Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Makna Simbolik Sesajen Sunda
Kategori :Upacara
Om Swastyastu
Sampurasun
Dalam kehidupan bermasyarakat sekarang tidak sedikit orang yg menganggap sesajen ini berbenturan dengan norma-norma agama tertentu, akan tetapi kalau kita mengetahui arti & makna yg terkandung di alamnya, kita tidak akan menganggap sesajen sebagai hal yg tabu lagi, karena sesajen merupakan warisan budaya dari leluhur yg harus dijaga kelestariannya.
Sesajen mengandung arti pemberian sesajian sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur kepada semua yg terjadi dimasyarakat Saat ini tidak sedikit orang beranggapan bahwa menyajikan sesajen adalah suatu kemusyrikan. Tapi sebenarnya ada suatu simbol atau siloka di dalam sesajen yg harus kita pelajari. Siloka, adalah penyampaian dalam bentuk pengandaian atau citra yg berbeda (aphorisma). Kearifan lokal yg disimbolkan dalam sesajen perlu dipelajari bukan disalahkan karena itu adalah kearifan budaya lokal yg diturunkan oleh leluhur, & kita sebagai generasi penerus berkewajiban memahami & melestarikannya.
Arti & Makna Sesajen Menurut Budaya Sunda
Sajen asal mengatakan dari sesaji yg mengandung makna Sa-Aji-an atau kalimat yg disimbolkan dengan bahasa rupa bukan bahasa sastra, dimana didalamnya mengandung mantra atau kekuatan metafasik atau supranatural.
Kata Sajen berasal dari mengatakan Sa & ajian:
- Sa bermakna Tunggal
- Aji bermakna Ajaran
- Sa bermakna Seuneu, bara atau Api (Aura-energi)
Bermakna Sa Ajian atau ajaran yg Tunggal atau menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sesajen mengisyaratkan bahwa keganasan atau kedinamisan alam, dapat diatasi atau ditangani dengan upaya menyatukan diri dengan Alam atau beserta alam, bukan dengan cara merusak atau menguasai alam. Ritual ini merupakan bentuk metafora atau Siloka penyatuan manusia dengan Alam. Kata Sa-ajian secara keseluruhan bermakna menyatukan keharapan (kahayang-kahyang) dengan keharapan alam atau beserta alam (menyatu dengan alam).
Secara keseluruhan mengatakan "sajen" mempunyai makna energi ajaran Hyang Maha Tunggal (monotheisme). Makna Sesajen dalam konteks Sunda Purba bermakna negara. Siloka dalam upacara sesajen adalah penyampaian dalam bentuk pengandaian atau citra yg berbeda (aphorisma). Kearifan lokal (local genius) yg disimbolkan dalam sesajen yg diturunkan oleh leluhur kita.
Pada akhirnya sesajen bermakna mengimplentasikan pemahaman ajaran ke-Tuhan-an dalam kehidupan sehari-hari dengan sebaik-baiknya, jadi ajaran & agama (keyakinan) yg dipegang secara turun-temurun, untuk kebaikan lahir & batin di dunia & sunyata Dalam bahasa Sunda Rahayu lahir sinareng batin ayeuna jeung engke jagana.
Makna & Arti Yang Terkandung Dalam Media Sejajen Menurut Ajaran Sunda
1. Parupuyan & Menyan
Parupuyan adalah tempat arang/bara api yg terbuat dari tanah (tempat saripati atau badan sakujur). Merah melambangkan api, kuning melambangkan angin, Putih melambangkan Air, & Hitam melambangkan Tanah.
Bermakna bahwa saripati dari air, angin, air & tanah adlah asal badan sakujur atau penopang hidup. Membakar kemenyan atau ngukus bermakna ngudag "Kusumaning Hyang Jati". Bermakna mengkaji & menghayati serta menelesuri hakekat & nilai-nilai Ke-Tuhan-an. Menyan bermakna Temen tur nyaan/nu enyana/sa enya-enyana atau sebenar-benarnya. Secara keseluruhan bermakna dalam mendalami, mengkaji & menghayati harus sungguh-sungguh & sebenar-benarnya.
