• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Lagi Gejolak Tambang Emas Tumpang Pitu

Sosmed MMI

IndoForum Newbie D
No. Urut
282168
Sejak
16 Okt 2013
Pesan
72
Nilai reaksi
0
Poin
6
Jakarta, GEO ENERGI - Meski puncak peringatannya telah berlalu hampir dua pekan, Hari Air Internasional masihlah dipilih sebagai momentum untuk menggelorakan semangat konservasi sumberdaya air dan menyuarakan persoalan-persoalan lingkungan hidup.

Akhir Maret lalu di Banyuwangi, tak kurang dari 50 orang siswa yang tergabung dalam Forum Pelajar Pecinta Alam (FPPA) menggelar aksi bersih-bersih sungai di Kali Gulung, Desa Jambesari, Kec. Glagah, Banyuwangi.

Tak hanya diisi dengan pemungutan sampah an-organik, acara yang digagas remaja belasan tahun itu pun diwarnai dengan orasi penolakan eksploitasi emas hutan lindung G. Tumpang Pitu. Di sungai yang menjadi tapal batas antara Desa Jambesari dan Desa Adat Using Kemiren tersebut, pelajar dari berbagai kecamatan itu membentangkan spanduk bertuliskan “Manusia Bisa Hidup Tanpa Emas, Tapi Tidak Tanpa Air”.

“Hutan lindung Tumpang Pitu itu merupakan kawasan resapan air. Jika Pemerintah mengijinkan perusahaan tambang menambang di Tumpang Pitu, maka masyarakat sekitar Tumpang Pitu akan kesulitan air”, kata Ketua FPPA Farhan R. Fatah dalam rilisnya kepada GEO ENERGI (Selasa, 1 April 2014).

Penjelasan Farhan juga diamini oleh Sekretaris FPPA Okta Rizkiyah. Menurut siswi yang hobi naik gunung itu, Air merupakan syarat dasar untuk hidup. Bagi Okta, menambang di kawasan resapan air sama halnya dengan membunuh kehidupan.

“Untuk memproses emas, setiap harinya nanti perusahaan tambang akan menggunakan air sungai di sekitar Tumpang Pitu sebanyak 2 juta liter lebih. Tidak hanya petani yang terancam, tapi juga makhluk hidup lainnya. Apalagi Tumpang Pitu itu jaraknya dekat sekali dengan Taman Nasional Meru Betiri”, paparnya.

Siswi salah satu sekolah menengah atas yang berada di Kec. Kalibaru itu menambahkan, tak hanya kebutuhan air dan pertanian yang akan terancam rusak oleh kehadiran perusahaan tambang. Menurutnya, tempat-tempat wisata yang berdekatan dengan Tumpang Pitu seperti Pulau Merah, Teluk Damai, dan Teluk Hijau, juga akan rusak.

“Suatu saat nanti, emas itu akan habis. Kalau sudah habis, yang tertinggal hanya lahan berisi limbah. Kenapa pemerintah tidak mengembangkan pariwisata saja? Pariwisata itu berkelanjutan, tapi bagaimana mau mengembangkan pariwisata kalau tempat wisatanya dikeruk sama perusahaan tambang?” ujar siswi yang sejak SMP telah mantap tampil berkerudung itu dengan nada keheranan.

- See more at: http://www.geoenergi.co/read/mining/1751/lagi-gejolak-tambang-emas-tumpang-pitu/#.Uzt2uKLov5N
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.