• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
2988587p.jpg


"Pak, nanti turunkan saya di Hanura ya,""Oh bisa. Ikut Partai Hanura toh Neng? Saya juga mau. Hanura banyak duitnya nggak Neng?""Wah, saya kurang tau" Cuplikan percakapan di sebuah bis kota.

Pertanyaan sang kondektur, Yaya (60), mengenai kekayaan Partai Hanura mengalir begitu saja. Wajahnya yang keriput, warna kulitnya yang kehitaman serta urat-urat yang menyembul di lengan kanannya menunjukkan kerasnya kehidupan yang telah dilaluinya selama ini. Maka tak heran jika dalam Pemilu mendatang, pilihannya jatuh kepada partai yang banyak bagi-bagi duit dan banyak duit untuk mengharapkan kesejahteraan yang lebih baik.

Pria asli Bandung ini mengaku sudah tak percaya lagi dengan para politisi yang hanya mengumbar janji kosong tanpa kemampuan apa-apa. Apalagi tanpa kemampuan finansial.

Menurut Yaya, kesejahteraan dan kehidupan ekonomi rakyatlah yang menjadi pekerjaan rumah utama calon pemimpin mendatang. "Yang penting banyak duitnya. Kalau nggak, nggak (mau) ah. Saya maju tak gentar membela yang bayar," ujar Yaya sambil terkekeh menunjukkan barisan giginya yang hampir habis.

Meski enggan menceritakan pengalamannya menyambangi aksi-aksi sosial sejumlah partai pada tahun 2004, Yaya mengatakan dirinya cukup puas memperoleh sejumlah karung beras, gula dan bahan makanan pokok lainnya. Belum lagi lembaran rupiah yang diterimanya secara langsung. "Lumayan kan," ujarnya singkat.

Jika banyak partai yang memiliki banyak uang, Yaya mengaku tetap akan mendukung partai yang paling kaya dan murah hati. Artinya, sekarang Yaya belum memiliki pilihannya yang pasti dalam Pemilu mendatang. "Tolong bilang ya Mbak (kepada Wiranto), kalau banyak duitnya, saya siap dukung. Saya bisa sediakan 20 (orang), mulai dari anak, mantu sampai sodara-sodara (untuk mendukung). Gampang diatur," tegasnya.

Di satu sisi, cara berpikir orang-orang seperti Yaya bisa didebat karena dinilai tenggelam dalam pesona uang jika hanya memilih politisi dari partai manapun yang berbajukan ribuan lembaran rupiah tanpa peduli visi sang pemimpin untuk membangun kesejahteraan dirinya dan keluarga bertahun-tahun ke depan. Namun di sisi lain, kebutuhan makan hari ini, biaya sewa rumah, biaya sekolah anak-anak hari ini, besok atau bulan depan, sangat mendesak untuk segera dipenuhi.
 
gw ngga setuju dengan money politik, cuma gw berpikir, buat masyarakat kecil, ambil aja uangnya, hanya nanti pilih yah sesuai dengan pilihan yang mereka mau aja, ngga usah ikut siapa yang bayar
 
tapi sikap kaya gitu sudah menjadi hal biasa di masyarakat kita sekarang. dna mereka punya alasan. Memilih sesuai dengan hati nurani juga hasilnya rakyat kecil gak diperhatikan kok... makanya, mereka ambil untungnya, dapat duit panas pemilu
 
dlo klo PDI bagi2 Rokok... hahaha... tp politik gini neh yg gw gk suka..
 
Q juga ga stuju
gmn negara Qt maju
wong cilik bakal jadi Wong Cilik
Wong Gede makan Wong ciliK
/swt
 
2988587p.jpg


"Pak, nanti turunkan saya di Hanura ya,""Oh bisa. Ikut Partai Hanura toh Neng? Saya juga mau. Hanura banyak duitnya nggak Neng?""Wah, saya kurang tau" Cuplikan percakapan di sebuah bis kota.

Pertanyaan sang kondektur, Yaya (60), mengenai kekayaan Partai Hanura mengalir begitu saja. Wajahnya yang keriput, warna kulitnya yang kehitaman serta urat-urat yang menyembul di lengan kanannya menunjukkan kerasnya kehidupan yang telah dilaluinya selama ini. Maka tak heran jika dalam Pemilu mendatang, pilihannya jatuh kepada partai yang banyak bagi-bagi duit dan banyak duit untuk mengharapkan kesejahteraan yang lebih baik.

Pria asli Bandung ini mengaku sudah tak percaya lagi dengan para politisi yang hanya mengumbar janji kosong tanpa kemampuan apa-apa. Apalagi tanpa kemampuan finansial.

Menurut Yaya, kesejahteraan dan kehidupan ekonomi rakyatlah yang menjadi pekerjaan rumah utama calon pemimpin mendatang. "Yang penting banyak duitnya. Kalau nggak, nggak (mau) ah. Saya maju tak gentar membela yang bayar," ujar Yaya sambil terkekeh menunjukkan barisan giginya yang hampir habis.

Meski enggan menceritakan pengalamannya menyambangi aksi-aksi sosial sejumlah partai pada tahun 2004, Yaya mengatakan dirinya cukup puas memperoleh sejumlah karung beras, gula dan bahan makanan pokok lainnya. Belum lagi lembaran rupiah yang diterimanya secara langsung. "Lumayan kan," ujarnya singkat.

Jika banyak partai yang memiliki banyak uang, Yaya mengaku tetap akan mendukung partai yang paling kaya dan murah hati. Artinya, sekarang Yaya belum memiliki pilihannya yang pasti dalam Pemilu mendatang. "Tolong bilang ya Mbak (kepada Wiranto), kalau banyak duitnya, saya siap dukung. Saya bisa sediakan 20 (orang), mulai dari anak, mantu sampai sodara-sodara (untuk mendukung). Gampang diatur," tegasnya.

Di satu sisi, cara berpikir orang-orang seperti Yaya bisa didebat karena dinilai tenggelam dalam pesona uang jika hanya memilih politisi dari partai manapun yang berbajukan ribuan lembaran rupiah tanpa peduli visi sang pemimpin untuk membangun kesejahteraan dirinya dan keluarga bertahun-tahun ke depan. Namun di sisi lain, kebutuhan makan hari ini, biaya sewa rumah, biaya sekolah anak-anak hari ini, besok atau bulan depan, sangat mendesak untuk segera dipenuhi.

ya beginilah kl rakyat dah gak lg percaya....
 
cuma 1 pikiran rakyat kecil sekarang :

"Bagaimana mempertahankan hidup mereka dan kluarga mereka"
 
"Kekurangan uang adalah akar semua kejahatan"

Dari buku Rich dad, poor dad for teens
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.