goesdun
IndoForum Junior A
- No. Urut
- 32661
- Sejak
- 7 Feb 2008
- Pesan
- 3.024
- Nilai reaksi
- 66
- Poin
- 48
MASIH ingat Kunto Hartono?
Sekadar mengingatkan, di penghujung 2003 lalu Kunto di hadapan Menteri Budaya dan Pariwisata kala itu, Gde Ardhika, berhasil memecahkan rekor Guinness drumming marathon.
Ketika itu, lelaki asal Banyuwangi yang bermukim di Bogor ini menabuh drum selama 72 jam, mulai 29 Desember 2003 pkl 09.15 sampai 1 Januari 2004 pukul 11.15.
Rekor dunia yang juga tercatat di Museum Rekor Indonesia ini mendapat dukungan dari banyak pihak termasuk masyarakat yang datang berduyun-duyun ke GOR Sumantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta.
Berkat prestasinya itu juga, anak kedua pasangan Alex Leo-Yuli ini, mendapat hadiah Rp 5 juta dari Rektor Universitas Trisakti dan beasiswa kuliah hingga sarjana di universitas swasta bergengsi itu.
Sayangnya rekor Guinness Kunto ini hanya bertahan sebulan karena pada Februari 2004 ditumbangkan drummer India, Arulanantham Suresh Joachim yang ngedrum selama 84 jam nonstop.
Nah, rencananya Kunto kembali akan menunjukkan kepiawaiannya dalam menggebuk drum secara maraton. Kali ini tak tanggung-tanggung, kepada pihak Guinness Kunto mengajukan akan memecahkan rekor ngedrum selama 100 jam non-stop.
Kunto mengatakan, rencana pemecahan rekor Guinness ini akan dilakukan Agustus mendatang di Ancol Jakarta. Mengingat beratnya even tersebut, persiapan telah dilakukan jauh-jauh hari termasuk masuk ‘karantina’ untuk berlatih fisik dan drum bersama ‘Kunto Band’ --- pemegang rekor Muri ketahanan ngeband 17 jam nonstop pada 2007 lalu--- yang akan mengiringi selama pertunjukan nanti.
Masalah fisik menjadi salah satu perhatian Kunto dalam menyiapkan diri memecahkan rekor Guinness itu. Maklumlah, bermain nyaris tanpa jeda selama 100 jam atau selama 5 hari empat malam, bukan perkara enteng. Untuk aksi spektakuler ini, Kunto didampingi EO (event organizer) BAH Production dua pekan lalu sowan ke Kantor Menbudpar guna meminta dukungan.
Sayangnya, sejauh ini dukungan yang didapat Kunto untuk terselenggaranya acara kelas dunia itu, masih terbilang minim. Di bidang danang misalnya, Kunto mengaku, hampir 80 persen berasal dari kocek pribadi. Padahal acara ini bukan saja untuk membuktikan kemampuan anak bangsa yang mampu mengukir prestasi kelas dunia, tapi juga demi mendukung ‘Visit Indonesian Year 2008’.- dia
Sekadar mengingatkan, di penghujung 2003 lalu Kunto di hadapan Menteri Budaya dan Pariwisata kala itu, Gde Ardhika, berhasil memecahkan rekor Guinness drumming marathon.
Ketika itu, lelaki asal Banyuwangi yang bermukim di Bogor ini menabuh drum selama 72 jam, mulai 29 Desember 2003 pkl 09.15 sampai 1 Januari 2004 pukul 11.15.
Rekor dunia yang juga tercatat di Museum Rekor Indonesia ini mendapat dukungan dari banyak pihak termasuk masyarakat yang datang berduyun-duyun ke GOR Sumantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta.
Berkat prestasinya itu juga, anak kedua pasangan Alex Leo-Yuli ini, mendapat hadiah Rp 5 juta dari Rektor Universitas Trisakti dan beasiswa kuliah hingga sarjana di universitas swasta bergengsi itu.
Sayangnya rekor Guinness Kunto ini hanya bertahan sebulan karena pada Februari 2004 ditumbangkan drummer India, Arulanantham Suresh Joachim yang ngedrum selama 84 jam nonstop.
Nah, rencananya Kunto kembali akan menunjukkan kepiawaiannya dalam menggebuk drum secara maraton. Kali ini tak tanggung-tanggung, kepada pihak Guinness Kunto mengajukan akan memecahkan rekor ngedrum selama 100 jam non-stop.
Kunto mengatakan, rencana pemecahan rekor Guinness ini akan dilakukan Agustus mendatang di Ancol Jakarta. Mengingat beratnya even tersebut, persiapan telah dilakukan jauh-jauh hari termasuk masuk ‘karantina’ untuk berlatih fisik dan drum bersama ‘Kunto Band’ --- pemegang rekor Muri ketahanan ngeband 17 jam nonstop pada 2007 lalu--- yang akan mengiringi selama pertunjukan nanti.
Masalah fisik menjadi salah satu perhatian Kunto dalam menyiapkan diri memecahkan rekor Guinness itu. Maklumlah, bermain nyaris tanpa jeda selama 100 jam atau selama 5 hari empat malam, bukan perkara enteng. Untuk aksi spektakuler ini, Kunto didampingi EO (event organizer) BAH Production dua pekan lalu sowan ke Kantor Menbudpar guna meminta dukungan.
Sayangnya, sejauh ini dukungan yang didapat Kunto untuk terselenggaranya acara kelas dunia itu, masih terbilang minim. Di bidang danang misalnya, Kunto mengaku, hampir 80 persen berasal dari kocek pribadi. Padahal acara ini bukan saja untuk membuktikan kemampuan anak bangsa yang mampu mengukir prestasi kelas dunia, tapi juga demi mendukung ‘Visit Indonesian Year 2008’.- dia
