yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Ketika Rochelle Maize merenovasi rumahnya seluas 567 meter persegi di Beverly Hills, California, bukan dapur atau home theater yang masuk daftar barang yang harus dia miliki, tetapi ruang penyimpanan pakaian ada di urutan pertama.
Dia menyewa seorang desainer untuk menciptakan sebuah lemari dinding berukuran 37 meter persegi dengan sebuah TV layar datar, kulkas untuk Champagne, lemari dinding dengan lukisan daun berwarna perak dan sebuah lampu gantung kristal besar. Total biaya yang dibutuhkan adalah $100 ribu (sekitar Rp973 juta). “Saya ingin merasakan seperti berjalan ke dalam sebuah butik yang sangat mewah di Beverly Hills,” tutur agen real estate itu. Ia menambahkan bahwa lemari yang didesain oleh Lisa Adams dari L.A. Closet Design, sebagian terinspirasi oleh toko Chanel. “Hal pertama yang saya lakukan saat pulang ke rumah adalah ke atas dan berada di tempat itu.
Dulunya lemari adalah ruang sekunder yang dirancang khusus untuk penyimpanan, namun kini ia menjadi fitur utama rumah. Lebih dari sekadar lemari yang bisa dimasuki, kini ruang penyimpangan dirancang terlihat lebih seperti lounge mewah atau toko perancang terkenal. Pakaian dan tas dalam wadah layar kaca menyala seperti pahatan, sofa yang dirancang khusus diposisikan dekat bar kristal Baccarat atau area untuk tempat sarapan.
Desainer dan arsitek mengatakan kepada beberapa klien, biaya untuk ruangan itu bisa menyaingi atau melampaui dapur seharga Rp973 juta, dengan ruangan besar yang dirancang khusus agar nyaman untuk berjalan-jalan dengan lemari mewah, sound system, dan sudut kantor. Selain itu, pengembang dan pembangun rumah tidak hanya memasang jendela di lemari, mereka juga menyesuaikan rancangan rumah untuk memastikan ruang berpakaian ini mendapatkan pandangan dan cahaya alami terbaik.
California Closets, waralaba pembuat lemari asal Amerika Utara, mengatakan pengeluaran untuk sistem penyimpanan yang dipesan khusus naik lebih dari 10% pada 2012 dari 2011. Ginny Snook Scott, wakil presiden perusahaan penjualan dan pemasaran, mengatakan perusahaan telah melihat peningkatan permintaan untuk lemari mewah seperti bar anggur, TV layar datar, dan ruang ganti dalam satu tahun terakhir.
"Kami tidak lagi menyebutnya sebagai lemari," kata kontraktor Gary Drake yang berbasis di Los Angeles. Istilah yang lebih disukai untuk ruang tersebut antara desainer dan klien di tempat dia bekerja adalah "ruang ganti." Sebuah lemari yang dikerjakannya saat ini di perumahan Brentwood Los Angeles sudah termasuk master suite berukuran 148,6 meter persegi - 55,7 meter persegi untuk ruang ganti yang sangat canggih. Ruang seharga Rp2,9 miliar itu memiliki kayu yang dipernis, langit-langit berkubah, dan pusat hiburan.
"Lemari itu menjadi sebesar ruang tamu atau ruang keluarga," kata Martin Mitchell, dari Perri Interiors Martin daerah San Francisco. Baru-baru ini, dia merancang lemari berukuran 120,7 meter persegi untuk klien suami-istri. Lemari itu memiliki bahan kayu eksotis dan pintu kaca tebal yang dirancang untuk menampilkan pakaian, brankas perhiasan, pencahayaan yang dikontrol melalui iPad dan bar. Untuk mengakomodasi koleksi pakaian yang banyak, sayap terpisah ditambahkan ke tempat tersebut.
