• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Liga Premier kian bingung tentukan "restart"

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Diggie
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Diggie

IndoForum Activist C
No. Urut
287751
Sejak
6 Apr 2020
Pesan
14.404
Nilai reaksi
1
Poin
0
Berikut adalah berita Liga Premier kian bingung tentukan "restart".

Liga Premier kian bingung tentukan restart


Bola di dalam lapangan sepak bola di Stadion St Mary's, Southampton, Inggris, 22 Februari 2020. (Action Images via Reuters/Matthew Childs)

Jakarta (ANTARA) - Menjadi negara dengan jumlah korban meninggal dunia akibat virus corona terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat & jumlah kasus terkonfirmasi terbesar kedua di Eropa setelah Spanyol, menciptakan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tak mau gegabah memberi lampu hijau untuk memutar kembali roda kehidupan normal di negerinya, termasuk meneruskan musim tertunda Liga Premier.

Maksud hati mengikuti langkah Jerman dalam meneruskan lagi musim lomba sepak bola 2019-2020, apa daya liga sepak bola Inggris tak dapat secepat Liga Jerman dalam melanjutkan musim yg terhenti.

Karena Inggris memang beda sekali dengan Jerman.

Kalau di Inggris ada 219 ribuan kasus virus corona, maka catatan kasus terkonfirmasi Jerman adalah 171 ribu. Lebih kontras lagi, & ini yg membedakan kualitas respons pandemi kedua negara & sekaligus tingkat keyakinan masing-masing otoritas dalam menghadapi konsekuensi nanti, adalah disparitas pada jumlah korban meninggal dunia akibat pandemi virus corona.

Baca juga: Pemerintah Ingris: belum ada lampu hijau Liga Premier berlanjut

Sampai Senin pagi ini sudah 31 ribu nyawa melayang di Inggris ketika saat bersamaan "cuma" ada 7.500-an korban meninggal dunia di Jerman. Tingkat fatalitas virus corona di Inggris mencapai 14,5 persen, sebaliknya Jerman cuma 4,4 persen.

Dan Minggu malam kemarin Johnson berpidato di hadapan rakyatnya. "Saat ini bukan waktunya mengakhiri lockdown," mengatakan dia seperti dikutip The Guardian.

Johnson mengatakan sekolah-sekolah baru dapat buka lagi Juni nanti, tetapi dia sama sekali tidak menyinggung olah raga & sepak bola, apalagi melanjutkan lagi lomba liga sepak bola profesional seperti dilakukan Kanselir Angela Merkel kepada Bundesliga di Jerman pekan lalu.

Baca juga: Merkel izinkan Bundesliga lanjutkan lomba pertengahan Mei

Padahal dua pekan lalu Menteri Kebudayaan Inggris Oliver Dowden menyatakan Liga Premier semestinya dapat kembali "sesegera mungkin" yg seketika membangkitkan asa para pembesar sepak bola profesional Inggris untuk memulai lagi kompetisi.

Jelas perkembangan terakhir ini membuyarkan upaya Liga Inggris dalam sesegera mungkin melanjutkan lagi lomba yg mereka istilahkan dengan "Project Restart" itu.

Dan manakala lampu hijau tak kunjung didapat dari pemerintah, saat bersamaan Liga Premier dihadapkan kepada tenggat waktu 25 Mei dari badan sepak bola Eropa, UEFA, untuk jadi tidaknya melanjutkan kompetisi.

Mereka pun terus berpacu dengan waktu.

Senin pagi waktu setempat atau Senin sore WIB nanti pengelola Liga Premier akan berjumpa dengan kali ini tanpa acuan jelas karena sama sekali tak mendapatkan petunjuk dari pemerintah Inggris mengenai boleh tidaknya melanjutkan lagi seperempat musim yg terhenti pandemi.

Mengutip Sky Sports, klub-klub berusaha menyikapi pengumuman terbaru Johnson itu tetapi masih dengan semangat melanjutkan kompetisi.

Baca juga: UEFA beri tenggat 25 Mei bagi rencana lomba domestik di Eropa
Baca juga: Bagi Komite medis UEFA, liga musim ini memungkinkan untuk dilanjutkan


Tak mau venue netral

Mereka kemungkinan membahas rencana menggelar tes COVID-19 dua kali setiap pekan, baik kepada pemain & ofisial. Dan tes ini haruslah mendapat persetujuan Kesehatan Masyarakat Inggris yg merupakan bagian dari Departemen Kesehatan Inggris.

Juga akan dibahas komitmen mereka kepada kesepakatan semula bahwa 18 Mei adalah waktu mulainya lagi latihan. Tetapi mereka tak dapat segera mungkin memastikan kapan pertandingan akan dilangsungkan kembali, apalagi Johnson tak bilang apa-apa soal "Project Restart" itu.

Beberapa pekan lalu mereka sudah menetapkan 8 Juni atau 12 Juni sebagai tanggal mulainya "Project Restart" itu. Namun, ini cuma keharapan mereka yg kemudian makin membesar setelah Jerman memberi lampu hijau kepada Bundesliga.

Liga Inggris sejak lama memang sudah bertekad untuk mengakhiri lomba di lapangan.

Baca juga: Polisi Inggris serukan asa rencana venue netral
Baca juga: Brighton khawatirkan akibat "integritas kompetisi" di stadion netral

Mereka tak mau mengadopsi model Belanda yg membatalkan musim lomba sehingga tak ada yg dinobatkan untuk status apapun & tidak pula skenario Prancis yg menutup lomba dengan menetapkan Paris Saint Germain sebagai pemenang liga musim ini, dua klub yg terdegradasi & beberapa klub yg masuk lomba Eropa.

