roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Oleh: EL TALOK
Menjelang akhir kuliahku, tepatnya sejak bulan April lalu, aku telah pindah dari Via Aurelia ke kawasan Parioli dan memilih tinggal di Piazza Euclide.
Semenjak itu, setiap aku pulang kuliah dan mengambil kereta di Flaminio, aku selalu berjumpa dengan seorang lelaki. Pertama kali berpandangan di deretan bangku panjang Stasiun Kereta Piazza del Popolo Flaminio, ia memberikan sebuah senyuman yang kurasa istimewa. Aku pun telah membalasnya dengan senyuman yang paling tidak, akan menggugah hatinya.
Dan itu benar. Pertemuan berikutnya pun, terulang lagi, walau tanpa bicara, toh, bahasa tubuh mengisyaratkan bahwa ada suatu kecocokan antara aku dan lelaki itu. Berulang kali pertemuan ini terjadi.
Walaupun Flaminio terdapat di jantung Kota Roma, Ibukota Negara Italia, toh, lelaki itu bukanlah orang Italia. Ia Asia. Bahkan mirip denganku, juga mirip dan sebaya dengan ayahku yang di Indonesia: berkulit sawo matang, berambut hitam lurus dan tingginya tidak sampai 170 cm, paling-paling 168, sedikit di bawahku, aku 175. Usianya, jauh di atasku. Kalau aku 24, mungkin dia hampir 50. Walau sering duduk bersebelahan, satu kereta, namun kami tetap diam, hanya mampu berbahasa tubuh. Lagi pula kebersamaan itu toh cuma sesaat.
Aku harus turun di fermata atau perhentian pertama, yakni Piazza Euclide, sedangkan lelaki itu terus dibawa pergi oleh kereta itu entah sampai perhentian yang ke berapa barulah ia turun.
“Come stai? Va Bene?” Akhirnya, setelah hampir sebulan selalu barengan di Stasiun Flaminio, sore itu aku berani menyapanya. Kebetulan ia duduk persis di sampingku.
“Certo, va bene. E tu?” Sahutnya. Aku tak segera menjawabnya. Lagi, aku hanya menggunakan bahasa tubuh. Walaupun aku orang Asia, tetapi karena pengaruh lingkungan, kalau berbicara, walau tanpa banyak kata, seluruh tubuhku ikut bergerak-gerak. Pernah ketika berlibur di Indonesia, ibu menegur, “Kok ekspresi tubuh kamu berlebihan, Nak?”
Dasar Ibu, nggak pernah tinggal di Eropa, nggak tahu kalau orang sini tuh ekspresif banget saat berbicara.
Aku berpikir, bahwa inilah kesempatan terbaik mengenal lelaki itu. Walau setengah baya, ia terlihat segar, sehat, gesit dan lincah.
“Come ti chiami?” tanyaku sambil menyebutkan juga namaku supaya dia tahu.
“Mi chiamo Ahmad, vengo dall’ Indonesia. Ho quaranta-nove anni,” jawabnya cukup lengkap.
Ternyata lelaki ia bernama Ahmad, 49 tahun. Aku terkejut ketika kemudian ia mengatakan bahwa ia berasal dari Lombok. Aku tahu, Lombok itu pulau di timurnya Bali dan di baratnya Timor. Walau belum pernah ke sana, tetapi selain Timor, Bali adalah juga rumahku. Ayahku orang Bali. Bali kan rumah ayah-ibuku sekarang, semenjak mereka pindah tugas dari Timor Kupang ke situ.
Ia juga heran ketika mengetahui bahwa aku pun dari Indonesia.
“Wah, aku menduga kamu dari India. Atau malah dari Amerika Latin. Indonesianya mana, Dik?”
“Bali.”
“Mata, rambut dan warna kulitmu emang Bali, tapi hidungmu mancung seperti orang India?" Selidiknya
“Ah, Bapak bisa aja,” aku sebal. Soalnya aku tuh jarang dibilang orang Indonesia. Emang sih orang Indonesia Timur yang di Eropa selalu disangka dari Asia Selatan, atau kalau tidak malah dibilang dari Amerika Selatan.
Aku tidak mengatakan kepada lelaki itu kalau ibuku orang Timor Kupang. Dan hidung mancungku itu hidung Timor. Mungkin nenek moyang dulu nyasar dari India kali. Ah, nggak mungkin. Aku orang Indonesia kok.
Ia ternyata tidak tinggal jauh dari tempatku. Ia di Prima Porta. Cuma beberapa fermata dari tempatku.
“Kerja apa toh di sini?”
“Masih student. November nanti selesai. Bapak?”
“Aku sebelumnya pelaut, tapi kini bekerja di salah satu perusahaan perkapalan di sini.”
“Istri orang sini, Pak?”
“Iya. Sebenarnya aku juga punya keluarga di Indonesia, istri dan seorang anakku, tapi itu dulu, telah… dua puluh tiga tahun terakhir aku tidak kembali ke sana.”
“Kok kisah Bapak seperti Nyanyian Balada Pelaut ya?”
Ia tersenyum.
“Sekarang bagaimana dengan keluarga yang di Indonesia?” tanyaku lagi.