Melanie Charlton, CEO Clos-ette, sebuah perusahaan yang berbasis di New York yang mengkhususkan diri dalam lemari mewah, mengatakan proyek khasnya berada pada kisaran harga mulai dari $50ribu-250ribu (sekitar Rp486 juta-Rp2,4 miliar), dan bahkan mencapai $2,5 juta (sekitar Rp24 miliar) untuk lemari bertingkat tiga dengan eskalator untuk istri seorang pejabat pengusaha kaya di Mississippi. "Ini menjadi seperti piala," katanya. "[Klien] juga ingin memiliki dapur yang bagus juga, tapi itu hal yang sudah kuno."
Beberapa desainer mengatakan lemari yang luas adalah reaksi atas munculnya penataan lantai terbuka yang modern, terutama kamar besar yang mencakup dapur dan tempat tidur. Memiliki lemari bisa juga berfungsi sebagai lounge tempat orang dewasa sejenak menikmati privasi yang tidak bisa didapat dari ruang keluarga terbuka.
Lemari mewah terbaru ini dirancang untuk berfungsi sebagai kamar mereka sendiri, seringkali dengan ruang tamu bergaya tempat duduk dengan sofa dan bangku. "Kami melihat lemari menjadi lebih sebagai sebuah ruang sosial," kata Alison Schwartz dari tracker real-estate online Move.com. Ms Adams, yang mendirikan LA Closet Design lima tahun lalu, mengatakan ia memberitahu klien untuk memikirkan lemari sebagai ruang keluarga multifungsi. "[Teman] ingin duduk-duduk di sana, mereka ingin melihat apa yang Anda miliki," katanya. Memilah pakaian untuk membuang barang yang sudah usang bisa dilakukan “dengan teman-teman perempuan Anda sambil minum anggur." Yvonne Colacion, seorang desainer interior yang berbasis di Los Angeles, merancang lemari besar berlantai dua untuk klien, dia mengatakan lemari itu menjadi tempat favorit kliennya untuk duduk dan membaca buku.
Bagi pria, lemari berkembang menjadi sesuatu yang mirip dengan gua manusia berteknologi tinggi. Adams mengatakan dia merancang lemari untuk pria dengan bar sarapan berisi yoghurt, sereal dan minuman dan sofa kulit untuk menonton TV. "Ini adalah ruang keluarga, lebih dari sekadar untuk tempat pakaian," katanya. Desainer interior dan lemari mengatakan tempat sepatu dilapisi kaca dengan pencahayaan dari bawah dan laci kacamata juga menjadi fitur populer.
Lemari pamer tersebut juga merupakan jawaban untuk estetika desain minimalis yang ditemukan di rumah kontemporer, menjadi ruang praktis untuk menempatkan perabot rumah besar dan barang-barang lainnya. "Mengapa Anda ingin membeli beberapa furnitur besar yang lebarnya 6-kaki ketika Anda dapat menempatkan semuanya dalam lemari?" kata Diana Augspurger, mantan presiden Association of Closets & Storage Professionals.
Lalu ada pilihan yang sekarang ditawarkan oleh teknologi baru yang dulunya hanya layak untuk ruang komersial. Pencahayaan LED, dulunya terlalu mahal untuk digunakan di rumah, menghasilkan sedikit panas dan menghilangkan bahaya kebakaran saat pencahayaan yang sangat dekat dengan pakaian. Tangkai pakaian dan rak sepatu bercahaya, dan lampu otomatis yang menyala saat pintu lemari terbuka, adalah fitur populer. Jendela pelapis yang menghalangi sinar UV juga memberikan pilihan cahaya alami dan meminimalkan efek samping pakaian memudar.
Tempat untuk makeup di wastafel, serta kulkas kecil untuk kosmetik halus, merupakan permintaan terbaru yang telah diakomodasi kontraktor, Drake. Charlton dari Clos-ette mengatakan fitur baru yang dia sertakan dalam desain terbaru adalah sebuah "peralatan gaya virtual" yang terdiri dari layar komputer dan iPad yang dibenamkan dalam lemari yang bisa memperlihatkan gambaran atas pakaian mereka sehingga mereka dapat bekerja dari jauh dengan penata gaya mereka.
