Hai, saya Mudita (nama pena), masih newbie sekali dalam menulis...
Kebetulan suka menulis puisi... tapi yah, puisi kacangan
Namun sebagai pujangga kacangan, tentu saja saya tidak mau terus berpangkat 'kacangan', saya pun ingin naik pangkat menjadi pujangga beneran
maka itu saya bermaksud untuk terus post puisi-puisi karya saya di thread ini, dengan tujuan agar bisa dibaca oleh orang-orang dan dinilai, apakah puisi ini bagus, atau tidak layak sama sekali... maka itu komentar dari teman-teman sangat dibutuhkan...
Kebanyakan puisi saya tidak berjudul, mungkin teman-teman juga bisa memberi masukan judul kepada saya
Ok, saya mulai post puisi pertama saya...
---
[Untitled 1]
Kamis, 27/11/08 20:21
Aku tidak bisa tersenyum malam ini
Mimpiku tidak indah lagi
Hanya sepasang mata yang terbuka sayu letih
Musim itu telah berganti, malam kini sendiri
Aku tak mampu memejamkan mata kali ini
Selimutku tidak hangat lagi
Tersisa sebuah penyesalan yang terlambat
Terlalu munafik untuk tertawa, aku sudah tak kuat
Terlalu awal untuk menenggak segelas susu hangat
Dinginnya malam menusuk tulangku hingga mati rasa
Memejamkan mata pun hanya menjadi pelarianku
Dan aku, tak mampu berkata-kata
Aku tak mampu mengucapkan selamat malam kepadamu
Pelukanku tak hangat lagi...
Kebetulan suka menulis puisi... tapi yah, puisi kacangan

Namun sebagai pujangga kacangan, tentu saja saya tidak mau terus berpangkat 'kacangan', saya pun ingin naik pangkat menjadi pujangga beneran
maka itu saya bermaksud untuk terus post puisi-puisi karya saya di thread ini, dengan tujuan agar bisa dibaca oleh orang-orang dan dinilai, apakah puisi ini bagus, atau tidak layak sama sekali... maka itu komentar dari teman-teman sangat dibutuhkan...Kebanyakan puisi saya tidak berjudul, mungkin teman-teman juga bisa memberi masukan judul kepada saya

Ok, saya mulai post puisi pertama saya...
---
[Untitled 1]
Kamis, 27/11/08 20:21
Aku tidak bisa tersenyum malam ini
Mimpiku tidak indah lagi
Hanya sepasang mata yang terbuka sayu letih
Musim itu telah berganti, malam kini sendiri
Aku tak mampu memejamkan mata kali ini
Selimutku tidak hangat lagi
Tersisa sebuah penyesalan yang terlambat
Terlalu munafik untuk tertawa, aku sudah tak kuat
Terlalu awal untuk menenggak segelas susu hangat
Dinginnya malam menusuk tulangku hingga mati rasa
Memejamkan mata pun hanya menjadi pelarianku
Dan aku, tak mampu berkata-kata
Aku tak mampu mengucapkan selamat malam kepadamu
Pelukanku tak hangat lagi...