“Istriku dan keluarga di sana mengira aku telah mati, dan aku membiarkan saja dugaan itu.”
“Maksud Bapak?” aku menyambung.
“Ya, aku tak mau mengatakan bahwa aku masih hidup. Soalnya aku telah punya keluarga baru di sini. Yang lalu biarlah berlalu.”
“Hm, menarik” ujarku.
Ia tersenyum. Sungguh, ketika lelaki itu tersenyum, aku suka. Ada sesuatu darinya menyentuh amat dalam kalbuku.
Kereta pun siap berangkat, cerita berakhir untuk sementara waktu.
Sesudah aku mengenal lelaki itu aku mengirim SMS ke rumah, bahwa aku telah bertemu dan berkenalan lagi dengan seorang Indonesia. Dan minggu depan, kami sudah sepakat, aku dibawa ke rumah lelaki itu, juga santap malam bersama keluarganya.
Orangtuaku senang karena aku bertemu kerabat asal Indonesia. Mereka berharap relasi ini dilanjutkan. Sebenarnya, aku punya banyak kenalan Indonesia di sini, tapi bagiku lelaki itu jauh berbeda.
Tentang keluargaku di Indonesia, ibuku bernama Margaretha Poyk, sedangkan ayahku namanya Wicaksana. Kami tiga bersaudara. Aku anak sulung serta kedua adikku, Lydia (21) dan Frederik (19). Selain aku, seluruh keluargaku tinggal di Bali, dekat kerabat ayah. Kerabat ibu nyaris memenuhi Kota Kupang, di Pulau Timor. Terlalu banyak. Walau berjauhan, kami selalu kontak satu-sama lain. Roma sebenarnya bukan pilihan pertamaku untuk studi. Namun karena aku mendapat beasiswa pemerintah Italia dan Indonesia, aku senang saja. Bersyukur, bisa studi di Universitas Sapienza Roma.
Suatu sore di bulan Juli, lelaki itu menjemputku di apartemenku, Piazza Euclide. Tentu dengan mobilnya, dan bukan dengan kereta metro. Aku senang. Hari ini termasuk hari bahagia. Rumahnya, sebagaimana kebanyakan orang Kota Roma, adalah apartemen.
Istrinya bernama Anna, wanita setengah baya, menyambutku ramah. Anak tunggal mereka, Claudio, 20 tahun, tinggi, gagah, paduan Asia-Eropa, juga ramah menyambutku.
“Dari India ya?” lagi-lagi aku dibilang India, kini oleh Claudio.
“Bukan, ia dari tempat ayahmu,” sergah ibunya.
Claudio mendekati dan merangkulku.
“Saudara, Indonesia, Lombok Island!” ungkapnya.
Aku merasa senang berada di antara mereka.
Lelaki itu, tetap saja menunjukkan sikap khasnya padaku, lembut, ramah, tenang dan perhatian seperti pertama kali kami berjumpa di Flaminio. Sikap yang membuat aku suka. Kami lantas memenuhi meja makan.
Sambil makan, bercerita kesana-kemari, akhirnya, menjelang usai santap malam, Signora Anna, atas permintaan lelaki itu, mengambil beberapa album foto untuk ditunjukkan kepadaku.
“Tiga album ini, kerabat Pak Ahmad di Lombok. Sedangkan album kecil yang hanya berisi 3 lembar foto ini, adalah foto istri dan anak Bapak di Indonesia sebelum Bapak menikah lagi denganku. Istri pertamanya cantik, anaknya waktu itu baru sepuluh hari” jelas Signora Anna sembari memberikan album-album foto itu untuk dilihat bersama.
Aku tentu agak penasaran, maunya segera kulihat foto itu. Oh, great. Semuanya berbau Indonesia. Aku suka.
Kami pun membuka bersama. Fotonya kebanyakan hitam putih, kalau pun berwarna, itu pun sudah agak pudar warnanya. Maklum 23 tahun lalu diambil.
“Lho, ini khan Mama?”
“Mama, maksud kamu?” Selidik lelaki itu dan Signora Anna bersamaan.
“Lei e mia madre. Kok bisa foto mama ada di sini?”
Kami berempat terkejut, berebutan untuk menyelidiki foto itu, penuh keheranan, lalu diam sesaat, tanpa kata-kata. Terpaku pada lembaran foto mamaku.
“Jadi, perempuan ini adalah ibu kamu?” selidik Signora Anna.
“Si, certo, lei e mia madre.” Aku membenarkan.
“Huuuhhhh. Paaakkk, ternyata ini anakmu.” Suara Ibu Anna menggelegar.
Ketiganya menjadi terbengong. Mereka berebutan melihat lagi foto ibuku lalu menunjukkannya kepadaku, beberapa kali. Seolah-olah mereka bertanya kalau ini memang benar-benar ibuku?
“Margaretha mama kamu?” Tanya lelaki itu.
“Iya, mamaku bernama Margaretha,” aku mengangguk yakin.
