• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Makna Tauhid:

Blog Sakinah

IndoForum Newbie D
No. Urut
176628
Sejak
6 Jul 2012
Pesan
90
Nilai reaksi
0
Poin
6
Tauhid adalah percaya bahwa Allah itu Esa dalam kekuasaan dan perbuatanNya. Dia satu dalam sifat ketuhanan dan penyembahan pada-Nya. Tidak ada yang menyekutukanNya.

Tauhid terbagi menjadi:
1. Tauhid Uluhiyah ialah Mengesakan Allah dengan ibadah dan tidak menyekutukanNya. Allah berfirman: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun (QS. An-Nisa : 36).
Mentauhidkan Allah dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan hamba. Yaitu mengikhlaskan ibadah kepada Allah, yang mencakup berbagai macam ibadah seperti : tawakal, nadzar, takut, khosyah, pengharapan, dll. Tauhid inilah yang membedakan umat Islam dengan kaum musyrikin. Jadi seseorang belum cukup untuk mentauhidkan Allah dalam perbuatan-Nya (Tauhid Rububiyah) tanpa menyertainya dengan mengikhlaskan semua ibadah hanya kepada-Nya (Tauhid Uluhiyah). Karena orang musyrikin dulu juga meyakini bahwa Allah yang mencipta dan mengatur, tetapi hal tersebut belum cukup memasukkan mereka ke dalam Islam.
Oleh karena itu, tidak boleh (haram) bagi seorang hamba menyerahkan apapun dari jenis ibadahnya kepada selain Allah. Hanya Allah yang berhak memiliki (ibadah hamba-Nya), adapun selain-Nya (maka tidak berhak sedikitpun). Dan bagian tauhid ini pula yang menjadi misi dakwah semua rasul Allah.

Allah berfirman: Artinya : ''Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu" (QS An-Nahl : 36).
Artinya : ''Katakanlah: "Sesungguhnya Aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.'' (QS Az-Zumar : 11).

Oleh karena itu, para rasul menjadikan bagian tauhid ini sebagai misi dakwah mereka, karena bagian tauhid ini adalah bagian paling asas (pondasi) yang akan dibangun di atasnya seluruh bagian dari amal ibadah, maka tanpa menguatkan dan memperkokoh asas (pondasi) tersebut tidak akan sah seluruh amalan (yang dikerjakan oleh seorang hamba). Oleh karena itu, jika tauhid ini belum terwujud maka akan muncul lawan dari tauhid tersebut, yaitu syirik.

Dan bagian tauhid ini pula yang menjadi kewajiban yang paling pertama bagi seorang hamba. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Artinya : ''Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa,'' (QS Al-An'am : 151)

2. Tauhid Rububiyah ialah mengesakan Allah dalam segala ketentuanNya. Seperti meyakina bahwa Allah lah Yang Maha Pemberi Rezeki. Allah berfirman: Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (QS Ar-rum: 40). Yaitu mentauhidkan Allah dalam perbuatan-Nya, seperti mencipta, menguasai, memberikan rizki, mengurusi makhluk, dll yang semuanya hanya Allah semata yang mampu. Dan semua orang meyakini adanya Rabb yang menciptakan, menguasai, dll. Kecuali orang atheis yang berkeyakinan tidak adanya Rabb. Diantara penyimpangan yang lain yaitu kaum Zoroaster yang meyakini adanya Pencipta Kebaikan dan Pencipta Kejelekan, hal ini juga bertentanga dengan aqidah yang lurus.

Akan tetapi bagian tauhid ini belum memadai atau mencukupi untuk menjadikan seseorang sebagai orang yang bertauhid di hadapan Tuhannya, kecuali setelah Allah memberikannya hidayah kepada dua bagian tauhid lainnya, yaitu tauhid uluhiyah dan tauhid asma` wa shifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya). Hal ini dikarenakan Allah subhanahu wa ta'ala telah mengabarkan kepada manusia melalui kitab-Nya, bahwa kaum musyrikin juga mengakui dan meyakini bagian tauhid rububiyah ini. Akan tetapi, keyakinan dan pengakuan mereka tersebut sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, dikarenakan mereka belum mengesakan Allah dalam ibadah, (yaitu pengertian dari tauhid Uluhiyah).

3. Tauhid Asma dan sifatnya ialah meyakini sesuatu yang telah di tetapkan Allah untuk diriNya baik nama maupun sifatNya, seperti apa yang telah Allah tetapkan untuk utusanNya. Allah berfirman: Tidak ada suatu apa pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar , Maha Melihat” (Qs Asy- Syura:11).

Mengimani dan menetapkan apa yang sudah ditetapkan Allah di dalam Al Quran dan oleh Nabi-Nya di dalam hadits mengenai nama dan sifat Allah tanpa merubah makna, mengingkari, mendeskripsikan bentuk/cara, dan memisalkan. Untuk pembahasan yang lebih lengkap bisa merujuk ke beberapa kitab diantaranya Aqidah Washithiyah, Qowaidul Mutsla, dll.

Oleh karena itu, wajib bagi seorang muslimin menetapkan seluruh apa-apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya yang tedapat dalam Al-Qur'an atau melalui lisan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Artinya : "Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu." (QS Al-A'raf : 180)

Manusia berbeda-beda dalam mengenal Allah. Tidak ada yang mengenalnya kecuali orang-orang yang Allah kenalkan diri-Nya kepada mereka dan (orang-orang) yang Allah bukakan hati-hati mereka untuk mengenal apa-apa yang tersembunyi dari selain diri mereka.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ''Kecintaan dan kerinduan tergantung pada ilmu dan pengetahuan terhadap-Nya. Sejauh mana ilmu terhadap-Nya bertambah, maka sejauh itu pulalah kecintaan kepada-Nya akan bertambah sempurna...Barang siapa yang lebih mengenal Allah beserta seluruh nama dan sifat-Nya maka ia akan semakin lebih cinta kepada-Nya dan semakin sempurna pula kenikmatan untuk sampai pada-Nya, berhadapan dengan-Nya serta melihat wajahnya dan mendengar perkataan-Nya…

(Jadi kesimpulannya adalah) letak kesempurnaan seorang hamba adalah dalam dua kekuatan ini: ilmu dan cinta, maka ilmu yang paling utama adalah ilmu (pengetahuan) kepada Allah dan cinta yang paling tinggi adalah cinta kepada-Nya dan kenikmatan yang paling sempurna adalah kenikmatan yang disebabkan oleh
keduanya (ilmu dan cinta).

Artinya : "Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka
mereka Itulah orang-orang yang fasik." (QS An-Nur :55)
 
kehati-hatian dalam bertutur adalah salah satu sifat manusia berilmu , dan bertutur dengan dasar dasar pedoman adalah patut di ikuti ( dalam hal ini Qur'an dan sunnah ) buat rekan rekan yang ( merasa) masih dangkal ilmu , seperti saya , marilah kita lebih mendalami Islam , karena Islam adalah Agama Tauhid yang telah dipersiapkan Allah untuk hidup manusia , menaungi semua ras , dasar pemikiran , adat istiadat dan lain sebagainya
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.