Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Sumber :Lombok Post
Baru satu dari lima debat Pilpres yg sudah digelar KPU. Tapi, Capres nomor 3 Ganjar Pranowo semestinya sudah gugur kredibilitasnya di mata rakyat, karena dirinya tidak bertanya. Mahfud MD malah lebih layak jadi Capres ketimbang Ganjar Pranowo.
Setelah acara debat perdana Capres, pendukung Anies Baswedan gembira karena merasa Anies tampil paling pintar dibandingkan Prabowo Subianto & Ganjar Pranowo. Pendukung Ganjar termasuk Melati, lahir Mei 1998, berusia 25 tahun & bekerja di bunk, juga bangga karena Ganjar dianggap paling tenang. Tapi, Melati sekaligus penasaran kenapa Prabowo menyatakan kepada Ganjar bahwa pertanyaannya soal 13 aktivis yg hilang adalah 'tendensius'.
Sebelum debat perdana calon presiden RI 2024 kemarin, Melati menyimpan rasa kagum & hormat yg mendalam kepada Ganjar Pranowo karena kesantunan, kesederhanaan & perhatiannya kepada rakyat. Bahkan Melati tidak bergeming ketika temannya menunjukkan rekaman dialog antara mantan Wakil Ketua KPK Bambang Wijayanto dengan penyidik KPK Novel Baswedan mengenai Ganjar Pranowo diduga menerima uang senilai USD520 ribu dalam kasus E-KTP. Melati meyakini Ganjar Pranowo orang bersih & tidak bersalah. Padahal kedua narasumber diketahui sebagai tokoh penggiat anti korupsi yg sangat kredibel.
Bagi Melati, pemimpin yg peduli, berjuang & mau berkorban untuk rakyatnya tidak akan menghianati perjuangannya sendiri dengan mengerjakan hal-hal yg merugikan rakyatnya. Ganjar Pranowo menurut Melati tidak pernah mengedepankan kepentingan pribadi atau bahkan partainya, di atas kepentingan masyarakat. Ganjar sering mengatakan bahwa seorang pemimpin harus selarasa antara pikiran, ucapan, & tindakannya, supaya dapat dijadikan teladan oleh masyarakat. Semua itu runtuh pukul 1.57 dini hari kemarin setelah semalam suntuk mencari tahu lewat internet ratusan berita, wawancara, artikel, tulisan akademis , bahkan dokumen resmi terkait peristiwa penculikan 22 aktivis sepanjang kurun 1997-1998. Maklum saat peristiwa tersebut terjadi, Melati yg semasa kuliahnya di Universitas Brawijaya, Malang, cukup aktif berorganisasi, baru dilahirkan ke dunia ini.
Sebelumnya Melati sering mendengar tuduhan kepada Prabowo Subianto sebagai dalang yg memerintahkan Tim Mawar Kopassus untuk mengerjakan penculikan para aktivis mahasiswa. Sebagian akbar bernaung ke dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) yg dipimpin oleh mantan politisi PDIP Budiman Sudjatmiko. Namun, semua tuduhan itu sudah berkali kali diklarifikasi oleh Prabowo, oleh Jend (Purn) Wiranto yg saat itu adalah Menhankam /Pangab, & oleh pihak-pihak lainnya selama 20 tahun lebih terakhir. Bahkan Pemerintah RI lewat surat pernyataan resmi sudah menegaskan pada saat itu bahwa Prabowo tidak bersalah atas peristiwa kerusuhan Mei 1998. Terlebih lagi hampir semua dari sembilan orang aktivis yg diculik saat itu & sudah dilepaskan kini bargabung & ikut hadir dalam acara debat perdana tersebut mendukung pasangan Prabowo-Gibran.
Budiman Sudjatmiko ditemani sembilan mantan aktivis mahasiswa yg pernah diculik mengerjakan konferensi pers di bulan Agustus 2023 lalu untuk mengklarifikasi bahwa mereka semua sudah berdamai dengan Prabowo atas peristiwa masa lalu, & bersepakat untuk mendukung Prabowo supaya sang mantan Jenderal termuda dengan pengalaman & jasa bertempur yg segudang itu tidak lagi terhambat karier politiknya oleh fitnah.
Begitu selesainya acara debat perdana Capres, Melati langsung duduk tanpa beranjak di depan komputernya sambil beberapa kali menghubungi kawan & seniornya di kampus yg dianggap lebih tahu & mengerti peristiwa penculikan 22 aktivis mahasiswa di tahun kelahirannya itu. Satu orang diketahui meninggal dunia, sembilan sudah dilepaskan bahkan dipulangkan ke kampung halamannya, menyisakan 13 orang masih menghilang hingga sekarang. Melati tidak akan berhenti hingga benar-benar paham apa maksud kata-kata 'tendensius' Prabowo kepada Ganjar Pranowo saat debat capres.
Hasil temuannya menyimpulkan Prabowo Subianto memang diberhentikan dari ABRI saat itu oleh Dewan Kehormatan Perwira karena dianggap bertindak di luar kewenangannya termasuk memerintahkan penculikan para aktivis mahasiswa. Tapi, cuma kepada sembilan aktivis yg semuanya sudah dilepaskan & dipulangkan. Prabowo Subianto tidak ada kaitan & bukan diberhentikan karena peristiwa kerusuhan sosial yg dimulai tanggal 14 Mei 1998.
