roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Lu Lan Menangis, Maria Nyaris Tanpa Ekspresi
Sabtu, 16 Agustus 2008 | 11:34 WIB
Laporan wartawan Kompas Johanes Waskita
BEIJING, SABTU — Tak ada kegembiraan berlebihan mengiringi kemenangan Maria Kristin Yulianti atas Lu Lan (China) dalam perebutan medali perunggu bulu tangkis tunggal putri Olimpiade Beijing 2008 di Beijing University of Technology Gymnasium, Sabtu (16/8). Maria hanya tersenyum sambil mengepalkan tangan.
Sesaat kemudian, dia menghampiri Hendrawan di bangku pelatih dan sang pelatih memberinya ucapan selamat dengan tepukan di punggung. Maria kembali ke tengah lapangan untuk menyalami Lu Lan yang tak mampu menahan kecewa dan berurai air mata.
Maria hanya tersenyum saat ditanya mengapa tak ada ekspresi kemenangan menyambut satu keping perunggu, prestasi tertinggi pemain putri Indonesia dalam 12 tahun terakhir. "Ya, memang cuma begini," ujarnya kalem.
Kemenangan Maria atas Lu Lan, 11-21, 21-13, 21-15, menyumbangkan medali pertama bagi Indonesia di cabang bulu tangkis pada Olimpiade Beijing 2008. Kali terakhir tunggal putri menyumbangkan medali adalah perak dan perunggu pada Olimpaide Atlanta 1996, hasil kerja keras Mia Audina dan Susi Susanti. Susi Susanti sebelumnya menyumbang emas, medali emas Olimpiade pertama untuk cabang bulu tangkis, pada Olimpiade Barcelona 1992.
Menahan sakit
Maria mengaku sudah sangat lelah dan nyaris tak kuat menahan ngilu di paha kanannya pada game ketiga. "Tetapi, Lu Lan juga kelihatan kecapekan, jadi terus saja," ujarnya. Menurutnya, Lu Lan tak tampil seperti gaya aslinya yang banyak menyerang dan bermain cepat.
Hasil peringkat ketiga melebihi perkiraan banyak pihak, bahkan Maria sendiri tidak menyangka bisa mencapai semifinal. Kepercayaan dirinya timbul setelah mengalahkan unggulan keenam asal Denmark, Tine Rasmussen, di babak 16 besar.
"Waktu lawan Tine juga tak terpikir bisa menang. Setelah itu jadi lebih enak sampai bertemu Zhang Ning di semifinal," ujarnya.
Lu Lan mengaku, strategi bertandingnya berantakan di game kedua dan ketiga. Maria lebih lambat di game pertama, tapi dia lebih stabil di dua game berikutnya. "Saya membuat banyak kesalahan sendiri karena terburu-buru dan gugup," ujarnya.