Mereka harap mengikuti pola Jerman, tetapi prakondisi kesehatan di Jerman berbeda jauh dengan Inggris, & ini menciptakan mereka mengenalkan prakarsa lomba mini di satu venue netral atau dipusatkan di satu tempat. Ide ini mirip dengan prakarsa lomba bola basket profesional NBA di Amerika Serikat.

Dengan cara ini para pemain & ofisial berada di satu venue & sekitarnya. Dalam mengatakan lain dikarantina di venue netral itu guna meminimalkan kontak dengan siapapun di luar venue hingga lomba selesai sehingga kecil sekali ada yg terpapar virus corona.

Namun inisiatif ini ditentang oleh sejumlah klub Liga Premier sendiri. Watford, Brighton & Aston Villa adalah di antara klub yg tidak tertarik dengan ide ini.

"Dengan semua kompromi & risiko kesehatan ini kami diminta untuk mengakhiri lomba yg tidak sama dengan lomba ini dimulai. Adilkah ini?," tulis CEO Watford Scott Duxbury dalam The Times, Inggris.

Watford adalah salah satu dari enam klub yg kemungkinan terdegradasi. Walaupun menempati satu level di atas zona degradasi pada peringkat ke-17, Watford memiliki poin sama 27 dengan Bournemouth (18) & West Ham (16). Dua klub lainnya adalah Aston Villa & Norwich yg berada di dua terbawah.

Ketentuan Liga Premier mengharuskan tiga klub terbawah dalam klasemen terlempar dari liga elite ini ke divisi dua, Liga Championship, sedangkan Liverpool adalah pemimpin klasemen dengan selisih 25 poin dari peringkat kedua Manchester City.

Baca juga: FA tawarkan Wembley untuk bantu Liga Premier selesaikan musim
Baca juga: Muncul wacana pengurangan durasi babak saat rampungkan Liga Premier


Rentan terpapar

Secara umum, ada empat kelompok akbar yg mengharapkan skenario-skenario berbeda mengenai lanjut & tidaknya Liga Premier.

Kelompok perdana adalah yg mengharapkan lomba jalan terus dengan apapun caranya. Salah satu alasannya adalah karena kualifikasi Eropa harus ditentukan di lapangan & bahwa Liverpool tinggal dua pertandingan lagi untuk memastikan gelar pemenang liga pertamanya dalam 30 tahun.

Tetapi ternyata alasan utama sebenarnya adalah perkara uang karena Liga Premier terancam kehilangan 1 miliar pound (Rp18,5 triliun) kalau tidak menyelesaikan lomba 2019-2020, selain risiko masing-masing klub kehilangan pendapatan dari pemegang hak siar sebesar 100 juta pound (Rp1,85 miliar) yg dihitung dari setiap pertandingan yg tidak jadi dimainkan.

Kelompok kedua yg harap melanjutkan lomba namun dengan tidak harap membahayakan kesehatan pemain, ofisial, tim, & keluarga mereka.

Kelompok ketiga adalah yg mengharapkan ada terlebih dahulu jaminan kesehatan. Masalahnya, virus jadi sangat menentukan dalam jadi tidaknya liga dilanjutkan kembali.

Kelompok keempat adalah yg sama sekali tidak mengharapkan lomba dilanjutkan. Kelompok ini bahkan menolak skenario satu venue netral untuk menuntaskan kompetisi.

Baca juga: Sordell harap pemain Liga Premier punya hak menolak kembali beraksi
Baca juga: Klub-klub Liga Inggris tegaskan komitmen untuk selesaikan musim

Situasi memang masih pelik bagi Liga Premier karena krisis virus corona di Inggris bukannya membaik. Kini, kasus terkonfirmasi sudah 18.000 per hari atau jauh dari target pemerintah 4.000 kasus per hari.

Kalangan kesehatan, & kemudian diamini Boris Johnson yg nyawanya sendiri nyaris direnggut virus corona, menyatakan terlalu dini melonggarkan lockdown, apalagi ada skenario gelombang kedua serangan virus.

Bahkan para peneliti London School of Hygiene & Tropical Medicine & Imperial College London mengingatkan relaksasi lockdown bakal menciptakan sekitar 100 ribu orang Inggris meninggal dunia akibat virus tersebut hingga akhir tahun ini.

Olahragawan sendiri, termasuk pesepakbola, adalah orang-orang yg rentan terserang karena, paling tidak menurut mantan dokter regu Chelsea Eva Carneiro, atlet profesional mudah terserang virus, termasuk COVID-19.

"Ini terlihat dari tes darah & tingkat serta insiden saluran pernafasan atas & infeksi lainnya yg menunjukkan bagaimana virus seperti ini mulai. Ini karena volume olahraga yg mereka mainkan," mengatakan Carneiro seperti dikutip Daily Mail.

Carneiro tidak membual karena dalam kondisi tidak berkerumun pun masih ada atlet yg dites positif COVID-19, di antaranya tiga pemain Brighton & Hove Albion Sabtu pekan lalu.

Untuk itu, agaknya Liga Premier belum dapat cepat-cepat menyusul langkah Bundesliga Jerman yg segera memulai lagi bertanding 16 Mei nanti.

Baca juga: Brighton laporkan pemain ketiga yg positif terjangkit COVID-19
Baca juga: Arteta bicara soal keselamatan pemain hadapi COVID-19

Berita diatas dikutip dari internet, jika Liga Premier kian bingung tentukan "restart" adalah spam, mohon beritahu kami.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.