Rumor bahwa Prabowo dipecat dari ABRI karena terkait peristiwa kerusuhan Mei adalah tidak benar. Karena peristiwa penculikan aktivis & kerusuhan Mei adalah dua peristiwa berbeda & tidak saling terkait. Bahwa penculikan 13 aktivis yg masih hilang dilakukan oleh pihak lain yg tidak diketahui siapa, namun sering dipakai untuk memfitnah Prabowo Subianto sebagai pihak yg paling tahu & bertanggung jawab. Logika gampangnya adalah kalau Prabowo memang bertanggungjawab maka pasti sudah terbongkar dalam 25 tahun terakhir. Karena Prabowo sudah tidak lagi memegang wewenang atau tidak berada dalam kekuasaan. Justru ketika Prabowo dipercaya Presiden Jokowi untuk jadi Menteri Pertahanan, dirinya mendukung penuh upaya penerbitan Keputusan Presiden untuk mencari penyelesaian jalur non yudisial atas pelanggaran HAM berat masa lalu. Ketua Tim Pengarah dari pelaksaan Keppres no 4 /2023 tersebut adalah Prof Dr Mahfud MD, yg kebetulan adalah Cawapres pendamping Ganjar saat ini.
Maka dari itulah pada Debat Capres, Prabowo menjawab pertanyaan Ganjar soal 1998 dengan kalimat pendek 'Tanya Cawapresmu'. Meski tak banyak yg menyadari apa maksud dari pernyataan Prabowo itu.
Yang paling meyakinkan Melati adalah ketika salah satu kawannya mengirimkan link youtube rekaman wawancara Liputan 6 SCTV dengan Fadli Zon & alm Munir SH, seorang pahlawan HAM yg saat itu adalah Koordinator Komisi Orang Hilang & Tindak Kekerasan (KONTRAS). Di video tersebut bahkan seorang Munir pun mengatakan bahwa Prabowo mempunyai hak keadilan yg sama atas terungkapnya rahasia 13 aktivis yg hilang.
Sayangnya perasaan Melati harus berkecamuk dengan segala temuannya. Perlakuan Ganjar Pranowo kepada Prabowo Subianto adalah bentuk fitnah yg dilakukan secara terbuka & sambil tersenyum. Bagaimana dapat seorang pemimpin tega mengerjakan itu?, pikir Melati. Walaupun fitnah tersebut jadi rahasia yg sering diasosiasikan kepada Prabowo, selama 20 tahun tidak satupun tokoh masyarakat yg secara terbuka menuduh & memojokkan Prabowo di depan publik nasional seperti yg dilakukan Ganjar Pranowo pada debat capres perdana Selasa 12 Desember lalu.
Tidak juga mantan Menhankam/Pangab Wiranto yg jelas-jelas mantan atasan Prabowo ketika keduanya harus bersaing sebagai Cawapres dimana Prabowo mendampingi Megawati Soekarnoputri & Wiranto mendampingi Jusuf Kalla di Pilpres 2009. Karena memang begitu semestinya pemimpin. Memperlakukan lawan sebagai sesama pejuang yg harus dihormati bukan musuh yg harus dijatuhkan atau dibinasakan. Setiap pemimpin harusnya menghormati etika atau hukum alam yg prinsipnya adalah tidak mengerjakan hal-hal kepada orang lain yg kita sendiri tidak mau orang lain lakukan kepada kita. Ganjar Pranowo mengerjakan yg sebaliknya.
Ternyata Ganjar Pranowo tidak berniat menanyakan tentang 13 aktivis yg hilang tersebut kepada Prabowo untuk kepentingan keluarga mereka yg masih mencari & menunggu setelah 25 tahun. Ganjar berniat menjatuhkan Prabowo dalam tayangan LIVE yg ditonton ratusan juta rakyat Indonesia, dengan memanfaatkan 13 aktivis yg hilang sambil seolah-olah mewakili keluarganya. Kali ini terbukti bahwa Ganjar siap menghalalkan segala cara demi kepentingan dirinya.
Demi kemenangan sesaat, Ganjar Pranowo rela menjatuhkan & mengorbankan orang lain, sesama rakyat Indonesia. Andaikan saja Ganjar Pranowo benar-benar bertanya, masyarakat tidak akan mempertanyakan keaslian tindakan & kemurnian niatnya selama ini. Andai saja Ganjar Pranowo benar-benar bertanya, Melati tidak perlu kehilangan teladan & idolanya. Semoga Ganjar Pranowo sadar & bertobat sebelum datangnya ganjaran alam semesta.
Memilih pemimpin yg keras, tegas, atau pintar, atau santun adalah soal selera. Tapi, memilih antara pemimpin yg betul-betul otentik & selaras antara pikiran, perkataan, & perbuatan dengan yg benar-benar jangok akting & tega, itu menentukan orang seperti apa kita.
Yang jelas, fakta Mahfud MD bersikap lebih fair soal peristiwa 1998, ketimbang Ganjar Pranowo, sudah membuka mata kita semua, bahwasanya, Mahfud MD lebih layak jadi Capres ketimbang Ganjar Pranowo. Andaikata ada jalan mengubah opsi PDIP kepada Mahfud MD, Melati mungkin masih akan memilih Capres Mahfud MD. Sayangnya, paslon pilpres tidak dapat diubah. Melati bertekad & sudah mantap memilih Prabowo - Gibran.