Aku mengeluarkan dompetku dan mencocokkan foto ibuku dengan foto di album keluarga lelaki itu. Foto yang sama. Seorang perempuan menggendong seorang bayi, dan itulah ibuku dan aku di saat berusia sepuluh hari, ketika aku dibawa keluar dari rumah sakit bersalin menuju ke rumah.
Lelaki itu, Ibu Anna serta Claudio saling menatap tak percaya, namun akhirnya mereka menghampiri aku dan memelukku. Wajah kami penuh airmata.
Tak tahulah, sejarah baru apa yang akan kutulis untuk hari-hari selanjutnya?
“Ini foto terakhir yang kuambil ketika aku berlayar meninggalkan Timor ke sini.” Jelas lelaki itu, kemudian memelukku lagi dan berbisik di telingaku:
“Engkau anakku. Engkau anakku dari Margaretha. Dari istri pertamaku, Margaretha!”
Oh, Tuhan, mau mati saja rasanya. Apakah ini mimpi atau kenyataan?
Ah, aku lalu menunduk dan meraba-raba kepalaku sendiri. Aku menarik nafas, menutup mata seraya mengusap-usap rambutku.
Ibu dan ayahku di Indonesia menyimpan sejarah yang bisa membuat aku gila. Gumamku dalam hati.
Lelaki itu bersama Ibu Anna dan Claudio, mengantarku pulang ke apartemenku.
“Maafkan ayah kandungmu. Berat memang kenyataan ini, Tapi itulah sejarah hidup kita, Nak. Akhirnya Tuhan jualah yang mempertemukan kamu dan ayah kandungmu. Maafkan ayah kandungmu, maafkan kami. Tentu suatu ketika kita akan berkunjung ke Indonesia, bersilaturahmi dengan ibumu, ayah angkatmu dan semua keluarga di sana.” Nasihat Nyonya Anna.
Walau menghebohkan, aku tidak mengabarkan keadaan ini kepada orangtuaku di Indonesia. Aku mencoba untuk bisa menyimpan rahasia ini.
* * *
Di pertengahan bulan Agustus, aku berlibur ke Indonesia dengan berbagai perasaan. Gembira, sedih, semuanya tak pasti. Aku memutuskan tidak singgah di rumah orangtuaku di Bali. Dari Jakarta, aku cuma transit sebentar di Bandara Ngurah Rai, Bali, lalu langsung menuju Bandara El Tari, Penfui, Kupang, Timor. Ayah dan ibu telah kuberitahu kalau aku akan ke Indonesia dalam waktu dekat. Tapi tibanya aku di sini, tidak kukabarkan dahulu. Ini sebuah kejutan atau sebuah protes, aku tak tahu.
Dengan taksi dari bandara El Tari, aku langsung menuju rumah opa-omaku di Oepura. Sebagai cucu pertama mereka, opa-oma sangat menyayangiku. Mereka bahagia aku bisa ke Kupang, menjenguk mereka.
Dengan berdalih bahwa fakultasku meminta aku membuat penelitian tentang silsilah keluargaku sejujur mungkin, maka opa dan oma mengajakku berlibur ke Kota Soe, di Pegunungan Timor Barat. Kebetulan opa-oma mempunyai dua rumah di sana: Kami beri nama Rumah Bukit dan Rumah Gunung. Rumah Bukit ditempati Tanta Damaris dan suaminya, Om Nimrod. Tanta Damaris adalah kemenakan opa, sedangkan suaminya berasal dari Alor.
Mereka mempunyai seorang anak, namanya Andreas, namun karena sudah bekerja sebagai supir bus jurusan Atambua-Kefa, dan juga sudah menikah, Andreas tinggal di Atambua bersama istri dan dua anak mereka. Rumah yang satunya lagi, yang dinamakan Rumah Gunung, dijadikan semacam rumah berlibur anggota keluarga. Tanta Damaris dan suaminya, yang selain berdagang buah-buahan dan sembako di Rumah Bukit, juga dengan setia merawat Rumah Gunung, sehingga, walau sudah belasan tahun, rumah-rumah itu tetap menarik. Rumah Bukit dan Rumah Gunung terletak dalam satu kepungan pagar, dengan jarak dua puluh meter satu dengan yang lain.
Aku suka berlibur di Soe, hawanya sejuk, juga dikenal sebagai kota buah. Apel dan jeruk Timor yang sudah go international, datangnya dari Soe. Di sana, kami dapat leluasa bercerita tentang apa saja mengenai silsilah keluarga tanpa ada yang mengganggu. Di Rumah Gunung, cuma kami bertiga, aku, oma dan opa. Sopir opa, Om Niko Fallo, hanya mengantar, lalu kembali bekerja di Kupang, kelak, dua hari berikutnya baru ia kembali menjemput kami.
Dari cerita oma-opa, barulah kutahu, kalau ibuku menikah lagi setelah ditinggal pergi lelaki itu hampir dua tahun lamanya. Tanpa berita sama sekali, ia membiarkan ibu dan aku tinggal sendirian. Aku belum genap dua tahun waktu itu, pantas kalau aku buta dengan persoalan ini. Lelaki itu, memang waktu itu belum resmi menikah dengan ibuku karena beda keyakinan. Mungkin tanpa ikatan resmi itulah, dia merasa kurang berdosa sewaktu meninggalkan ibuku dan mendapatkan istri baru.