Nancy Selldorff, seorang ibu rumah tangga di Boston, saat ini tengah merenovasi kondominium 12 lantai. Dia mengatakan ruang penyimpanan pakaian adalah dorongan besar untuk proyek renovasi tersebut, yang juga termasuk memperluas dapur menjadi ruang besar. Ketika selesai, lemarinya akan menjadi ruang pertama yang dia masuki dalam kamar utama seluas 78,9 meter persegi itu. Ruang tersebut akan memiliki lemari kayu Wenge, rak sepatu dari kaca yang dilengkapi cahaya lampu, dan rak tas serta meja dapur di bagian tengah dengan kulit warna putih pada bagian atasnya.
"Saya benar-benar menginginkan sebuah tempat yang terasa istimewa dan pribadi," kata Ny. Seldorff, klien Ny. Adams. "Ketika saya mengenakan pakaian sehari-hari, hal itu membuatnya merasa seperti acara khusus."
Pengembang kondominium juga memerhatikan selera. Echo, sebuah kondominium di wilayah Miami yang baru-baru ini dipasarkan, akan memiliki beberapa unit yang luasnya sekitar 260 kaki persegi dengan lemari seluas 27,8 meter persegi, lebih dari 10% dari rencana total lantai. Lemari, bagian dari master suite seluas 65 meter persegi, akan mencakup "bar tengah malam" dengan mesin kopi, bar, dan sebuah kulkas kecil. Para pembeli dapat memilih beberapa pilihan lampu gantung. Unit kondominium itu berada di kisaran harga mulai dari Rp8,7 miliar sampai Rp30 miliar.
Di Los Angeles, pengembang Beverly West, kondominium 22 lantai dengan 35 hunian, memberikan beberapa ruang premium dalam rumah untuk lemari, memberikan dinding kaca dengan pemandangan cakrawala kota dan ruang hijau yang mengelilingi bangunan. Umumnya lemari dalam ukuran kompleks seperti itu sekitar 37 meter persegi, dan dimaksudkan untuk menarik pembeli yang mungkin pindah ke kondominium dari rumah besar, kata direktur desain dan pengembangan Eric Jencks. Harga berkisar mulai dari Rp13,6 miliar untuk satu kamar tidur yang lebih kecil hingga Rp216 miliar untuk sebuah penthouse.
Desainer Jennifer Post yang berbasis di New York, yang telah merancang rumah untuk klien selebriti seperti Matt Lauer dan Jennifer Lopez, mengatakan dia telah mengalokasikan lebih banyak tempat untuk lemari akhir-akhir ini, yang biasanya menjaga ruangan cukup ramping agar cocok dengan keseluruhan tampilan rumah. "Anda tidak bisa membedakan antara lemari dapur dan tempat ganti pakaian," katanya, dengan aksen variasi dan detail akhir yang mirip dengan tempat lain di dalam rumah. Desainer / pembangun Jeffrey Colle yang berbasis di Hamptons mengatakan rumahnya memiliki lemari berukuran 37,1 meter persegi dengan balutan kayu walnut hitam antik dengan pintu melengkung, langit-langit katedral dan pusat kebugaran yang berdekatan dan ruang duduk - fitur yang banyak diminta klien.
Meskipun beberapa pemilik mendirikan lemari mewah sebagai pemuasan pribadi, yang lain mendirikan lemari untuk memamerkannya. Sebuah bangunan di New York, 250 West St, baru-baru ini menjadi tuan rumah pameran tahunan Hearst's Designer Visions, tempat desainer fashion Badgley Mischka membeli sebuah lemari besar untuk wanita.
