Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Quote:
BEKASI, KOMPAS.com - Kegiatan ibadah di Rumah Doa Fajar Pengharapan, Graha Prima Baru, Mangunjaya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, terganggu karena sejumlah warga tiba-tiba menggeruduk rumah doa tersebut.
Warga meminta aktivitas umat Kristen di sana dihentikan. Penggerudukan itu diketahui terjadi pada Minggu (19/6/2023).
Pendeta Ellyson Lase mengungkapkan, umatnya digeruduk ketua RT setempat & puluhan warga yg menolak aktivitas mereka.
"Kasus di Rumah Doa kemarin itu, tiba-tiba di sekitar jam 10.00 WIB, kami sudah di dalam, ketua RT membawa beberapa orang. Dia masuk ke dalam, sudah hingga di teras. Nah, terus saya tanya ke dia, maksudnya apa," ungkap Ellyson kepada Kompas.com, Senin (19/6/2023) malam.
Ellyson bercerita, massa meminta aktivitas ibadah di sana segera dihentikan. Namun, saat Ellyson menanyakan dasar penghentian kegiatan itu, ketua RT tak dapat menjelaskannya.
"Saya bilang ke dia, ketidaksetujuan warga soal apanya?" ujar Ellyson.
Pertanyaan itu tidak dapat dijawab oleh ketua RT.
"Hanya penolakan, tetapi maksudnya itu tidak terlalu jauh. Pokoknya penolakan tentang pendirian rumah ibadah," jelas Ellyson.
"(Padahal) saya sudah menyampaikan & tekankan, kami tidak mendirikan gereja. Kami cuma kontrak di rumah itu, cuma sementara. Pekerjaan saya adalah pendeta. Setiap Sabtu & Minggu, wajib saya ibadah," kata dia.
Baca juga: Fakta Terduga Anggota TNI Geruduk Peribadatan Umat Kristen di Tambun, Gebrak Meja & Intimidasi Jemaah
Sudah pernah intimidasi
Tak cuma itu, Ellyson juga mengaku pernah diintimidasi sebelumnya.
"Pertama saya dipanggil di bulan Mei. Dipanggil oleh RT, RW. Di situ ada pemilik rumah, saya, & juga ibu pendeta," jelas Ellyson.
Dalam pertemuan itu, Ellyson diminta menjelaskan tentang aktivitas dia & jemaatnya di rumah doa tersebut.
Ellyson kemudian menuturkan, rumah doa adalah rumah yg ia kontrak untuk beribadah. Rumah itu tidak dialihfungsikan sebagai gereja.
Di rumah itu, Ellyson memberikan pendidikan agama untuk anak-anak yg di sekolahnya tidak dilengkapi pelajaran Agama Kristen.
"Saya jelaskan secara terperinci & akurat. Rumah doa sifatnya cuma berdoa saja setiap Minggu di situ & tidak mendirikan gereja," mengatakan Ellyson.
Penjelasan Ellyson tak digubris. Pihak RT & RW tetap harap aktivitas rumah doa dihentikan. Namun, pendeta tak mau.
Ellyson kemudian bertanya, kalau umat tidak boleh beribadah seminggu sekali, berapa kali ibadah di sana boleh dilaksanakan dalam satu bulan.
Namun, pihak RT & RW tak memberi jawaban. Pengurus RT & RW menyatakan cuma harap aktivitas di rumah doa dihentikan.
Babinsa sekaligus ketua RW setempat ikut tolak rumah doa
Tak hingga di situ, Ketua RW 027 Mangunjaya yg disebut merupakan anggota TNI AD juga ikut menolak keberadaan rumah doa.
Ketua RW itu berinisial Serka S, seorang Babinsa yg bertugas di Koramil Tambun, Kabupaten Bekasi.
Pendeta Ellyson bercerita, dia bahkan menerima perlakuan tidak menyenangkan dari si ketua RW saat pertemuan bulan Mei.
"Saya juga hinggakan ke ketua RW waktu itu, 'Bapak juga masih aktif sebagai anggota TNI yg melekat di diri Bapak. Walaupun ketua RW, begitukah seorang TNI'," ucap Ellyson.
"Dia kemudian gebrak meja, dia tunjuk saya. Dia marah & bilang, 'Ini wilayah saya. Saya yg berkuasa. Ikuti aturan saya. Jangan buat aturan sendiri'," sambung dia menirukan ucapan ketua RW itu.
Sudah izin FKUB
Ellyson mengaku heran kepada penolakan-penolakan tersebut.
Ellyson mengeklaim sudah mendapatkan izin dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bekasi terkait rumah doa.
"Bukti-bukti bahwa legalitas kami di rumah doa, kami sudah laporkan ke FKUB & surat tanda terima sudah kami terima di FKUB. Saya sudah tunjukkan kepada mereka, tetapi mereka tidak hiraukan semuanya itu," tutur dia.
TNI AD minta pendeta lapor
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigadir Jenderal TNI Hamim Tohari mengaku belum mendapatkan informasi soal Babinsa membentak pendeta & ikut membubarkan kegiatan di Rumah Doa Fajar Pengharapan.
Hamim meminta pendeta Ellyson untuk melaporkan langsung ulah oknum tersebut supaya dapat diselidiki.
"Saya belum dengar kabar itu. Sebaiknya Pak Pendeta yg tahu melapor saja ke Koramil/Kodim atau ke Pomdam Jaya," mengatakan Hamim saat dikonfirmasi, Selasa (20/6/2023).
"Saya tidak dapat mengonfirmasi kalau baru informasi sepihak & tidak resmi," tambah dia lagi.
