• Saat ini anda mengakses IndoForum sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya diperuntukkan bagi anggota IndoForum. Dengan bergabung maka anda akan memiliki akses penuh untuk melakukan tanya-jawab, mengirim pesan teks, mengikuti polling dan menggunakan feature-feature lainnya. Proses registrasi sangatlah cepat, mudah dan gratis.
    Silahkan daftar dan validasi email anda untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang benar dan cek email anda setelah daftar untuk validasi.
  • Tips kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19:
    • Cuci tangan kamu sesering mungkin;
    • Jaga jarak dengan orang lain minimal 2 meter;
    • Minimalkan kegiatan di luar ruangan.
    Stay safe in your bubble!

Lelaki Tua di Simpang Raya

Tiopan1990

IndoForum Newbie E
No. Urut
282834
Sejak
28 Mar 2014
Pesan
63
Nilai reaksi
0
Poin
6
seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang sepi

tubuhnya mematung membeku detik-detik pagi

menyimpan dingin embun-embun tiang besi

lampu merah, kuning, hijau

terus berganti

orang-orang masih bergelut mimpi

di kamar-kamar yang menyelipkan lemari besi

pada sudut-sudut tersembunyi diawasi cctv

memerdekakan diri, memanjakan hati

lelaki tua itu pernah membingkai cita-cita

membangun tangga sejahtera untuk keluarga

berbahagia di dunia, sejati di surga

mencatat euphoria masa ke masa

receh itukah suara riangnya

menahan loncatan kosa kata-kata

berhamburan dari jendela mobil

tak jua terbuka

deru knalpot memekakkan

rasa merdeka entah di mana

seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang hati

do’anya seakan habis kehilangan cahaya matahari

mengarahkan sepanjang perjalanan menuju Tuhan

di sinilah ia bertahan

menghirup debu jalanan

hujan kehilangan pesan

2013



Langit Menangis

langit menangis, sigumbang meradang

rumah-rumah dan jiwa-jiwa berpeluk lumpur

langit menangis, sikodon-kodon, paropo, silalahi

hampir kehilangan segala tondi, kehilangan nyali

sejak kelam malam, hingga sunyi pagi

langit menangis, bukan menangisi para pengungsi

yang mengais ke dataran yang lebih tinggi

menyusuri rumah-rumah setelah air surut

menuju silalahi

menuju sikodon-kodon.

langit menangis, sederas tangis si bawang merah

segelisah mas dan nila

(ketika itu aku entah berumah dimana)

2013



Tanita Liasna



Menanti di Ujung Waktu

semu mengucur jeri dari dua mata

entah sampai mana mengalir perih ngakar sampai pada dua selaput luka terbakar

sekini debu dan asap menyisamati, sembah-sembah lupa ngakak, menjatuh pada ingatan

langit berbentang merah jambu

desir bola kata lepas, hambur di udara

matahari lembab kuliti cahaya

semua rabun tak terlihat, yang menanti di ujung waktu
 
Terakhir disunting oleh moderator:
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Atas.