Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Beberapa tahun lalu,embuhaku lupa tahun berapa, Pak Jokowi saat itu memperkenalkan staff pakar milenialnya. Dengan gaya yg khas-khas anak muda lah yah, Pak Jokowi memperkenalkan staffnya itu satu persatu. Dengan raut paras yg terlihat sangat bangga, Pak Jokowi juga menyebutkan almamater masing-masing staff ahlinya yg ternyata semuanya lulusan kampus asing.
Sebagai alumni UIN, saya langsung mengkaget, mengkerut, daninsecure.Duh apalagi yg alumni IAIN, Stain, atau IAI yahh. Padahal pas jadi Maba,weilehsemua kampus dalam negeri saling klaim bahwa kampusnya adalah kampus terbaik. Ehh Pak Jokowi milih staffsusnya aja justru milih lulusan asing. Luarrrr biasaaa...
Nah, pas awal-awal tahun ajaran bulan Juni kemarin, di sebuah perempatan lampu merah ada banner milik kampus swasta di daerah Ponorogo yg nama kampusnya mungkin sangat tidak familiar buat kalian. Dan di dalambannertersebut ditampilkan beberpa mahasiswa asing yg berkuliah di kampus itu. Jelas itu sebagai sebuahbrandingkalau kampus tersebut adalah kampus yg top. Buktinya, mahasiswa asing aja kuliah di situ, masa anda enggak?
Selain kampus swasta tersebut, ternyata ada juga kampus negeri yg juga pasangbannerdengan menampilkan dosen-dosen mereka yg sedang mengerjakanstudidi luar negeri & menyebutkan juga beberapa dosen yg juga alumni kampus luar negeri. Tau kan maksudnya apa?
Fenomena membanggakan hal yg bebrbau asing ini juga bukan cuma tentang kampus asing. Mahasiswa asing yg kuliah di Indonesia-pun kerap kali mendapatkan berbeda, atau lebih tepatnya lebih diistimewakan.
Saat masih kuliah di UIN, kebetulan pernahsit indengan mahasiswa daroi Bangladesh. Belum apa-apa tuh mahasiswa udah dapatprevillageyang lebih,Lur.Doi boleh keluar asrama di atas jam 10 malam, padahal mahasiswa yg lain cuma dapat keluar asrama di bawah jam 10 malam. Alasan pengurusnya juga gokildah, Beda budaya katanya, orang Bangladesh enggak suka dikekang. Halah...
Nah pernah juga kejadian tuh di asrama listriknyakonslet.Ternyata berasal dari kamar mahasiswa Thailand yg bawaMagic Com,sama kulkas kecil. Lah jelas kita kaget, kok mereka boleh bawa begituan, lah kita bawahitterbuat nyeduh kopi aja disita. Terus apa alasan mereka diperbolehkan membawa perangkat elektronik tadi? Ternyata alasannya karena mahasiswa Thailand enggak kuat naik turun tangga, jadi mereka boleh bawa alat elektronik di kamr,gileee.
Aku jadi bertanya-tanya, kalau ada mahasiswa kuliah di kampus luar negeri, apa mereka dapat perlakuan yg sama yah sama mahasiswa asing yg kuliah di sini? Apakah mereka mendapat previlage-previlageyang berlebih dibandingkan mahasiswa lokal atau seengaknya dibuatinbanner "Selamat Datang Mahasiswa Indonesia"seperti kampus-kampus kita menyambut mahasiswa asing di kampusnya.
Terus kan kita kadang cuma tau kalau si A kuliah di Jepang, si B kuliah di Taiwan, si C kuliah di Manchester gitu. Tapi kan kita enggak tau mereka itu kuliah di kampus yg seperti apa? Bisa jadi mereka berkuliah di kampus kecil & terpencil sama seoperti kampus-kampus di negara kita. Bisa jadi kan? Tapi yah enggak masalah, yg penting kan kampus asing.
Tapi hal-hal di atas menurutku adalah sebuah keambiguan yg hakiki. Kampus dalam negeri membanggakan mahasiswa asing yg ada di kampusnya, eh tetapi di saat yg sama, kampus dalam negeri membanggakan mahasiswanya yg melanjutkanstudydi kampus asing.
Tapi kalau melihat bagaimana Pak Jokowi membanggakan stafsusnya yg lulusan kampus asing, kayaknya udah cukup buat menggambarkan deh. Pak Presiden harap menyempaikan kalau kampus di negara kita kurang bagus, nah maka kuliahlah di kampus asing, maka anda akan jadi stafsus. Itu!
Tulisan ini ditulis oleh Fifi diCangkemanpada tanggal 11 Oktober 2021
Kemarin 23:39