Source : https://megapolitan.kompas.com/read/...page=all#page2 Hari ini 15:53
BEKASI, KOMPAS.com - Kegiatan ibadah di Rumah Doa Fajar Pengharapan, Graha Prima Baru, Mangunjaya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, terganggu karena sejumlah warga tiba-tiba menggeruduk rumah doa tersebut.
Warga meminta aktivitas umat Kristen di sana dihentikan. Penggerudukan itu diketahui terjadi pada Minggu (19/6/2023).
Pendeta Ellyson Lase mengungkapkan, umatnya digeruduk ketua RT setempat & puluhan warga yg menolak aktivitas mereka.
"Kasus di Rumah Doa kemarin itu, tiba-tiba di sekitar jam 10.00 WIB, kami sudah di dalam, ketua RT membawa beberapa orang. Dia masuk ke dalam, sudah hingga di teras. Nah, terus saya tanya ke dia, maksudnya apa," ungkap Ellyson kepada Kompas.com, Senin (19/6/2023) malam.
Ellyson bercerita, massa meminta aktivitas ibadah di sana segera dihentikan. Namun, saat Ellyson menanyakan dasar penghentian kegiatan itu, ketua RT tak dapat menjelaskannya.
"Saya bilang ke dia, ketidaksetujuan warga soal apanya?" ujar Ellyson.
Pertanyaan itu tidak dapat dijawab oleh ketua RT.
"Hanya penolakan, tetapi maksudnya itu tidak terlalu jauh. Pokoknya penolakan tentang pendirian rumah ibadah," jelas Ellyson.
"(Padahal) saya sudah menyampaikan & tekankan, kami tidak mendirikan gereja. Kami cuma kontrak di rumah itu, cuma sementara. Pekerjaan saya adalah pendeta. Setiap Sabtu & Minggu, wajib saya ibadah," kata dia.
Baca juga: Fakta Terduga Anggota TNI Geruduk Peribadatan Umat Kristen di Tambun, Gebrak Meja & Intimidasi Jemaah
Sudah pernah intimidasi
Tak cuma itu, Ellyson juga mengaku pernah diintimidasi sebelumnya.
"Pertama saya dipanggil di bulan Mei. Dipanggil oleh RT, RW. Di situ ada pemilik rumah, saya, & juga ibu pendeta," jelas Ellyson.
Dalam pertemuan itu, Ellyson diminta menjelaskan tentang aktivitas dia & jemaatnya di rumah doa tersebut.
Ellyson kemudian menuturkan, rumah doa adalah rumah yg ia kontrak untuk beribadah. Rumah itu tidak dialihfungsikan sebagai gereja.
Di rumah itu, Ellyson memberikan pendidikan agama untuk anak-anak yg di sekolahnya tidak dilengkapi pelajaran Agama Kristen.
"Saya jelaskan secara terperinci & akurat. Rumah doa sifatnya cuma berdoa saja setiap Minggu di situ & tidak mendirikan gereja," mengatakan Ellyson.
Penjelasan Ellyson tak digubris. Pihak RT & RW tetap harap aktivitas rumah doa dihentikan. Namun, pendeta tak mau.
Ellyson kemudian bertanya, kalau umat tidak boleh beribadah seminggu sekali, berapa kali ibadah di sana boleh dilaksanakan dalam satu bulan.
Namun, pihak RT & RW tak memberi jawaban. Pengurus RT & RW menyatakan cuma harap aktivitas di rumah doa dihentikan.
Babinsa sekaligus ketua RW setempat ikut tolak rumah doa
Tak hingga di situ, Ketua RW 027 Mangunjaya yg disebut merupakan anggota TNI AD juga ikut menolak keberadaan rumah doa.
Ketua RW itu berinisial Serka S, seorang Babinsa yg bertugas di Koramil Tambun, Kabupaten Bekasi.
Pendeta Ellyson bercerita, dia bahkan menerima perlakuan tidak menyenangkan dari si ketua RW saat pertemuan bulan Mei.
"Saya juga hinggakan ke ketua RW waktu itu, 'Bapak juga masih aktif sebagai anggota TNI yg melekat di diri Bapak. Walaupun ketua RW, begitukah seorang TNI'," ucap Ellyson.
"Dia kemudian gebrak meja, dia tunjuk saya. Dia marah & bilang, 'Ini wilayah saya. Saya yg berkuasa. Ikuti aturan saya. Jangan buat aturan sendiri'," sambung dia menirukan ucapan ketua RW itu.
Sudah izin FKUB
Ellyson mengaku heran kepada penolakan-penolakan tersebut.
Ellyson mengeklaim sudah mendapatkan izin dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bekasi terkait rumah doa.
"Bukti-bukti bahwa legalitas kami di rumah doa, kami sudah laporkan ke FKUB & surat tanda terima sudah kami terima di FKUB. Saya sudah tunjukkan kepada mereka, tetapi mereka tidak hiraukan semuanya itu," tutur dia.
TNI AD minta pendeta lapor
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigadir Jenderal TNI Hamim Tohari mengaku belum mendapatkan informasi soal Babinsa membentak pendeta & ikut membubarkan kegiatan di Rumah Doa Fajar Pengharapan.
Hamim meminta pendeta Ellyson untuk melaporkan langsung ulah oknum tersebut supaya dapat diselidiki.
"Saya belum dengar kabar itu. Sebaiknya Pak Pendeta yg tahu melapor saja ke Koramil/Kodim atau ke Pomdam Jaya," mengatakan Hamim saat dikonfirmasi, Selasa (20/6/2023).
"Saya tidak dapat mengonfirmasi kalau baru informasi sepihak & tidak resmi," tambah dia lagi.
Source : https://megapolitan.kompas.com/read/...page=all#page2 Hari ini 15:53