“Lelaki itu segera berangkat lagi sesudah sepuluh hari kelahiranmu. Sebagai pelaut, dia tidak dapat selalu berada di tengah keluarga karena harus berlayar. Kelak, kami menduga bahwa lelaki itu mungkin mengalami nasib buruk di kapal sehingga tak pulang-pulang. Waktu itu bukan seperti sekarang. Anda bisa SMS dan secepat itu tiba infonya. Dulu hanya mengandalkan telegram, toh, untuk mengirim telegram saja, dia tak sempat.” Imbuh opaku, yang pendeta purnawaktu itu.
“Hampir dua tahun, lelaki itu tidak pernah pulang. Beruntunglah, ayahmu kemudian meminang ibumu, menikahinya, ia menyayangi ibumu dengan sungguh. Ia juga sangat menyayangi kamu. Baginya, kamu adalah anak kandungnya sendiri. Kebahagiaan itu bertambah-tambah ketika lahir pula kedua adikmu. Bersyukur, ibumu dinikahi resmi oleh seorang pegawai tinggi dan bukan pelaut” kata omaku yang dulu bekerja sebagai pegawai biasa di gubernuran itu, sambil menguyah daun sirih di mulutnya. Sebagai wanita Timor angkatan doeloe, di waktu luang mengunyah daun sirih adalah hal yang lumrah. Mereka baru akan membersihkan giginya sampai putih bersih menjelang bepergian ke luar rumah. Wanita Timor jaman sekarang, beda banget, giginya harum pepsodent 24 jam.
“Yang mengherankan kami adalah, selain ayahmu benar-benar menyayangi kamu, kamu sendiri pun menganggap dia sebagai ayah kandungmu. Mungkin karena antara kedua lelaki itu mirip benar wajah mereka satu dengan yang lainnya?” lanjut opa.
“Memang sepintas keduanya seperti pinang dibelah dua” imbuh oma.
“Miripkah wajah lelaki itu dengan ayahku? Apakah kita masih menyimpan foto lelaki itu?” selidikku ingin tahu. Aku mulai mengingat wajah Pak Ahmad di Roma, memang ia mirip benar dengan ayahku.
“Dulu, ibumu menyimpan dua lembar foto lelaki itu, namun waktu rumah kita yang lama di Kuanino kebanjiran, dua foto itu ikut hanyut dibawa air. Kita benar-benar hilang jejaknya” oma bertutur sambil memperbaiki kacamatanya. Opa mengangguk mengiyakan.
“Kita baru pindah ke Oepura sesudah Anda berumur empat tahun, Cucuku. Kita memiliki rumah yang baru dan jauh lebih besar” bangga opaku.
Omaku tersenyum senang, sambil menambahkan:
“Kamu kemudian menetap di Bali, itu karena jabatan ibu dan ayahmu yang sama-sama ahli hukum itu, kian menanjak. Keduanya menjadi orang-orang penting yang mengurus banyak bawahan di Bali dan Nusa Tenggara.”
Oma lalu beranjak sebentar ke kamarnya, mengambil jaket dan mengenakannya. Ia juga memberikan dua selimut Dawan, satu untuk opa, lainnya untukku.
Oma memanggil Tanta Damaris untuk membawa teh hangat dan pisang rebus untuk menjaga keseimbangan suhu tubuh dengan cuaca sejuk-dinginnya malam di Kota Soe.
Sambil menikmati suguhan teh hangat dari Tanta Damaris, aku menghela nafas panjang. Apakah pada kesempatan ini aku harus mengatakan kepada opa-oma bahwa ternyata lelaki itu masih hidup? Apakah kebahagiaan keluargaku harus kuubah menjadi kepedihan karena aku telah bersua lelaki penuh simpatik itu di Kota Roma?
Total liburanku di Indonesia hanyalah dua minggu. Setelah seminggu di Timor, bersama opa-oma, lusa aku sudah harus terbang ke Bali berlibur buat seminggu lagi di rumah orangtuaku. Aku sudah rindu pada ayah-ibu dan kedua adikku. Kemudian, akhir Agustus ini juga aku sudah harus kembali ke Roma.
Bisa nggak ya aku membuka kisah nyata ini kepada oma-opa? Aku tidak mau ayah-ibuku di sini susah karena kabar yang bakal kusampaikan, sementara aku tak bisa mengingkari, kalau lelaki itu, Pak Ahmad, ternyata ayah kandungku. Ah, soal ini rupanya lebih sulit daripada ujian-ujian yang kulalui di kampus. Apakah aku harus …. Baiklah, aku akan menimbangnya malam ini.
“Na’i, tidurlah sekarang. Besok kita masih punya banyak waktu” anjur Oma dan Opa.
Pertanyaan di atas masih terus mengganggu, juga di saat aku telah pamitan untuk beristirahat dan mulai berbaring di atas kasur. Bisa nggak ya aku membuka kisah nyata ini kepada oma-opa?
Ya, tidak, ya, tidak… sampai akhirnya aku pun terlelap.