Wangi kemenyan bermakna SILIH WAWANGIAN atau berbuat Kebajikan. Kini dalam tradisi sunda ada juga mengganti dengan hio/dupa karena lebih simpel.
2. Amparan atau Samak/Tikar
Bermakna kudu Saamparan Samaksud Satujuan, Sakabeh tujuan jeung maksud diamparan ku Ka Tuhanan, Ka Manusaan, Ka Bangsaan, Ka Rahayatan, Ka adilan atau sesungguhnya kita harus satu maksud, satu tujuan yg semuanya itu harus didasari oleh nilai-nilai Ke Tuhanan, Ke Manusiaan, Ke Bangsaan, Ke Rakyatan, Ke Adilan.
3. Alas Lawon Bodas (kain Putih Sebagai Alas)
Bermakna hendaknya dalam tindakan & ucapan harus dilandasi oleh kebersihan HATI, PIKIRAN atau KEBERSIHAN LAHIR & BATIN.
4. Kendi di Eusi Cai Make Hanjuang (Kendi diisi Air diberi Daun Hanjuang)
Kendi bermakna taneuh atau tanah. Bermakna Air Hanjuang bermakna HaNa Ing Juang {Hana: Hirup/Aya (Hidup/Ada), Juang: Berjuang}. Bermakna hirup kudu berjuang gawe pikeun lemah cai atau babakti ka nagari atau bebela ka Nagara atau hidup harus berjuang berbakti pada nusa & bangsa.
5. Sang Saka Dwi Warna (Sasaka Pusaka Buhun Djawadwipa)
Bermakna Dwi Warna atau dua warna (Waruna), yaitu Beureum jeung Bodas, bermakna merah & putih. Beureum bermakna Indung/Ibu Pertiwi & bodas bermakna Bapa/Rama. Sang Saka bermakna Soko. Bermakna bahwa suatu kewajiban kita menghargai orang tua yg sudah melahirkan & mengurus kita, juga tanah air yg sudah memberi kehidupan. Bakti kepada orang tua, bangsa & negara jadi keutamaan dalam kehidupan.
6. Rujak Tujuh Rupa
Rujak bermakna rasa, seperti manis, pahit, asam, keset, pedas, asin, & sebagainya.Tujuh rupa bermakna 7 poe atau tujuh hari. Secara keseluruhan bermakna: "dina tujuh poe pangggih jeung rupa-rupa kahirupan." Yang artinya: Dalam Tujuh Hari kita mengalami berbagai rasa kehidupan.
8. Kopi Pait, Kopi Amis Jeung Cai Asak Herang di Wadahan Kana Batok
Bermakna: "Sajeroning lampah hirup pinasti ngaliwatan papait jeung mamanis nu sakuduna digodog, diasakan dina babatok (pikiran, elingan) wening ati herang manah".
Yang artinya: Dalam laku lampah kehidupan pasti melalui kepahitan & manis yg semestinya diolah, dikaji dalam tempurung (pikiran, elingan) dalam Hati yg tenang & bersih).
9. Sangu Tumpeng
Bermakna tumpuk-tumpuk ngajadi hiji sahingga mangpaat keur kahirupan urang, ulah rek pakia-kia pagirang-girang tampian kawas remeh sumawur teu paruguh.
Nasi tumpeng atau banyak diketahui dengan istilah "tumpeng" saja, adalah sajian khas yg banyak dijumpai dalam acara seremoni atau "selamatan" baik di desa-desa maunpun di kota-kota akbar di pulau Jawadwipa, Bali, & pulau-pulau lainnya di Indonesia hingga sekarang.
Tumpeng jadi materi penting dalam acara pemujaan atau selamatan tradisi budaya Sunda. Walaupun diakui sebagai Simbol penting sebuah acara pemujaan & selamatan, namun sebenarnya tidak banyak orang mengetahui yg memahami makna dibalik perupaannya. Tumpeng sendiri sebenarnya jadi simbol yg mengangkat hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dengan Alam & dengan Sesama Manusia.
