berikan."
Dalam menerapkan crowdsourcingsecara efektif, perusahaan harus menerapkan standar operasional yg jelas untuk mendapatkan kualitas yg sama dari partner kerja serta meminimalisasi resiko akan ketidakpuasan pelanggan, seperti yg diutarakan oleh Ardyanto Alam, CEO dari Garasi.id, Kami di Garasi.id bekerjasama dengan bengkel-bengkel opsi untuk memastikan layanin yg diberikan kepada pelanggan kami mempunyai kualitas yg sama. Kami menerapkan standar operasional yg jelas & dapat diadopsi dengan standar operasional yg sudah ada di bengkel tersebut. Tentunya supaya standar operasional kami dapat diterima dengan baik, kami memilih kawan bengkel yg memang kualitasnya tidak diragukan, seperti salah satunya sering mengpakai komponen asli.
Saat ini Garasi.id mempunyai produk Warranty,Jasa Inspeksi, Jasa Servis & Asisten Darurat, dimana mereka menawarkan berbagai layanin untuk garansi mobil bekas yg mencakup komponen mesin & transmisi selama satu tahun, dengan batas usia mobil 14 tahun & klaim maksimal Rp20 juta per tahun. Mereka juga menyediakan jasa inspeksi untuk pemeriksaan kendaraan atau mobil bekas yg akan dibeli. layanin servis mobil di rumah atau di bengkel kawan yg mencakup servis berkala, perawatan eksterior & interior, serta perawatan AC. Hingga layanin bantuan darurat 24 jam untuk keadaan seperti derek, ganti ban, kehadapatn bahan bakar, & kunci tertinggal.
Dekorumadidirikan tahun 2015 sebagai marketplace furniture, kemudian peluasan bisnis dengan membuka jasa layanin desain interior hingga penjualan rumah. Dalam menjalankan bisnisnya, Dekoruma bekerjasama dengan desainer-desainer interior yg sanggup mengerjakan desain dengan gaya Japandi (Jepang & Skandinavia), gaya interior khas Dekoruma. Dimas Harry Priawan, Co-founder & CEO Dekoruma menjelaskan mengenai hak cipta, Kami sering mencantumkan nama desainer interior kami di setiap karyanya, karena hak cipta adalah milik mereka. Ada salah satu desainer kami yg jadi berdikari dari hasil kerja dengan kami & membuka usahanya sendiri. Kami tidak merasa tersaingi & sangat bangga, bahkan seringkali kami masih tetap bekerjasama dengan baik. Kelebihan dari kami adalah kami membangun suatu teknologi yg kami namakan Thudio by Dekoruma, dimana para desainer dapat langsung mengetahui estimasi biaya dari desain yg mereka kerjakan, sehingga dapat menyesuaikan dengan anggaran yg dimiliki oleh konsumen.
Dalam bincang-bincang ini, David Soong juga memberikan insightbahwa Model ini tidak cuma menguntungkan perusahaan dengan efisiensi waktu & biaya operasional, tetapi juga memberikan keuntungan bagi kawan crowdsourcing kami. Mereka adalah tenaga kerja dengan modal yg tidak akbar & mendapat kompensasi yg adil sesuai hasil kerja mereka. Di SweetEscape, bahkan pekerjaan editing foto dilakukan oleh regu kami dibantu oleh Machine Learning untuk mempercepat waktu editing, sehingga fotografer cuma perlu fokus memotret tanpa merasa terbebani untuk mengerjakan editing yg menghabiskan waktu sangat banyak., " ungkapnya.
Ardyanto Alam sepakat dengan penjelasan dari David Soong bahwa model crowdsourcing menguntungkan kedua belah pihak. Saya harap menekankan bahwa tidak semua perusahaan dapat menerapkan model crowdsourcing. Model crowdsourcingsangat cocok untuk perusahaan yg membutuhkan keahlian khusus. Jika diterapkan dengan hati-hati & strategis, model bisnis ini dapat sangat ampuh untuk meningkatkan skalabilitas, inovasi, & efisiensi. Dengan membangun jaringan kawan yg luas, menerapkan standar yg jelas, memanfaatkan teknologi, & berfokus pada kualitas serta kepuasan pelanggan, perusahaan dapat mencapai pertumbuhan bisnis yg berkelanjutan & sukses. Contohnya seperti di Garasi.id, kawan bengkel kami mendapatkan keuntungan karena mobil yg warrantynya diperbaiki di bengkel tersebut dapat jadi langganan untuk maintenance selanjutnya."