Parioli, Roma, 18 September 2008
Menjelang akhir kuliahku, tepatnya sejak bulan April lalu, aku telah pindah dari Via Aurelia ke kawasan Parioli dan memilih tinggal di Piazza Euclide.
Semenjak itu, setiap aku pulang kuliah dan mengambil kereta di Flaminio, aku selalu berjumpa dengan seorang lelaki. Pertama kali berpandangan di deretan bangku panjang Stasiun Kereta Piazza del Popolo Flaminio, ia memberikan sebuah senyuman yang kurasa istimewa. Aku pun telah membalasnya dengan senyuman yang paling tidak, akan menggugah hatinya.
Dan itu benar. Pertemuan berikutnya pun, terulang lagi, walau tanpa bicara, toh, bahasa tubuh mengisyaratkan bahwa ada suatu kecocokan antara aku dan lelaki itu. Berulang kali pertemuan ini terjadi.
Walaupun Flaminio terdapat di jantung Kota Roma, Ibukota Negara Italia, toh, lelaki itu bukanlah orang Italia. Ia Asia. Bahkan mirip denganku, juga mirip dan sebaya dengan ayahku yang di Indonesia: berkulit sawo matang, berambut hitam lurus dan tingginya tidak sampai 170 cm, paling-paling 168, sedikit di bawahku, aku 175. Usianya, jauh di atasku. Kalau aku 24, mungkin dia hampir 50. Walau sering duduk bersebelahan, satu kereta, namun kami tetap diam, hanya mampu berbahasa tubuh. Lagi pula kebersamaan itu toh cuma sesaat.
Aku harus turun di fermata atau perhentian pertama, yakni Piazza Euclide, sedangkan lelaki itu terus dibawa pergi oleh kereta itu entah sampai perhentian yang ke berapa barulah ia turun.
“Come stai? Va Bene?” Akhirnya, setelah hampir sebulan selalu barengan di Stasiun Flaminio, sore itu aku berani menyapanya. Kebetulan ia duduk persis di sampingku.
“Certo, va bene. E tu?” Sahutnya. Aku tak segera menjawabnya. Lagi, aku hanya menggunakan bahasa tubuh. Walaupun aku orang Asia, tetapi karena pengaruh lingkungan, kalau berbicara, walau tanpa banyak kata, seluruh tubuhku ikut bergerak-gerak. Pernah ketika berlibur di Indonesia, ibu menegur, “Kok ekspresi tubuh kamu berlebihan, Nak?”
Dasar Ibu, nggak pernah tinggal di Eropa, nggak tahu kalau orang sini tuh ekspresif banget saat berbicara.
Aku berpikir, bahwa inilah kesempatan terbaik mengenal lelaki itu. Walau setengah baya, ia terlihat segar, sehat, gesit dan lincah.
“Come ti chiami?” tanyaku sambil menyebutkan juga namaku supaya dia tahu.
“Mi chiamo Ahmad, vengo dall’ Indonesia. Ho quaranta-nove anni,” jawabnya cukup lengkap.
Ternyata lelaki ia bernama Ahmad, 49 tahun. Aku terkejut ketika kemudian ia mengatakan bahwa ia berasal dari Lombok. Aku tahu, Lombok itu pulau di timurnya Bali dan di baratnya Timor. Walau belum pernah ke sana, tetapi selain Timor, Bali adalah juga rumahku. Ayahku orang Bali. Bali kan rumah ayah-ibuku sekarang, semenjak mereka pindah tugas dari Timor Kupang ke situ.
Ia juga heran ketika mengetahui bahwa aku pun dari Indonesia.
“Wah, aku menduga kamu dari India. Atau malah dari Amerika Latin. Indonesianya mana, Dik?”
“Bali.”
“Mata, rambut dan warna kulitmu emang Bali, tapi hidungmu mancung seperti orang India?" Selidiknya
“Ah, Bapak bisa aja,” aku sebal. Soalnya aku tuh jarang dibilang orang Indonesia. Emang sih orang Indonesia Timur yang di Eropa selalu disangka dari Asia Selatan, atau kalau tidak malah dibilang dari Amerika Selatan.
Aku tidak mengatakan kepada lelaki itu kalau ibuku orang Timor Kupang. Dan hidung mancungku itu hidung Timor. Mungkin nenek moyang dulu nyasar dari India kali. Ah, nggak mungkin. Aku orang Indonesia kok.
Ia ternyata tidak tinggal jauh dari tempatku. Ia di Prima Porta. Cuma beberapa fermata dari tempatku.
“Kerja apa toh di sini?”
“Masih student. November nanti selesai. Bapak?”
“Aku sebelumnya pelaut, tapi kini bekerja di salah satu perusahaan perkapalan di sini.”
“Istri orang sini, Pak?”
“Iya. Sebenarnya aku juga punya keluarga di Indonesia, istri dan seorang anakku, tapi itu dulu, telah… dua puluh tiga tahun terakhir aku tidak kembali ke sana.”
“Kok kisah Bapak seperti Nyanyian Balada Pelaut ya?”
Ia tersenyum.
“Sekarang bagaimana dengan keluarga yang di Indonesia?” tanyaku lagi.