10. Bakakak hayam (bakak ayam)
Bermaknapasrah sumerah ka Gusti(tumamprak lir bakakak)
11. Puncak manik (congcot nu di luhurna aya endog hayam)
Bermakna: "Puncak tina kahirupan nyaeta silih ajenan ka sasama.Endog teh mamana cita-cita kahirupan nu bakal ngalahirkeun laku lampah hade"
Yang artinya: Puncak dalam kehidupan yaitu saling menghargai kepada sesama. Telur diibaratkan sebagai awal mula kehidupan yg bakal melahirkan prilaku baik.
12. Daun jati tilu lambar (Daun Jati Tiga Lembar)
Bermakna: "Manusa dina ngajalankeun hirup jeung ka hirupan kudu dumasar kana TEKAD, UCAP jeung LAMPAH nu SAJATINA"
Artinya: Menjalani kehidupan harus didasari dengan Tekad, Ucapan & Tingkah Laku yg Baik.
13. Lemareun/seupaheun (ngalemar/nyirih)
Bermakna: "Mun urang rek ngucap, lumaku jeung lumampah ulah rek gurung gusuh tetapi kudu di beuweung di utahkeun, persis nu nyeupah"
Artinya: Kalau kita berbicara, berprilaku & bertindak jangan terburu-buru, tetapi harus di pikir & dicerna terlebih dahulu, persis ketika ngalemar/nyirih.
"Ieu kabeh teh simbul siloka keur ajieun urang supaya hirup teu kasasar lampah"
Artinya: Ini semua adalah simbol siloka untuk kajian kita semua, supaya hidup tidak kesasar/celaka.
Intinya adalah di dalam sesajen terdapat nilai luhur kearifan lokal yg dijadikan pedoman pandangan hidup supaya kita tidak salah dalam melangkah. Demikian dapat saya ketengahkan beberapa makna simbolik yg terdapat pada sesajen Sunda. Semoga bermanfaat bagi kita semua, & bagi kemajuan Umat Hindu Nusantara. Jayalah Hindu. Jayalah Nusantara.
Ahung Tatya Ahung
Rahayu Rahayu Rahayu
Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag., M.Si (Jero Mangku Danu) l Ketua Bidang Kebudayaan & Kearifan Lokal PHDI Pusat Hari ini 14:54
Kategori :Upacara
Om Swastyastu
Sampurasun
Dalam kehidupan bermasyarakat sekarang tidak sedikit orang yg menganggap sesajen ini berbenturan dengan norma-norma agama tertentu, akan tetapi kalau kita mengetahui arti & makna yg terkandung di alamnya, kita tidak akan menganggap sesajen sebagai hal yg tabu lagi, karena sesajen merupakan warisan budaya dari leluhur yg harus dijaga kelestariannya.
Sesajen mengandung arti pemberian sesajian sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur kepada semua yg terjadi dimasyarakat Saat ini tidak sedikit orang beranggapan bahwa menyajikan sesajen adalah suatu kemusyrikan. Tapi sebenarnya ada suatu simbol atau siloka di dalam sesajen yg harus kita pelajari. Siloka, adalah penyampaian dalam bentuk pengandaian atau citra yg berbeda (aphorisma). Kearifan lokal yg disimbolkan dalam sesajen perlu dipelajari bukan disalahkan karena itu adalah kearifan budaya lokal yg diturunkan oleh leluhur, & kita sebagai generasi penerus berkewajiban memahami & melestarikannya.
Arti & Makna Sesajen Menurut Budaya Sunda
Sajen asal mengatakan dari sesaji yg mengandung makna Sa-Aji-an atau kalimat yg disimbolkan dengan bahasa rupa bukan bahasa sastra, dimana didalamnya mengandung mantra atau kekuatan metafasik atau supranatural.
Kata Sajen berasal dari mengatakan Sa & ajian:
- Sa bermakna Tunggal
- Aji bermakna Ajaran
- Sa bermakna Seuneu, bara atau Api (Aura-energi)
Bermakna Sa Ajian atau ajaran yg Tunggal atau menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sesajen mengisyaratkan bahwa keganasan atau kedinamisan alam, dapat diatasi atau ditangani dengan upaya menyatukan diri dengan Alam atau beserta alam, bukan dengan cara merusak atau menguasai alam. Ritual ini merupakan bentuk metafora atau Siloka penyatuan manusia dengan Alam. Kata Sa-ajian secara keseluruhan bermakna menyatukan keharapan (kahayang-kahyang) dengan keharapan alam atau beserta alam (menyatu dengan alam).