Lemari sudah ada sejak awal abad ke-19, ketika rumah dibangun dengan lemari kecil, biasanya tidak lebih besar dari pintu di depannya. Pada 1950, lemari pintu geser diperkenalkan, menurut California Closet, dan lemari yang dapat dimasuki pertama kali muncul sekitar satu dekade kemudian. Lemari yang lebih besar menjadi lebih bervariasi pada era 1980-an.
Para desainer mengatakan pergeseran menuju lemari yang lebih luas pertama kali dimulai lima sampai 10 tahun yang lalu, dan menjamur di antara para pemilik rumah yang kaya dengan debut film 2008 ‘Sex and the City’, ketika karakter Sarah Jessica Parker, Carrie Bradshaw, melihat rumah dengan berjalan di dalam lemari luas yang cukup besar untuk koleksi sepatunya. Tn. Mitchell mengatakan lemari wanita sebesar 120,7 meter persegi milik kliennya terinspirasi dari lemari dalam film tersebut.
Dia menyewa seorang desainer untuk menciptakan sebuah lemari dinding berukuran 37 meter persegi dengan sebuah TV layar datar, kulkas untuk Champagne, lemari dinding dengan lukisan daun berwarna perak dan sebuah lampu gantung kristal besar. Total biaya yang dibutuhkan adalah $100 ribu (sekitar Rp973 juta). “Saya ingin merasakan seperti berjalan ke dalam sebuah butik yang sangat mewah di Beverly Hills,” tutur agen real estate itu. Ia menambahkan bahwa lemari yang didesain oleh Lisa Adams dari L.A. Closet Design, sebagian terinspirasi oleh toko Chanel. “Hal pertama yang saya lakukan saat pulang ke rumah adalah ke atas dan berada di tempat itu.
Dulunya lemari adalah ruang sekunder yang dirancang khusus untuk penyimpanan, namun kini ia menjadi fitur utama rumah. Lebih dari sekadar lemari yang bisa dimasuki, kini ruang penyimpangan dirancang terlihat lebih seperti lounge mewah atau toko perancang terkenal. Pakaian dan tas dalam wadah layar kaca menyala seperti pahatan, sofa yang dirancang khusus diposisikan dekat bar kristal Baccarat atau area untuk tempat sarapan.
Desainer dan arsitek mengatakan kepada beberapa klien, biaya untuk ruangan itu bisa menyaingi atau melampaui dapur seharga Rp973 juta, dengan ruangan besar yang dirancang khusus agar nyaman untuk berjalan-jalan dengan lemari mewah, sound system, dan sudut kantor. Selain itu, pengembang dan pembangun rumah tidak hanya memasang jendela di lemari, mereka juga menyesuaikan rancangan rumah untuk memastikan ruang berpakaian ini mendapatkan pandangan dan cahaya alami terbaik.
California Closets, waralaba pembuat lemari asal Amerika Utara, mengatakan pengeluaran untuk sistem penyimpanan yang dipesan khusus naik lebih dari 10% pada 2012 dari 2011. Ginny Snook Scott, wakil presiden perusahaan penjualan dan pemasaran, mengatakan perusahaan telah melihat peningkatan permintaan untuk lemari mewah seperti bar anggur, TV layar datar, dan ruang ganti dalam satu tahun terakhir.
"Lemari itu menjadi sebesar ruang tamu atau ruang keluarga," kata Martin Mitchell, dari Perri Interiors Martin daerah San Francisco. Baru-baru ini, dia merancang lemari berukuran 120,7 meter persegi untuk klien suami-istri. Lemari itu memiliki bahan kayu eksotis dan pintu kaca tebal yang dirancang untuk menampilkan pakaian, brankas perhiasan, pencahayaan yang dikontrol melalui iPad dan bar. Untuk mengakomodasi koleksi pakaian yang banyak, sayap terpisah ditambahkan ke tempat tersebut.