“Istriku dan keluarga di sana mengira aku telah mati, dan aku membiarkan saja dugaan itu.”
“Maksud Bapak?” aku menyambung.
“Ya, aku tak mau mengatakan bahwa aku masih hidup. Soalnya aku telah punya keluarga baru di sini. Yang lalu biarlah berlalu.”
“Hm, menarik” ujarku.
Ia tersenyum. Sungguh, ketika lelaki itu tersenyum, aku suka. Ada sesuatu darinya menyentuh amat dalam kalbuku.
Kereta pun siap berangkat, cerita berakhir untuk sementara waktu.
Sesudah aku mengenal lelaki itu aku mengirim SMS ke rumah, bahwa aku telah bertemu dan berkenalan lagi dengan seorang Indonesia. Dan minggu depan, kami sudah sepakat, aku dibawa ke rumah lelaki itu, juga santap malam bersama keluarganya.
Orangtuaku senang karena aku bertemu kerabat asal Indonesia. Mereka berharap relasi ini dilanjutkan. Sebenarnya, aku punya banyak kenalan Indonesia di sini, tapi bagiku lelaki itu jauh berbeda.
Tentang keluargaku di Indonesia, ibuku bernama Margaretha Poyk, sedangkan ayahku namanya Wicaksana. Kami tiga bersaudara. Aku anak sulung serta kedua adikku, Lydia (21) dan Frederik (19). Selain aku, seluruh keluargaku tinggal di Bali, dekat kerabat ayah. Kerabat ibu nyaris memenuhi Kota Kupang, di Pulau Timor. Terlalu banyak. Walau berjauhan, kami selalu kontak satu-sama lain. Roma sebenarnya bukan pilihan pertamaku untuk studi. Namun karena aku mendapat beasiswa pemerintah Italia dan Indonesia, aku senang saja. Bersyukur, bisa studi di Universitas Sapienza Roma.
Suatu sore di bulan Juli, lelaki itu menjemputku di apartemenku, Piazza Euclide. Tentu dengan mobilnya, dan bukan dengan kereta metro. Aku senang. Hari ini termasuk hari bahagia. Rumahnya, sebagaimana kebanyakan orang Kota Roma, adalah apartemen.
Istrinya bernama Anna, wanita setengah baya, menyambutku ramah. Anak tunggal mereka, Claudio, 20 tahun, tinggi, gagah, paduan Asia-Eropa, juga ramah menyambutku.
“Dari India ya?” lagi-lagi aku dibilang India, kini oleh Claudio.
“Bukan, ia dari tempat ayahmu,” sergah ibunya.
Claudio mendekati dan merangkulku.
“Saudara, Indonesia, Lombok Island!” ungkapnya.
Aku merasa senang berada di antara mereka.
Lelaki itu, tetap saja menunjukkan sikap khasnya padaku, lembut, ramah, tenang dan perhatian seperti pertama kali kami berjumpa di Flaminio. Sikap yang membuat aku suka. Kami lantas memenuhi meja makan.
Sambil makan, bercerita kesana-kemari, akhirnya, menjelang usai santap malam, Signora Anna, atas permintaan lelaki itu, mengambil beberapa album foto untuk ditunjukkan kepadaku.
“Tiga album ini, kerabat Pak Ahmad di Lombok. Sedangkan album kecil yang hanya berisi 3 lembar foto ini, adalah foto istri dan anak Bapak di Indonesia sebelum Bapak menikah lagi denganku. Istri pertamanya cantik, anaknya waktu itu baru sepuluh hari” jelas Signora Anna sembari memberikan album-album foto itu untuk dilihat bersama.
Aku tentu agak penasaran, maunya segera kulihat foto itu. Oh, great. Semuanya berbau Indonesia. Aku suka.
Kami pun membuka bersama. Fotonya kebanyakan hitam putih, kalau pun berwarna, itu pun sudah agak pudar warnanya. Maklum 23 tahun lalu diambil.
“Lho, ini khan Mama?”
“Mama, maksud kamu?” Selidik lelaki itu dan Signora Anna bersamaan.
“Lei e mia madre. Kok bisa foto mama ada di sini?”
Kami berempat terkejut, berebutan untuk menyelidiki foto itu, penuh keheranan, lalu diam sesaat, tanpa kata-kata. Terpaku pada lembaran foto mamaku.
“Jadi, perempuan ini adalah ibu kamu?” selidik Signora Anna.
“Si, certo, lei e mia madre.” Aku membenarkan.
“Huuuhhhh. Paaakkk, ternyata ini anakmu.” Suara Ibu Anna menggelegar.
Ketiganya menjadi terbengong. Mereka berebutan melihat lagi foto ibuku lalu menunjukkannya kepadaku, beberapa kali. Seolah-olah mereka bertanya kalau ini memang benar-benar ibuku?
“Margaretha mama kamu?” Tanya lelaki itu.
“Iya, mamaku bernama Margaretha,” aku mengangguk yakin.
