roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Seorang laki-laki berandalan yang bisa dibilang setengah dewasa terancam akan di tembak mati oleh pimpinan gangster gara-gara merebut gadis si bandit. Pemuda gondrong berusia sekitar 18 an tahun tersebut termasuk berandalan kelas berat yang bersekolah di sebuah sekolah publik di New York.
Atas saran gadis yang direbutnya, dia menceritakan semuanya kepada gurunya, Miss M. Guru bijaksana ini menyarankan kepadanya untuk menghadap kepala sekolah untuk mendapat perlindungan ekstra agar selamat dalam 24 jam terakhir. Si pemuda bimbang. Berandalan seperti dia merasa dilecehkan bila harus mengadu kepada sekolah, hanya karena urusan nyawa.
Namun sang guru berhasil meyakinkannya. Meyakinkannya untuk membuang sedikit malu agar selamat dan masih bisa bertemu dengan orang yang dia cintai, sementara pihak sekolah melapor ke Kepolisian untuk meringkus si bandit.
Akhirnya si berandalan menurut. Dengan setengah hati tentu saja. Dia melangkah bimbang memasuki pelataran kantor kepala sekolah.
Miss M bergegas menyusul beberapa saat kemudian ke kantor kepala sekolah.
"Selamat pagi..." katanya
"Kita terbiasa mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kantor orang lain, miss M" kata kepala sekolah dingin. Miss M hanya tersenyum kecut pada kelupaannya.
"Mmmm... maaf atas kekhilafan saya Pak. Tapi ada masalah mendesak. Apakah Emilio tadi mampir ke sini?" Emilio si berandalan.
"Ya...."
"Oh syukurlah..." Miss M bernafas lega.
"Tapi aku mengusirnya.."
"Kenapa?..." Miss M ketakutan.
"Sama seperti anda, dia tidak mengetuk pintu. Anak-anak harus dididik sopan santun dari mulai dini. Kita tidak bisa berharap banyak pada generasi hiphop...."
Miss M membanting pintu dan berlari ke arah kelasnya.
Emilio mati dengan kepala bolong tertembus peluru. Si gadis menjerit. Suasana sekolah rusuh. Darah merah seakan air membasahi si gadis yang masih memeluk tubuh kaku Emilio. Air matanya dan teman-teman sekelasnya membanjir diam dalam kepiluan teramat sangat.
Miss M menangis kecut. Dia gagal menyelamatkan Emilio.
Dia gagal menyelamatkan sebuah nyawa hanya karena kekakuan sebuah birokrasi sopan santun yang tidak memberi ampun pada kealpaan 'lupa'.
Emilio mati hanya karena 'lupa' mengetuk pintu ruang kantor kepala sekolah.
Miss M memeluk si gadis membiarkan darah Emilio juga membasahinya.
----------
Penggalan kisah tadi menggambarkan betapa besarnya resiko yang bisa diakibatkan sebuah 'lupa'. Lupa yang manusiawi. Kesalahan kecil yang mungkin saja sangat sepele untuk dibesar-besarkan.
Lupa adalah sifat manusia. Seperti juga khilaf dan segala kesempurnaan lain yang dimiliki manusia. Semua ini bisa menjadi anugerah. Karena mungkin hanya robot terpogram yang tidak bisa lupa. Dan lupa juga membuktikan anda seorang manusia. Bukan makluk mengerikan yang memaksa semua orang untuk mengingat apa-apa saja yang sudah anda janjikan kepada orang lain.
Namun, sifat manusiawi ini tak jarang dijadikan alasan untuk berdali pada sesuatu. Dengan harapan mendapatkan maaf, lupa bisa tersebar di mana-mana. Maaf sendiri sering terucap tulus, hanya karena kita sadar betapa manusiawinya lupa.
Mungkin juga bentrokan hebat Yahudi, Kristen Islam bermuara pada sebuah maha lupa fakta keturunan Abraham/Ibrahim mereka. Mungkin juga alienisasi (pengucilan) kelompok minoritas terjadi akibat lupanya masyarakat akan kemanusiaan mereka. Penghujatan pada Sukarno dan Suharto bisa terjadi mungkin juga karena kita melupakan kejasaan keduanya. Bahwa kita terkadang terlalu terbawa emosi, sehingga lupa untuk menyediakan maaf bagi mereka-mereka yang 'seharusnya' menyadari kelupaannya.