Secara keseluruhan mengatakan "sajen" mempunyai makna energi ajaran Hyang Maha Tunggal (monotheisme). Makna Sesajen dalam konteks Sunda Purba bermakna negara. Siloka dalam upacara sesajen adalah penyampaian dalam bentuk pengandaian atau citra yg berbeda (aphorisma). Kearifan lokal (local genius) yg disimbolkan dalam sesajen yg diturunkan oleh leluhur kita.
Pada akhirnya sesajen bermakna mengimplentasikan pemahaman ajaran ke-Tuhan-an dalam kehidupan sehari-hari dengan sebaik-baiknya, jadi ajaran & agama (keyakinan) yg dipegang secara turun-temurun, untuk kebaikan lahir & batin di dunia & sunyata Dalam bahasa Sunda Rahayu lahir sinareng batin ayeuna jeung engke jagana.
Makna & Arti Yang Terkandung Dalam Media Sejajen Menurut Ajaran Sunda
1. Parupuyan & Menyan
Parupuyan adalah tempat arang/bara api yg terbuat dari tanah (tempat saripati atau badan sakujur). Merah melambangkan api, kuning melambangkan angin, Putih melambangkan Air, & Hitam melambangkan Tanah.
Bermakna bahwa saripati dari air, angin, air & tanah adlah asal badan sakujur atau penopang hidup. Membakar kemenyan atau ngukus bermakna ngudag "Kusumaning Hyang Jati". Bermakna mengkaji & menghayati serta menelesuri hakekat & nilai-nilai Ke-Tuhan-an. Menyan bermakna Temen tur nyaan/nu enyana/sa enya-enyana atau sebenar-benarnya. Secara keseluruhan bermakna dalam mendalami, mengkaji & menghayati harus sungguh-sungguh & sebenar-benarnya.
Wangi kemenyan bermakna SILIH WAWANGIAN atau berbuat Kebajikan. Kini dalam tradisi sunda ada juga mengganti dengan hio/dupa karena lebih simpel.
2. Amparan atau Samak/Tikar
Bermakna kudu Saamparan Samaksud Satujuan, Sakabeh tujuan jeung maksud diamparan ku Ka Tuhanan, Ka Manusaan, Ka Bangsaan, Ka Rahayatan, Ka adilan atau sesungguhnya kita harus satu maksud, satu tujuan yg semuanya itu harus didasari oleh nilai-nilai Ke Tuhanan, Ke Manusiaan, Ke Bangsaan, Ke Rakyatan, Ke Adilan.
3. Alas Lawon Bodas (kain Putih Sebagai Alas)
Bermakna hendaknya dalam tindakan & ucapan harus dilandasi oleh kebersihan HATI, PIKIRAN atau KEBERSIHAN LAHIR & BATIN.
4. Kendi di Eusi Cai Make Hanjuang (Kendi diisi Air diberi Daun Hanjuang)
Kendi bermakna taneuh atau tanah. Bermakna Air Hanjuang bermakna HaNa Ing Juang {Hana: Hirup/Aya (Hidup/Ada), Juang: Berjuang}. Bermakna hirup kudu berjuang gawe pikeun lemah cai atau babakti ka nagari atau bebela ka Nagara atau hidup harus berjuang berbakti pada nusa & bangsa.
5. Sang Saka Dwi Warna (Sasaka Pusaka Buhun Djawadwipa)
Bermakna Dwi Warna atau dua warna (Waruna), yaitu Beureum jeung Bodas, bermakna merah & putih. Beureum bermakna Indung/Ibu Pertiwi & bodas bermakna Bapa/Rama. Sang Saka bermakna Soko. Bermakna bahwa suatu kewajiban kita menghargai orang tua yg sudah melahirkan & mengurus kita, juga tanah air yg sudah memberi kehidupan. Bakti kepada orang tua, bangsa & negara jadi keutamaan dalam kehidupan.