Aku mengeluarkan dompetku dan mencocokkan foto ibuku dengan foto di album keluarga lelaki itu. Foto yang sama. Seorang perempuan menggendong seorang bayi, dan itulah ibuku dan aku di saat berusia sepuluh hari, ketika aku dibawa keluar dari rumah sakit bersalin menuju ke rumah.
Lelaki itu, Ibu Anna serta Claudio saling menatap tak percaya, namun akhirnya mereka menghampiri aku dan memelukku. Wajah kami penuh airmata.
Tak tahulah, sejarah baru apa yang akan kutulis untuk hari-hari selanjutnya?
“Ini foto terakhir yang kuambil ketika aku berlayar meninggalkan Timor ke sini.” Jelas lelaki itu, kemudian memelukku lagi dan berbisik di telingaku:
“Engkau anakku. Engkau anakku dari Margaretha. Dari istri pertamaku, Margaretha!”
Oh, Tuhan, mau mati saja rasanya. Apakah ini mimpi atau kenyataan?
Ah, aku lalu menunduk dan meraba-raba kepalaku sendiri. Aku menarik nafas, menutup mata seraya mengusap-usap rambutku.
Ibu dan ayahku di Indonesia menyimpan sejarah yang bisa membuat aku gila. Gumamku dalam hati.
Lelaki itu bersama Ibu Anna dan Claudio, mengantarku pulang ke apartemenku.
“Maafkan ayah kandungmu. Berat memang kenyataan ini, Tapi itulah sejarah hidup kita, Nak. Akhirnya Tuhan jualah yang mempertemukan kamu dan ayah kandungmu. Maafkan ayah kandungmu, maafkan kami. Tentu suatu ketika kita akan berkunjung ke Indonesia, bersilaturahmi dengan ibumu, ayah angkatmu dan semua keluarga di sana.” Nasihat Nyonya Anna.
Walau menghebohkan, aku tidak mengabarkan keadaan ini kepada orangtuaku di Indonesia. Aku mencoba untuk bisa menyimpan rahasia ini.
* * *
Di pertengahan bulan Agustus, aku berlibur ke Indonesia dengan berbagai perasaan. Gembira, sedih, semuanya tak pasti. Aku memutuskan tidak singgah di rumah orangtuaku di Bali. Dari Jakarta, aku cuma transit sebentar di Bandara Ngurah Rai, Bali, lalu langsung menuju Bandara El Tari, Penfui, Kupang, Timor. Ayah dan ibu telah kuberitahu kalau aku akan ke Indonesia dalam waktu dekat. Tapi tibanya aku di sini, tidak kukabarkan dahulu. Ini sebuah kejutan atau sebuah protes, aku tak tahu.
Dengan taksi dari bandara El Tari, aku langsung menuju rumah opa-omaku di Oepura. Sebagai cucu pertama mereka, opa-oma sangat menyayangiku. Mereka bahagia aku bisa ke Kupang, menjenguk mereka.
Dengan berdalih bahwa fakultasku meminta aku membuat penelitian tentang silsilah keluargaku sejujur mungkin, maka opa dan oma mengajakku berlibur ke Kota Soe, di Pegunungan Timor Barat. Kebetulan opa-oma mempunyai dua rumah di sana: Kami beri nama Rumah Bukit dan Rumah Gunung. Rumah Bukit ditempati Tanta Damaris dan suaminya, Om Nimrod. Tanta Damaris adalah kemenakan opa, sedangkan suaminya berasal dari Alor.
Mereka mempunyai seorang anak, namanya Andreas, namun karena sudah bekerja sebagai supir bus jurusan Atambua-Kefa, dan juga sudah menikah, Andreas tinggal di Atambua bersama istri dan dua anak mereka. Rumah yang satunya lagi, yang dinamakan Rumah Gunung, dijadikan semacam rumah berlibur anggota keluarga. Tanta Damaris dan suaminya, yang selain berdagang buah-buahan dan sembako di Rumah Bukit, juga dengan setia merawat Rumah Gunung, sehingga, walau sudah belasan tahun, rumah-rumah itu tetap menarik. Rumah Bukit dan Rumah Gunung terletak dalam satu kepungan pagar, dengan jarak dua puluh meter satu dengan yang lain.
Aku suka berlibur di Soe, hawanya sejuk, juga dikenal sebagai kota buah. Apel dan jeruk Timor yang sudah go international, datangnya dari Soe. Di sana, kami dapat leluasa bercerita tentang apa saja mengenai silsilah keluarga tanpa ada yang mengganggu. Di Rumah Gunung, cuma kami bertiga, aku, oma dan opa. Sopir opa, Om Niko Fallo, hanya mengantar, lalu kembali bekerja di Kupang, kelak, dua hari berikutnya baru ia kembali menjemput kami.
Dari cerita oma-opa, barulah kutahu, kalau ibuku menikah lagi setelah ditinggal pergi lelaki itu hampir dua tahun lamanya. Tanpa berita sama sekali, ia membiarkan ibu dan aku tinggal sendirian. Aku belum genap dua tahun waktu itu, pantas kalau aku buta dengan persoalan ini. Lelaki itu, memang waktu itu belum resmi menikah dengan ibuku karena beda keyakinan. Mungkin tanpa ikatan resmi itulah, dia merasa kurang berdosa sewaktu meninggalkan ibuku dan mendapatkan istri baru.