Melanie Charlton, CEO Clos-ette, sebuah perusahaan yang berbasis di New York yang mengkhususkan diri dalam lemari mewah, mengatakan proyek khasnya berada pada kisaran harga mulai dari $50ribu-250ribu (sekitar Rp486 juta-Rp2,4 miliar), dan bahkan mencapai $2,5 juta (sekitar Rp24 miliar) untuk lemari bertingkat tiga dengan eskalator untuk istri seorang pejabat pengusaha kaya di Mississippi. "Ini menjadi seperti piala," katanya. "[Klien] juga ingin memiliki dapur yang bagus juga, tapi itu hal yang sudah kuno."
Beberapa desainer mengatakan lemari yang luas adalah reaksi atas munculnya penataan lantai terbuka yang modern, terutama kamar besar yang mencakup dapur dan tempat tidur. Memiliki lemari bisa juga berfungsi sebagai lounge tempat orang dewasa sejenak menikmati privasi yang tidak bisa didapat dari ruang keluarga terbuka.
Bagi pria, lemari berkembang menjadi sesuatu yang mirip dengan gua manusia berteknologi tinggi. Adams mengatakan dia merancang lemari untuk pria dengan bar sarapan berisi yoghurt, sereal dan minuman dan sofa kulit untuk menonton TV. "Ini adalah ruang keluarga, lebih dari sekadar untuk tempat pakaian," katanya. Desainer interior dan lemari mengatakan tempat sepatu dilapisi kaca dengan pencahayaan dari bawah dan laci kacamata juga menjadi fitur populer.
Lemari pamer tersebut juga merupakan jawaban untuk estetika desain minimalis yang ditemukan di rumah kontemporer, menjadi ruang praktis untuk menempatkan perabot rumah besar dan barang-barang lainnya. "Mengapa Anda ingin membeli beberapa furnitur besar yang lebarnya 6-kaki ketika Anda dapat menempatkan semuanya dalam lemari?" kata Diana Augspurger, mantan presiden Association of Closets & Storage Professionals.
Lalu ada pilihan yang sekarang ditawarkan oleh teknologi baru yang dulunya hanya layak untuk ruang komersial. Pencahayaan LED, dulunya terlalu mahal untuk digunakan di rumah, menghasilkan sedikit panas dan menghilangkan bahaya kebakaran saat pencahayaan yang sangat dekat dengan pakaian. Tangkai pakaian dan rak sepatu bercahaya, dan lampu otomatis yang menyala saat pintu lemari terbuka, adalah fitur populer. Jendela pelapis yang menghalangi sinar UV juga memberikan pilihan cahaya alami dan meminimalkan efek samping pakaian memudar.
Tempat untuk makeup di wastafel, serta kulkas kecil untuk kosmetik halus, merupakan permintaan terbaru yang telah diakomodasi kontraktor, Drake. Charlton dari Clos-ette mengatakan fitur baru yang dia sertakan dalam desain terbaru adalah sebuah "peralatan gaya virtual" yang terdiri dari layar komputer dan iPad yang dibenamkan dalam lemari yang bisa memperlihatkan gambaran atas pakaian mereka sehingga mereka dapat bekerja dari jauh dengan penata gaya mereka.
Nancy Selldorff, seorang ibu rumah tangga di Boston, saat ini tengah merenovasi kondominium 12 lantai. Dia mengatakan ruang penyimpanan pakaian adalah dorongan besar untuk proyek renovasi tersebut, yang juga termasuk memperluas dapur menjadi ruang besar. Ketika selesai, lemarinya akan menjadi ruang pertama yang dia masuki dalam kamar utama seluas 78,9 meter persegi itu. Ruang tersebut akan memiliki lemari kayu Wenge, rak sepatu dari kaca yang dilengkapi cahaya lampu, dan rak tas serta meja dapur di bagian tengah dengan kulit warna putih pada bagian atasnya.