Perlu diketahui bahwa model crowdsourcing tidaklah semudah yg terlihat. Meskipun menawarkan potensi pertumbuhan yg besar, perusahaan perlu mengerjakan pendekatan yg hati-hati & strategis dalam mengembangkan jaringan mitra. Mengambil langkah kecil, mengerjakan riset yg menyeluruh, & memahami perilaku konsumen adalah kunci untuk memastikan kesuksesan dalam mengimplementasikan model ini.
Dekoruma mengpakai pendekatan yg berbeda dalam mengembangkan toko offline mereka. Dengan membuka 29 toko offline di berbagai lokasi, mereka dapat secara langsung mempelajari perilaku pembeli di setiap kota & menyesuaikan strategi pemasaran mereka sesuai dengan kebutuhan pasar lokal. Sebaliknya, SweetEscape mengadopsi pendekatan yg lebih fleksibel dengan membuka terlebih dahulu di beberapa kota sebelum melanjutkan ke letak lain. Dengan demikian, masing-masing perusahaan dapat memanfaatkan potensi crowdsourcinguntuk mencapai pertumbuhan bisnis yg berkelanjutan.
Gimana, apa ada Agan Sista yg sedang menggeluti bisnis crowdsourcing ini? Share cerita-ceritanya dimari ya!
Ardyanto Alam sepakat dengan penjelasan dari David Soong bahwa model crowdsourcing menguntungkan kedua belah pihak. Saya harap menekankan bahwa tidak semua perusahaan dapat menerapkan model crowdsourcing. Model crowdsourcingsangat cocok untuk perusahaan yg membutuhkan keahlian khusus. Jika diterapkan dengan hati-hati & strategis, model bisnis ini dapat sangat ampuh untuk meningkatkan skalabilitas, inovasi, & efisiensi. Dengan membangun jaringan kawan yg luas, menerapkan standar yg jelas, memanfaatkan teknologi, & berfokus pada kualitas serta kepuasan pelanggan, perusahaan dapat mencapai pertumbuhan bisnis yg berkelanjutan & sukses. Contohnya seperti di Garasi.id, kawan bengkel kami mendapatkan keuntungan karena mobil yg warrantynya diperbaiki di bengkel tersebut dapat jadi langganan untuk maintenance selanjutnya."
Perlu diketahui bahwa model crowdsourcing tidaklah semudah yg terlihat. Meskipun menawarkan potensi pertumbuhan yg besar, perusahaan perlu mengerjakan pendekatan yg hati-hati & strategis dalam mengembangkan jaringan mitra. Mengambil langkah kecil, mengerjakan riset yg menyeluruh, & memahami perilaku konsumen adalah kunci untuk memastikan kesuksesan dalam mengimplementasikan model ini.
Dekoruma mengpakai pendekatan yg berbeda dalam mengembangkan toko offline mereka. Dengan membuka 29 toko offline di berbagai lokasi, mereka dapat secara langsung mempelajari perilaku pembeli di setiap kota & menyesuaikan strategi pemasaran mereka sesuai dengan kebutuhan pasar lokal. Sebaliknya, SweetEscape mengadopsi pendekatan yg lebih fleksibel dengan membuka terlebih dahulu di beberapa kota sebelum melanjutkan ke letak lain. Dengan demikian, masing-masing perusahaan dapat memanfaatkan potensi crowdsourcinguntuk mencapai pertumbuhan bisnis yg berkelanjutan.
Gimana, apa ada Agan Sista yg sedang menggeluti bisnis crowdsourcing ini? Share cerita-ceritanya dimari ya!