“Lelaki itu segera berangkat lagi sesudah sepuluh hari kelahiranmu. Sebagai pelaut, dia tidak dapat selalu berada di tengah keluarga karena harus berlayar. Kelak, kami menduga bahwa lelaki itu mungkin mengalami nasib buruk di kapal sehingga tak pulang-pulang. Waktu itu bukan seperti sekarang. Anda bisa SMS dan secepat itu tiba infonya. Dulu hanya mengandalkan telegram, toh, untuk mengirim telegram saja, dia tak sempat.” Imbuh opaku, yang pendeta purnawaktu itu.
“Hampir dua tahun, lelaki itu tidak pernah pulang. Beruntunglah, ayahmu kemudian meminang ibumu, menikahinya, ia menyayangi ibumu dengan sungguh. Ia juga sangat menyayangi kamu. Baginya, kamu adalah anak kandungnya sendiri. Kebahagiaan itu bertambah-tambah ketika lahir pula kedua adikmu. Bersyukur, ibumu dinikahi resmi oleh seorang pegawai tinggi dan bukan pelaut” kata omaku yang dulu bekerja sebagai pegawai biasa di gubernuran itu, sambil menguyah daun sirih di mulutnya. Sebagai wanita Timor angkatan doeloe, di waktu luang mengunyah daun sirih adalah hal yang lumrah. Mereka baru akan membersihkan giginya sampai putih bersih menjelang bepergian ke luar rumah. Wanita Timor jaman sekarang, beda banget, giginya harum pepsodent 24 jam.
“Yang mengherankan kami adalah, selain ayahmu benar-benar menyayangi kamu, kamu sendiri pun menganggap dia sebagai ayah kandungmu. Mungkin karena antara kedua lelaki itu mirip benar wajah mereka satu dengan yang lainnya?” lanjut opa.
“Memang sepintas keduanya seperti pinang dibelah dua” imbuh oma.
“Miripkah wajah lelaki itu dengan ayahku? Apakah kita masih menyimpan foto lelaki itu?” selidikku ingin tahu. Aku mulai mengingat wajah Pak Ahmad di Roma, memang ia mirip benar dengan ayahku.
“Dulu, ibumu menyimpan dua lembar foto lelaki itu, namun waktu rumah kita yang lama di Kuanino kebanjiran, dua foto itu ikut hanyut dibawa air. Kita benar-benar hilang jejaknya” oma bertutur sambil memperbaiki kacamatanya. Opa mengangguk mengiyakan.
“Kita baru pindah ke Oepura sesudah Anda berumur empat tahun, Cucuku. Kita memiliki rumah yang baru dan jauh lebih besar” bangga opaku.
Omaku tersenyum senang, sambil menambahkan:
“Kamu kemudian menetap di Bali, itu karena jabatan ibu dan ayahmu yang sama-sama ahli hukum itu, kian menanjak. Keduanya menjadi orang-orang penting yang mengurus banyak bawahan di Bali dan Nusa Tenggara.”
Oma lalu beranjak sebentar ke kamarnya, mengambil jaket dan mengenakannya. Ia juga memberikan dua selimut Dawan, satu untuk opa, lainnya untukku.
Oma memanggil Tanta Damaris untuk membawa teh hangat dan pisang rebus untuk menjaga keseimbangan suhu tubuh dengan cuaca sejuk-dinginnya malam di Kota Soe.
Sambil menikmati suguhan teh hangat dari Tanta Damaris, aku menghela nafas panjang. Apakah pada kesempatan ini aku harus mengatakan kepada opa-oma bahwa ternyata lelaki itu masih hidup? Apakah kebahagiaan keluargaku harus kuubah menjadi kepedihan karena aku telah bersua lelaki penuh simpatik itu di Kota Roma?
Total liburanku di Indonesia hanyalah dua minggu. Setelah seminggu di Timor, bersama opa-oma, lusa aku sudah harus terbang ke Bali berlibur buat seminggu lagi di rumah orangtuaku. Aku sudah rindu pada ayah-ibu dan kedua adikku. Kemudian, akhir Agustus ini juga aku sudah harus kembali ke Roma.
Bisa nggak ya aku membuka kisah nyata ini kepada oma-opa? Aku tidak mau ayah-ibuku di sini susah karena kabar yang bakal kusampaikan, sementara aku tak bisa mengingkari, kalau lelaki itu, Pak Ahmad, ternyata ayah kandungku. Ah, soal ini rupanya lebih sulit daripada ujian-ujian yang kulalui di kampus. Apakah aku harus …. Baiklah, aku akan menimbangnya malam ini.
“Na’i, tidurlah sekarang. Besok kita masih punya banyak waktu” anjur Oma dan Opa.
Pertanyaan di atas masih terus mengganggu, juga di saat aku telah pamitan untuk beristirahat dan mulai berbaring di atas kasur. Bisa nggak ya aku membuka kisah nyata ini kepada oma-opa?
Ya, tidak, ya, tidak… sampai akhirnya aku pun terlelap.
Parioli, Roma, 18 September 2008