6. Rujak Tujuh Rupa
Rujak bermakna rasa, seperti manis, pahit, asam, keset, pedas, asin, & sebagainya.Tujuh rupa bermakna 7 poe atau tujuh hari. Secara keseluruhan bermakna: "dina tujuh poe pangggih jeung rupa-rupa kahirupan." Yang artinya: Dalam Tujuh Hari kita mengalami berbagai rasa kehidupan.
8. Kopi Pait, Kopi Amis Jeung Cai Asak Herang di Wadahan Kana Batok
Bermakna: "Sajeroning lampah hirup pinasti ngaliwatan papait jeung mamanis nu sakuduna digodog, diasakan dina babatok (pikiran, elingan) wening ati herang manah".
Yang artinya: Dalam laku lampah kehidupan pasti melalui kepahitan & manis yg semestinya diolah, dikaji dalam tempurung (pikiran, elingan) dalam Hati yg tenang & bersih).
9. Sangu Tumpeng
Bermakna tumpuk-tumpuk ngajadi hiji sahingga mangpaat keur kahirupan urang, ulah rek pakia-kia pagirang-girang tampian kawas remeh sumawur teu paruguh.
Nasi tumpeng atau banyak diketahui dengan istilah "tumpeng" saja, adalah sajian khas yg banyak dijumpai dalam acara seremoni atau "selamatan" baik di desa-desa maunpun di kota-kota akbar di pulau Jawadwipa, Bali, & pulau-pulau lainnya di Indonesia hingga sekarang.
Tumpeng jadi materi penting dalam acara pemujaan atau selamatan tradisi budaya Sunda. Walaupun diakui sebagai Simbol penting sebuah acara pemujaan & selamatan, namun sebenarnya tidak banyak orang mengetahui yg memahami makna dibalik perupaannya. Tumpeng sendiri sebenarnya jadi simbol yg mengangkat hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dengan Alam & dengan Sesama Manusia.
10. Bakakak hayam (bakak ayam)
Bermaknapasrah sumerah ka Gusti(tumamprak lir bakakak)
11. Puncak manik (congcot nu di luhurna aya endog hayam)
Bermakna: "Puncak tina kahirupan nyaeta silih ajenan ka sasama.Endog teh mamana cita-cita kahirupan nu bakal ngalahirkeun laku lampah hade"
Yang artinya: Puncak dalam kehidupan yaitu saling menghargai kepada sesama. Telur diibaratkan sebagai awal mula kehidupan yg bakal melahirkan prilaku baik.
12. Daun jati tilu lambar (Daun Jati Tiga Lembar)
Bermakna: "Manusa dina ngajalankeun hirup jeung ka hirupan kudu dumasar kana TEKAD, UCAP jeung LAMPAH nu SAJATINA"
Artinya: Menjalani kehidupan harus didasari dengan Tekad, Ucapan & Tingkah Laku yg Baik.
13. Lemareun/seupaheun (ngalemar/nyirih)
Bermakna: "Mun urang rek ngucap, lumaku jeung lumampah ulah rek gurung gusuh tetapi kudu di beuweung di utahkeun, persis nu nyeupah"
Artinya: Kalau kita berbicara, berprilaku & bertindak jangan terburu-buru, tetapi harus di pikir & dicerna terlebih dahulu, persis ketika ngalemar/nyirih.
"Ieu kabeh teh simbul siloka keur ajieun urang supaya hirup teu kasasar lampah"
Artinya: Ini semua adalah simbol siloka untuk kajian kita semua, supaya hidup tidak kesasar/celaka.
Intinya adalah di dalam sesajen terdapat nilai luhur kearifan lokal yg dijadikan pedoman pandangan hidup supaya kita tidak salah dalam melangkah. Demikian dapat saya ketengahkan beberapa makna simbolik yg terdapat pada sesajen Sunda. Semoga bermanfaat bagi kita semua, & bagi kemajuan Umat Hindu Nusantara. Jayalah Hindu. Jayalah Nusantara.
Ahung Tatya Ahung
Rahayu Rahayu Rahayu
Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma, S.Ag., M.Si (Jero Mangku Danu) l Ketua Bidang Kebudayaan & Kearifan Lokal PHDI Pusat Hari ini 14:54