Lemah Matematika Karena Takut
SAN FRANSISCO, RABU - Siapa bilang matematika itu sulit? Menurut seorang psikolog anggapan seperti itulah yang justru membuat seseorang kesulitan melakukan operasi hitung-menghitung.
Perasaaan takut dan khawatir setiap kali berhadapan dengan matematika terbukti membuat lemah kapasitas memori kerja otak. Padahal, bagian inilah yang berperan besar dalam proses hitung soal-soal matematika yang sulit.
"Terlihat bahwa kekhawatiran terhadap matematika menghabiskan memori kerja seseorang," ungkap Mark Ashroft, psikolog dari Universitas Nevada, AS di depan peserta pertemuan tahunan Asosiasi untuk Kemajuan Sains Amerika (AAAS). Ashroft menyatakan, operasi matematika sederhana seperti penambahan dan pengurangan hanya membutuhkan memori kerja yang kecil, namun makin kompleks operasi matematika yang dihadapi makin besar memori kerja yang dibutuhkan.
Tapi, jangan khawatir, perasaan takut dan merasa tidak siap bisa diatasi dengan membiasakan diri. Misalnya, mencoba menyelesaikan ujian pendahuluan (try out) bagi mahasiswa atau pelajar agar lebih siap menghadapi ujian sebenarnya, seperti ujian akhir nasional atau ujian masuk perguruan tinggi. Dalam hal ini, hasil ujian bukanlah parameter satu-satunya untuk menilai kesiapan seseorang menghadapi ujian sebenarnya.
"Mungkin tidak bijaksana menilai hasil ujian pendahuluan untuk memprediksi siapa yang berhasil dan tidak," ujar Sian Beilock dari Universitas Chicago. Yang pasti, meski penyebab ketakutan terhadap matematika belum diketahui, orang yang dapat menghadapi katakutannya terhadap matematika rata-rata dapat menyelesaikan ujian dengan lancar.
SAN FRANSISCO, RABU - Siapa bilang matematika itu sulit? Menurut seorang psikolog anggapan seperti itulah yang justru membuat seseorang kesulitan melakukan operasi hitung-menghitung.
Perasaaan takut dan khawatir setiap kali berhadapan dengan matematika terbukti membuat lemah kapasitas memori kerja otak. Padahal, bagian inilah yang berperan besar dalam proses hitung soal-soal matematika yang sulit.
"Terlihat bahwa kekhawatiran terhadap matematika menghabiskan memori kerja seseorang," ungkap Mark Ashroft, psikolog dari Universitas Nevada, AS di depan peserta pertemuan tahunan Asosiasi untuk Kemajuan Sains Amerika (AAAS). Ashroft menyatakan, operasi matematika sederhana seperti penambahan dan pengurangan hanya membutuhkan memori kerja yang kecil, namun makin kompleks operasi matematika yang dihadapi makin besar memori kerja yang dibutuhkan.
Tapi, jangan khawatir, perasaan takut dan merasa tidak siap bisa diatasi dengan membiasakan diri. Misalnya, mencoba menyelesaikan ujian pendahuluan (try out) bagi mahasiswa atau pelajar agar lebih siap menghadapi ujian sebenarnya, seperti ujian akhir nasional atau ujian masuk perguruan tinggi. Dalam hal ini, hasil ujian bukanlah parameter satu-satunya untuk menilai kesiapan seseorang menghadapi ujian sebenarnya.
"Mungkin tidak bijaksana menilai hasil ujian pendahuluan untuk memprediksi siapa yang berhasil dan tidak," ujar Sian Beilock dari Universitas Chicago. Yang pasti, meski penyebab ketakutan terhadap matematika belum diketahui, orang yang dapat menghadapi katakutannya terhadap matematika rata-rata dapat menyelesaikan ujian dengan lancar.


