Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Google search: m.malaysiakini.com
Pernahkah anda melihat penampakan secara langsung kuntilanak penunggu pohon waru?
Baiklah, ada cerita nih pengalaman nyata dahulu waktu kecil saat mengisi liburan bersama kakek di kampung halaman.
Suatu malam bersama kakek & paman pergi untuk memancing di tepian sungai yg tidak jauh keberadaannya dari rumah.
Ya, memang sudah jadi kebiasaan kakek & paman kalau air sungai meluap karena hujan seharian, maka setelah hujan itu reda & air sungainya mulai surut merupakan kesempatan untuk mancing pada malam harinya.
Karena kalau hujan seharian, rembesan air dari hutan & hulu sungai itu akan mengalir deras & keruh, tidak sedikit ikan-ikan akbar yg tadinya hidup di hulu sungai yg melewati hutan belantara tak terjamah oleh manusia akan terbawa arus ke hilir & berdiam di kubangan air sungai saat mulai surut & berkurang debit airnya.
Biasanya ketika malam hari itulah ikan-ikan akbar akan keluar dari persembunyiannya (liar) di kubangan air yg mereka tempati untuk mencari makanan seperti cacing tanah & lainnya.
Nah waktu malam itu kebetulan hujan sudah reda & langitpun mulai cerah bercahaya dilengkapi dengan munculnya bulan purnama, sehingga malam itu suasana cahaya remang-remang sudah membuyarkan gelapnya malam.
"Malam yg bagus buat mancing, mari kita berangkat!" mengatakan sang kakek waktu itu.
Jam menunjukan pukul 09.00 malam, kami bertiga berangkatlah menuju tepian sungai dengan membawa peralatan memancing & perlengkapan lainnya yg sudah dipersiapkan sejak tadi siang.
Sampailah di tepi sungai, lalu mancing pun dimulai. Akan tetapi apa yg terjadi? ternyata tidak ada satupun ikan yg nyangkut di kail, padahal waktu itu mancing di tepian sungai yg tidak jauh dari rumah kakek biasanya banyak ikan yg dapat di dapatkan.
Selanjutnya kami bertiga memutuskan untuk berpindak ke kubangan air dibagian hilirnya, ternyata di sana juga hanyalah ikan kecil yg berhasil menyantap umpan di kail kami.
Saat itu, sang kakek sudah mulai kesal karena sudah berjam-jam memancing hanyalah ikan-ikan kecil saja yg di dapatkan, lantas kakek mengajak kami & paman untuk menuju kebagian hilir lagi.
Sampailah pada kubangan air yg panjang & besar, disana masing-masing mencari posisi mancing yg tepat & dianggap nyaman untuk melempar pancingnya.
Terlihat, air sungai membentuk kubangan besar, dalam & panjang (mirip danau) yg airnya terus mengalir tanpa henti ke bagian hilir.
Bebatuan akbar menghiasi sepanjang sungai, pohon waru rimbun berdiri di pinggir sungai dari mulai pohon yg tumbuh masih kecil hingga sebesar kerbau begitu rindang ditepian dihiasi kilauan cahaya bulan purnama menambah kesejukan malam yg sepi.
Ya, di sana memang sepi karena jauh dari perkampungan penduduk!
Pohon-pohon bambu haur & semak-semak rumput liar yg sudah meninggi terlihat menghiasi suasana di tempat itu.
Saat melihat ke bagian atas sebelah kiri, disana terdapat jembatan tua peninggalan penjajah belanda yg masih berdiri kokoh cuma dapat dilewati untuk satu mobil saja, waktu itu tak satupun kendaraan baik mobil maupun motor yg lewat menambah sepinya tempat itu.
Ketika itu memang dikampung kami masih jarang orang yg memiliki kendaraan, karena termasuk desa tertinggal bahkan rumah-rumah penduduk masih banyak yg cuma beralaskan tanah atau berbentuk pentas berbahan papan kayu, bilik & beratapkan daun kelapa, kawung & ki erih.
"Wah dapet!" suara kakek terdengar memecahkan keheningan malam, ternyata kakek mendapatkan ikan lele yg sangat besar.
Tidak lama berselang, paman juga berteriak gembira: "nih saya juga dapat!" sambil memperlihatkan ikan "lubang" yg panjang & akbar nyangkut di kailnya.
Suasana sepi, hening & menyeramkan beralih jadi kegembiraan karena kami bertiga ramai mendapatkan ikan akbar secara bergantian.
Tanpa terasa jam tangan sudah menunjukan pukul 12.00 malam, beragam ikan sungai sudah banyak di dapatkan sehingga "korang" tempat penyimpanan ikan pun sudah penuh.
