Blog Sakinah
IndoForum Newbie D
- No. Urut
- 176628
- Sejak
- 6 Jul 2012
- Pesan
- 90
- Nilai reaksi
- 0
- Poin
- 6
Ketika segala persiapan telah diselesaikan oleh Nabi Nuh dan waktu yang telah ditentukan telah tiba, maka muncullah tanda-tanda yang telah dijelaskan dan diterangkan oleh Allah tentang permulaan datangnya angin topan yaitu memancarnya air dari pancoran keluarganya, maka Allah memerintahkannya untuk segera membawa keluarganya naik ke atas perahu dan memasukkan semua jenis-jenis hewan dari burung sampai hewan melata lainnya secara berpasang-pasangan, kecuali istrinya tidak ikut naik perahu. Ia juga membawa orang-orang yang beriman yang jumlahnya sangat sedikit dari kaumnya. Tatkala mereka semua telah berada di atas perahu, maka tiba-tiba langit memuntahkan isinya dan bumi pun menyemburkan mata airnya, hingga ketika itu juga bumi tenggelam. Ombak air membawa perahu tersebut beserta orang-orang yang ada diatasnya dengan tenang, selamatlah orang-orang yang telah di selamatkan oleh Allah dan tenggelamlah semua manusia dan hewan yang tersisa di muka bumi, kemudian perahu itu berlabuh di atas bukit judiy, sebuah bukit di Armenia Selatan, berbatasan dengan Mesopotania.
Di sini kita bisa melihat bagaimana kondisi Nabi Nuh saat akan memasuki bahtera, ia memanggil anaknya dan berkata : “Hai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir” (QS Hud: 42). Namun sang anak menolak memenuhi panggilan ayahnya. Ia seperti orang-orang kafir lainnya, tidak mempercayai perkataan ayahnya, bahwa siapa saja yang berada di luar bahtera pasti akan binasa, bahkan anak ini menantang ayahnya dan berkata: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah” (QS Hud:43). Nuh ingin menyadarkan anaknya, ia berkata kepadanya:” Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah, selain Allah saja Yang Maha Penyanyang. “ Dan adalah akhir yang menyedihkan menimpa anaknya, saat gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anaknya termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Mari kita melihat bagaimana Allah memerintahkan Nuh untuk berkata ketika hendak naik ke atas perahu, sebagaimana dalam firmanNya: “Dan Nuh berkata: Naiklah kamu sekalian kedalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah.”Nuh berkata: Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah, selain Allah saja Yang Maha Penyanyang.Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anaknya termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS Hud: 41-43).
Perkara ini bukanlah hal yang mudah bagi Nuh, anak itu adalah anaknya, maka ia ingin menagih janji Allah yang akan menyelamatkan keluarganya, ia berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS Hud :45).
Maka Allah menjawab dan menjelaskan bahwa anak itu bukan termasuk keluarganya dengan firman-Nya:
“ Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya perbuatannya yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepadaKu sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk sebagai orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS Hud: 46).
Nabi Nuh pun beristiqfar memohon ampun atas kesalahannya tersebut dan mengharap rahmat-Nya atas apa yang ia tidak ketahui hakikatnya.
Tamat.
Di sini kita bisa melihat bagaimana kondisi Nabi Nuh saat akan memasuki bahtera, ia memanggil anaknya dan berkata : “Hai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir” (QS Hud: 42). Namun sang anak menolak memenuhi panggilan ayahnya. Ia seperti orang-orang kafir lainnya, tidak mempercayai perkataan ayahnya, bahwa siapa saja yang berada di luar bahtera pasti akan binasa, bahkan anak ini menantang ayahnya dan berkata: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah” (QS Hud:43). Nuh ingin menyadarkan anaknya, ia berkata kepadanya:” Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah, selain Allah saja Yang Maha Penyanyang. “ Dan adalah akhir yang menyedihkan menimpa anaknya, saat gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anaknya termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Mari kita melihat bagaimana Allah memerintahkan Nuh untuk berkata ketika hendak naik ke atas perahu, sebagaimana dalam firmanNya: “Dan Nuh berkata: Naiklah kamu sekalian kedalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah.”Nuh berkata: Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah, selain Allah saja Yang Maha Penyanyang.Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anaknya termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS Hud: 41-43).
Perkara ini bukanlah hal yang mudah bagi Nuh, anak itu adalah anaknya, maka ia ingin menagih janji Allah yang akan menyelamatkan keluarganya, ia berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS Hud :45).
Maka Allah menjawab dan menjelaskan bahwa anak itu bukan termasuk keluarganya dengan firman-Nya:
“ Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya perbuatannya yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepadaKu sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk sebagai orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS Hud: 46).
Nabi Nuh pun beristiqfar memohon ampun atas kesalahannya tersebut dan mengharap rahmat-Nya atas apa yang ia tidak ketahui hakikatnya.
Tamat.