Dan Lupa, empat huruf membentuk sebuah kata, yang bisa menyiratkan kemanusiawian, bisa juga sedikit bodoh, bisa saja kesengajaan yang pengecut, namun bisa juga tulus.
Atas saran gadis yang direbutnya, dia menceritakan semuanya kepada gurunya, Miss M. Guru bijaksana ini menyarankan kepadanya untuk menghadap kepala sekolah untuk mendapat perlindungan ekstra agar selamat dalam 24 jam terakhir. Si pemuda bimbang. Berandalan seperti dia merasa dilecehkan bila harus mengadu kepada sekolah, hanya karena urusan nyawa.
Namun sang guru berhasil meyakinkannya. Meyakinkannya untuk membuang sedikit malu agar selamat dan masih bisa bertemu dengan orang yang dia cintai, sementara pihak sekolah melapor ke Kepolisian untuk meringkus si bandit.
Akhirnya si berandalan menurut. Dengan setengah hati tentu saja. Dia melangkah bimbang memasuki pelataran kantor kepala sekolah.
Miss M bergegas menyusul beberapa saat kemudian ke kantor kepala sekolah.
"Selamat pagi..." katanya
"Kita terbiasa mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kantor orang lain, miss M" kata kepala sekolah dingin. Miss M hanya tersenyum kecut pada kelupaannya.
"Mmmm... maaf atas kekhilafan saya Pak. Tapi ada masalah mendesak. Apakah Emilio tadi mampir ke sini?" Emilio si berandalan.
"Ya...."
"Oh syukurlah..." Miss M bernafas lega.
"Tapi aku mengusirnya.."
"Kenapa?..." Miss M ketakutan.
"Sama seperti anda, dia tidak mengetuk pintu. Anak-anak harus dididik sopan santun dari mulai dini. Kita tidak bisa berharap banyak pada generasi hiphop...."
Miss M membanting pintu dan berlari ke arah kelasnya.
Emilio mati dengan kepala bolong tertembus peluru. Si gadis menjerit. Suasana sekolah rusuh. Darah merah seakan air membasahi si gadis yang masih memeluk tubuh kaku Emilio. Air matanya dan teman-teman sekelasnya membanjir diam dalam kepiluan teramat sangat.
Miss M menangis kecut. Dia gagal menyelamatkan Emilio.
Dia gagal menyelamatkan sebuah nyawa hanya karena kekakuan sebuah birokrasi sopan santun yang tidak memberi ampun pada kealpaan 'lupa'.
Emilio mati hanya karena 'lupa' mengetuk pintu ruang kantor kepala sekolah.
Miss M memeluk si gadis membiarkan darah Emilio juga membasahinya.
----------
Penggalan kisah tadi menggambarkan betapa besarnya resiko yang bisa diakibatkan sebuah 'lupa'. Lupa yang manusiawi. Kesalahan kecil yang mungkin saja sangat sepele untuk dibesar-besarkan.
Lupa adalah sifat manusia. Seperti juga khilaf dan segala kesempurnaan lain yang dimiliki manusia. Semua ini bisa menjadi anugerah. Karena mungkin hanya robot terpogram yang tidak bisa lupa. Dan lupa juga membuktikan anda seorang manusia. Bukan makluk mengerikan yang memaksa semua orang untuk mengingat apa-apa saja yang sudah anda janjikan kepada orang lain.
Namun, sifat manusiawi ini tak jarang dijadikan alasan untuk berdali pada sesuatu. Dengan harapan mendapatkan maaf, lupa bisa tersebar di mana-mana. Maaf sendiri sering terucap tulus, hanya karena kita sadar betapa manusiawinya lupa.
Mungkin juga bentrokan hebat Yahudi, Kristen Islam bermuara pada sebuah maha lupa fakta keturunan Abraham/Ibrahim mereka. Mungkin juga alienisasi (pengucilan) kelompok minoritas terjadi akibat lupanya masyarakat akan kemanusiaan mereka. Penghujatan pada Sukarno dan Suharto bisa terjadi mungkin juga karena kita melupakan kejasaan keduanya. Bahwa kita terkadang terlalu terbawa emosi, sehingga lupa untuk menyediakan maaf bagi mereka-mereka yang 'seharusnya' menyadari kelupaannya.
Dan Lupa, empat huruf membentuk sebuah kata, yang bisa menyiratkan kemanusiawian, bisa juga sedikit bodoh, bisa saja kesengajaan yang pengecut, namun bisa juga tulus.