Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Penulis: Kharirus Saidiyah el Firda
Editor: Fatio Nurul Efendi
Cangkeman.net -Banyak lho yg masih berpikiran kalau ibu rumah tangga itu tak boleh sarjana, atau kebalik ya, sarjana itu tidak boleh jadi ibu rumah tangga? Apapun pilihannya tetap sama aja maknanya. Jadi, kalau sudah sarjana itu harus & kudu wajib jadi pegawai kantoran? Begitukah? Jadi karyawan yg menghasilkan banyak uang? Kalau ibu rumah tangga belum tentu dapat hasilkan uang. Kurang lebih itulah yg melekat pada judul kali ini.Hemmm sebentar kita hela nafas sejenak sambil merenung apakah memang seperti itu.
Sejatinya gelar sarjana disandang untuk mereka yg menempuh pendidikan di lingkungan kampus. Jadi yg sudah lulus ya pasti namanya sarjana. Sekarang tinggal kita kembalikan ke perseorangan masing-masing nih pasca sudah menyandang gelar sarjana mau ngapain? Mau bekerja di kantoran? Boleh, mau jadi pebisnis sukses? Ide bagus. Mau lanjut kuliah lagi? Luar biasa. Mau jadi ibu rumah tangga? Tidak masalah. Semua itu adalah opsi masing-masing. Pasti mereka yg sudah menentukan opsi & mengambil jalan sudah memikirkan matang-matang semalam suntuk lah minimal.
Namun, seolah yg masih jadi nyinyiran masyarakat sekitar adalah kalau sarjana ini milihnya jadi ibu rumah tangga. Padahal, namanya wanita kalau sudah menikah maka dia memiliki kewajiban menjalankan peran sebagai istri & ibu. Mau itu sarjana atau tidak toh juga tidak ada hubunganya sama jadi ibu rumah tangga. Ada juga yg bilang Lulusan sarjana kok jadi ibu rumah tangga, kan bayar kuliahnya mahal.Namanya pendidikan itu salah satu investasi dalam hidup, gak dapat cuma dipikir instan seperti ini. Investasi utamanya untuk anak, kalau ibunya pintar maka dapat nular ke anak. Sampai ada sebutan ibu adalah madrasah / sekolah anak perdana kali. Logikanya kalau madrasahnya bagus cetakan produknya juga bagus dong.
Ada juga nih versi lain yg bilang,Lulusan sarjana kok jadi ibu rumah tangga, gak dapat punya penghasilan sendiri dong, ngandelin suami terus.Nah, kalau yg ini sih pedes ya rasanya. Jlepplangsung nusuk perasaan terdalam, nyeseknya lumayan. Para ibu-ibu rumah tangga yg sabar ya kalau ngadepin ucapan kategori toxic seperti ini. Zaman ini sudah sangat modern, teknologi sudah sangat canggih, peradaban manusia sangat mengagumkan dalam perkembanganya. Begitu pula dengan perkembangan bisnis saat ini. Adanya media online baik sosmed, marketplace, maupun koneksi forum menciptakan banyak peluang untuk berbisnis & bekerja. Bekerja Pun juga tidak melulu di kantor, dapat aja kerja sebagaifreelancer. Atau jadi pebisnisonlinedi rumah juga sedangtrendsaat ini. Kadang hasilnyano play-playlho, dapat di atas karyawan. Di rumah sambil mengurus suami, anak, & pekerjaan rumah tangga eh dapatcuan.
Sepakat kan yg namanya sarjana sungguh tidak wajib kerja kantoran. Bebas aja pilih jalan hidup masing-masing yg penting yakin, optimis, terus berusaha pantang menyerah, ikhtiar, doa, & yg terakhir tawakal aja sama Yang Maha penguasa bumi & langit. Apapun profesimu mau jadi pegawai kantoran atau ibu rumah tangga, pendidikan itu penting sebagai bekal & investasi, bukan cuma tentang gelar sebagai sarjana tetapi makna di balik gelar tersebut. Biarkan saja para orang-orang nyinyir toh mereka juga punya hak berpendapat, jalani saja kehidupan ini karena bahagia & sukses kita yg tentukan, bukan mereka.
Tulisan ini ditulis diCangkemanpada tanggal 13 Desember 2022
Hari ini 10:05