Berhubung tempat ikan itu sudah penuh, maka karung yg dipakai peralatan lain juga akhirnya di pakai untuk menampung ikan yg di dapatkan selanjutnya.
Di diamkanlah karung tempat ikan itu di belakang kami bertiga yg saat itu sudah mulai terisi banyak ikan-ikan hasil pancingan.
Namun, apa yg terjadi? Di belakang kami bertiga terdengar suara kresek-kresek, krek-krek & suara aneh lainnya. Kamipun tak menghiraukannya karena sedang asyik-asyiknya mancing, dalam hati beranggapan bahwa ikan yg tersimpan dikarung ada yg masih hidup & bergerak-gerak.
Setelah agak lama suara-suara itu terdengar agak aneh, kamipun menoleh kebelakang & spontan berteriak saja : "paman anjing menyantap ikan kita!", Sontak sang paman langsung marah setelah melihatnya.
Ya marah besar, karena ikan yg tersimpan di karung itu sedang dilahap satu persatu oleh seekor anjing akbar berwarna hitam yg entah dari mana datangnya.
Tanpa berfikir panjang, si paman langsung saja mengambil batu akbar yg ada dibawah kakinya & "bledug" dilemparnya binatang itu dengan batu.
Akan tetapi kerasnya batu akbar ternyata tidak melumpuhkan anjing liar berwarna hitam itu, binatang itu malah lari sambil membawa karung ikan dengan gigitan taringnya yg tajam ke dalam semak belukar pohon waru yg gelap gulita.
Tanpa banyak bicara kami bertiga melanjutkan mancingnya, namun aneh ikan akbar yg tadinya ramai menyantap umpan dikail mendadak seolah hilang & tak mau lagi memakan umpan di pancing, suasana malam mendadak sepi sekali, heuning & menyeramkan.
Terasa bulu kuduk merinding tanpa sebab, saat menoleh ke paman & kakek mereka masih fokus memperhatikan alat pancingnya yg masih terdiam tak bergerak.
Ketika kami menoleh kumpulan pohon waru yg berdiri besar, berjajar & rimbun dipinggiran sungai, terlihat ada yg bergoyang-goyang.
Spontan bilang "kakek ada yg bergerak tuh di dahan pohon waru!", tadinya mengira anjing hitam tadi naik ke pohon waru.
Pamanpun menyalakan lampu senter kearah adanya pergerakan itu & "tralala" terlihat sedang duduk manis di dahan pohon waru seorang perempuan berambut panjang dengan pakaian berwarna putih menggoyang-goyangkan dahan ranting akbar pohon itu dalam posisi membelakangi kami.
Lantas, kakek menyapanya "neng sudah malam, hayo pulang!" Kami & paman cuma terbengong-bengong saja karena heran ada sosok perempuan malam-malam kok bermain di atas pohon?
Kakek melanjutkan sapaannya "hayoo turun, bahaya malam-malam bermain di pohon waru nanti kesambet!"
Karena kesal sapaannya tidak di gubris oleh sosok itu, kakek pun mengambil batu sebesar kepalan tangan sambil bicara "jika anda tidak turun juga, saya lempar ya!" hardik sang kakek.
Sosok wanita berambut hitam panjang dengan baju menutupi tangan & kaki itu berhenti menggoyang-goyangkan dahan pohon waru, lalu perlahan menoleh kearah kami bertiga, lalu apa yg telihat?
Kami pun terkejut, karena setelah menghadapkan wajahnya terlihat mukanya begitu datar tak berhidung, tidak terlihat telinga maupun bibir, cuma mata merah telihat sangat tajam sekali menatap kami bertiga sambil bersuara "Hi hi hi hi hi hi...hii hii hii hii hii hi", yg terus tertawa seram tanpa hentinya.
Sang kakek berteriak : "Astaghfirullohal Adzim...kuntilanak!, sambil bergegas mengajak kami & paman untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Raut paras kakek saat melihat kuntilanak penunggu pohon waru itu seolah tidak ada rasa takut sama sekali, mungkin karena pengalaman hidup saat muda sudah menciptakan mentalnya sangat tangguh karena dulu semasa perjuangan kemerdekaan beliau ini seorang tentara PETA dibawah pimpinan Agus Supriadi (pahlawan nasional), padahal waktu itu sudah tidak muda lagi, usia sudah 65 tahun akan tetapi tubuh terlihat kekar, berotot & kuat.
Selama perjalanan pulang menuju rumah, selaku muslim tak henti-hentinya kami membaca ayat Qursy sebagai penjagaan dari makhluk astral yg menakutkan itu.
Hari ini 01:03