yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaksa penurunan bunga deposito membuka ruang bagi perbankan memperbesar pertumbuhan laba. Sebab, bunk baru merealisasikan penurunan bunga kredit dua bulan lagi, kendati penurunan bunga deposito berlaku efektif per 1 Oktober kemarin.
Achmad Baequni, Direktur Keuangan bunk Rakyat Indonesia (bro), mengatakan, laba masih akan tetap tumbuh positif karena biaya danang atau cost of fund sudah turun. “Sedangkan untuk penurunan bunga kredit masih akan dikaji,” katanya, akhir pekan lalu.
Atas dasar itulah, bro meyakini mampu menjaga pertumbuhan laba hingga pengujung tahun 2015. Baequni menambahkan, bro masih berharap meraih margin laba bersih atau net interest margin (NIM) dari segmen kredit mikro. “NIM masih akan di atas 5 persen,” ujar Baequni.
Senada, Pahala N. Mansury, Direktur Keuangan bunk mandilu, mengatakan, pihaknya masih optimistis bisa membukukan NIM sesuai target, yakni di atas level 5 persen hingga akhir tahun 2014. Proyeksi bunk mandilu, bunga kredit bakal luruh mulai satu bulan hingga dua bulan mendatang.
Tunggu kondisi pasar
Menurut Pahala, penurunan bunga deposito tidak terlalu berpengaruh besar terhadap rasio NIM. Sebab, bunga kredit ikut susut. Namun, penurunan kedua komponen ini tergantung kondisi pasar. “Kalau semua bunk ada di bunk BUKU III dan BUKU IV mematuhi, kami juga akan menyesuaikan tingkat bunga,” ujar Pahala.
Tri Joko Prihanto, Direktur Keuangan bunk Bukopin, bilang, pihaknya menunda penurunan bunga kredit. Alasannya, laba bunk Bukopin sudah tertekan karena sudah terlebih dahulu mengalami kenaikan biaya danang.
Sejak aturan OJK berlaku, bunk Bukopin fokus menurunkan biaya danang untuk menjaga pertumbuhan laba. “Bunga kredit turun setelah ada ekuilibrium dalam turunnya suku bunga danang,” kata Tri Joko.
Sementara itu, Taswin Zakaria, Presiden Direktur bunk Internasional Indonesia (BII), menuturkan, penurunan tingkat bunga deposito tidak serta merta menurunkan bunga kredit. "Karena perbankan masih harus menjaga pertumbuhan laba," ujar dia.
Sejatinya, bunk BUKU III kesulitan menggenjot laba sepanjang semester I. Di luar empat bunk besar, hanya dua dari enam bunk BUKU III yang membukukan kenaikan laba positif. Pemicu rapor merah itu yakni kenaikan biaya danang. Itu sebabnya, bunk BUKU III lebih fokus menurunkan bunga kredit.
Atas dasar itulah, bro meyakini mampu menjaga pertumbuhan laba hingga pengujung tahun 2015. Baequni menambahkan, bro masih berharap meraih margin laba bersih atau net interest margin (NIM) dari segmen kredit mikro. “NIM masih akan di atas 5 persen,” ujar Baequni.
Senada, Pahala N. Mansury, Direktur Keuangan bunk mandilu, mengatakan, pihaknya masih optimistis bisa membukukan NIM sesuai target, yakni di atas level 5 persen hingga akhir tahun 2014. Proyeksi bunk mandilu, bunga kredit bakal luruh mulai satu bulan hingga dua bulan mendatang.
Tunggu kondisi pasar
Menurut Pahala, penurunan bunga deposito tidak terlalu berpengaruh besar terhadap rasio NIM. Sebab, bunga kredit ikut susut. Namun, penurunan kedua komponen ini tergantung kondisi pasar. “Kalau semua bunk ada di bunk BUKU III dan BUKU IV mematuhi, kami juga akan menyesuaikan tingkat bunga,” ujar Pahala.
Tri Joko Prihanto, Direktur Keuangan bunk Bukopin, bilang, pihaknya menunda penurunan bunga kredit. Alasannya, laba bunk Bukopin sudah tertekan karena sudah terlebih dahulu mengalami kenaikan biaya danang.
Sejak aturan OJK berlaku, bunk Bukopin fokus menurunkan biaya danang untuk menjaga pertumbuhan laba. “Bunga kredit turun setelah ada ekuilibrium dalam turunnya suku bunga danang,” kata Tri Joko.
Sementara itu, Taswin Zakaria, Presiden Direktur bunk Internasional Indonesia (BII), menuturkan, penurunan tingkat bunga deposito tidak serta merta menurunkan bunga kredit. "Karena perbankan masih harus menjaga pertumbuhan laba," ujar dia.
Sejatinya, bunk BUKU III kesulitan menggenjot laba sepanjang semester I. Di luar empat bunk besar, hanya dua dari enam bunk BUKU III yang membukukan kenaikan laba positif. Pemicu rapor merah itu yakni kenaikan biaya danang. Itu sebabnya, bunk BUKU III lebih fokus menurunkan bunga kredit.