"Saya benar-benar menginginkan sebuah tempat yang terasa istimewa dan pribadi," kata Ny. Seldorff, klien Ny. Adams. "Ketika saya mengenakan pakaian sehari-hari, hal itu membuatnya merasa seperti acara khusus."
Pengembang kondominium juga memerhatikan selera. Echo, sebuah kondominium di wilayah Miami yang baru-baru ini dipasarkan, akan memiliki beberapa unit yang luasnya sekitar 260 kaki persegi dengan lemari seluas 27,8 meter persegi, lebih dari 10% dari rencana total lantai. Lemari, bagian dari master suite seluas 65 meter persegi, akan mencakup "bar tengah malam" dengan mesin kopi, bar, dan sebuah kulkas kecil. Para pembeli dapat memilih beberapa pilihan lampu gantung. Unit kondominium itu berada di kisaran harga mulai dari Rp8,7 miliar sampai Rp30 miliar.
Di Los Angeles, pengembang Beverly West, kondominium 22 lantai dengan 35 hunian, memberikan beberapa ruang premium dalam rumah untuk lemari, memberikan dinding kaca dengan pemandangan cakrawala kota dan ruang hijau yang mengelilingi bangunan. Umumnya lemari dalam ukuran kompleks seperti itu sekitar 37 meter persegi, dan dimaksudkan untuk menarik pembeli yang mungkin pindah ke kondominium dari rumah besar, kata direktur desain dan pengembangan Eric Jencks. Harga berkisar mulai dari Rp13,6 miliar untuk satu kamar tidur yang lebih kecil hingga Rp216 miliar untuk sebuah penthouse.
Desainer Jennifer Post yang berbasis di New York, yang telah merancang rumah untuk klien selebriti seperti Matt Lauer dan Jennifer Lopez, mengatakan dia telah mengalokasikan lebih banyak tempat untuk lemari akhir-akhir ini, yang biasanya menjaga ruangan cukup ramping agar cocok dengan keseluruhan tampilan rumah. "Anda tidak bisa membedakan antara lemari dapur dan tempat ganti pakaian," katanya, dengan aksen variasi dan detail akhir yang mirip dengan tempat lain di dalam rumah. Desainer / pembangun Jeffrey Colle yang berbasis di Hamptons mengatakan rumahnya memiliki lemari berukuran 37,1 meter persegi dengan balutan kayu walnut hitam antik dengan pintu melengkung, langit-langit katedral dan pusat kebugaran yang berdekatan dan ruang duduk - fitur yang banyak diminta klien.
Meskipun beberapa pemilik mendirikan lemari mewah sebagai pemuasan pribadi, yang lain mendirikan lemari untuk memamerkannya. Sebuah bangunan di New York, 250 West St, baru-baru ini menjadi tuan rumah pameran tahunan Hearst's Designer Visions, tempat desainer fashion Badgley Mischka membeli sebuah lemari besar untuk wanita.
Lemari sudah ada sejak awal abad ke-19, ketika rumah dibangun dengan lemari kecil, biasanya tidak lebih besar dari pintu di depannya. Pada 1950, lemari pintu geser diperkenalkan, menurut California Closet, dan lemari yang dapat dimasuki pertama kali muncul sekitar satu dekade kemudian. Lemari yang lebih besar menjadi lebih bervariasi pada era 1980-an.
Para desainer mengatakan pergeseran menuju lemari yang lebih luas pertama kali dimulai lima sampai 10 tahun yang lalu, dan menjamur di antara para pemilik rumah yang kaya dengan debut film 2008 ‘Sex and the City’, ketika karakter Sarah Jessica Parker, Carrie Bradshaw, melihat rumah dengan berjalan di dalam lemari luas yang cukup besar untuk koleksi sepatunya. Tn. Mitchell mengatakan lemari wanita sebesar 120,7 meter persegi milik kliennya terinspirasi dari lemari dalam film tersebut.