• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kumpulan Kisah Nyata Kekuatan Doa

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Daftar Isi
01. Sungguh, Allah Tak Pernah Tidur!
02. Tak Ada Jalan Buntu Selama Yakin Pada Allah
03. Aku Berharap Ada Kavling Surga Di Salah Satu Kaki Ibu Ku
04. Skenario Allah Dibalik Kegagalan Ku
05. Pertolongan Allah Tak Pernah Telat
06. Ketika Allah Telah Berkehendak
07. Dimana Ada Kemauan, Disitu Ada Jalan
08. Kiriman Amplop Itu Datang Bertubi-tubi
09. Durhaka, Berbuah Celaka
10. Allah Tak Pernah Ingkar Janji



Sungguh, Allah Tak Pernah Tidur!


Aku cuma dapat pasrah memandang Saidah, istriku yg berbaring lemah di sebuah Rumah Sakit (RS) di kota Madinah. Namun, keteganganku mendapati istri yg harus menjalani persalinan di tanah rantau & jauh dari keluarga rupanya belum cukup. Sebab ternyata, istri sudah divonis operasicesaroleh dokter yg menanganinya.

Sekonyong-konyong, seorang petugas langsung menghampiriku & menyodorkan secarik tagihan berisi beberapa angka.

Iya, benar! cuma Rp. 17.000.000 & harus dibayarcashsekarang, mengatakan petugas itu datar.

Tanpa sadar, bola mataku perlahan mulai mengair. Ya Rabb, darimana uang sebanyak itu? Jangankan tabungan ataucelengan,handphonepun adalah barang yg sangat mewah bagiku yg masih berstatus mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM).

Kami baru dapat bertindak kalau biaya administrasi itu sudah lunas, kata- petugas rumah sakit itu terngiang kembali, layaknya palu godam yg menghantam kepalaku.



Hai orang-orang yg beriman, jadikanlah sabar & shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yg sabar.[QS: Al Baqarah: 153]

Penggalan surat yg sudah lama kuhafalkan itu tiba-tiba berkelebat dalam fikiranku. Seolah ada yg menggerakkan, tanpa fikir panjang saya langsung melangkah mengambil air wudhu & bersimpuh di hadapan-Nya.

Seolah tanpa jarak, saat itu saya benar-benar menumpahkan segala curhatku kepada Allah Subhanahu Wataala. Shalat & berdoa, itu saja yg kuulang-ulang terus. Entahlah, rupanya beberapa dokter iba melihat perbuatanku. Mereka lalu bersedia menolong proses operasi tanpa perlu dibayar.

Alhamdulillah, pertolongan Allah mulai terbuka, begitu batinku dalam diam.

Ibarat pepatah, Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Saat menghadap direktur rumah sakit, para dokter spesialis itu malah langsung kena semprot oleh sang direktur.

Memangnya ini rumah sakit punya bapak kalian. Semua peralatan & obat-obat itu harus dibayar? Kalian di sini cuma bekerja menjalankan tugas saja, tidak punya hak untuk membebaskan biaya pasiencecar, demikian direktur yg emosi.

Aku cuma diam membisu di belakang. Dalam hati, saya kasihan juga melihat para dokter itu. Mereka kena marah cuma karena harap menolong urusanku saja.

Entah mengapa, lagi-lagi saya harap shalat & mengadu kepada-Nya lagi. Entah mengapa, tiba-tiba hati ini terasa sejuk dalam lautan doa yg terus kupanjatkan kepada Allah Subhanahu Wataala.

Akhirnya, tiba-tiba Allah Subhanahu Wataala mempertemukanku dengan salah seorang pengurus rumah sakit.

Uniknya, orang yg baru kukenal itu kaget & sontak merangkul badanku dengan akrab. Usut punya usut, ternyata ia membaca nama yg tertera di kartu lembaran identitasku, Nashirul Haq al-Bilawi. Rupanya orang itu mengira diriku berasal dari suatu daerah & semarga dengannya dari dataran Arab, yaitu Alwi atau Alawi. Entah apa karena saya dianggap garis keturunan Alawi dari Hadramaut. Padahal Bilawi itu adalah Bilawa, nama sebuah kampung di pelosok Sulawesi Selatan.

Singkat kata, semua biaya operasi ditanggung olehnya. Subhanallah Wallhamdulillah.

Qaddarallahu, ternyata kisah ketegangan di Rumah Sakit Madinah itu rupanya belum tuntas. Pasca operasicesardilakukan, sontak sesaat rumah sakit itu langsung heboh. Ternyata ada inspeksi mendadak (sidak) alias razia bagi penduduk kota Madinah yg tak memiliki bukti diri lengkap.

Ya Rabb, sekali lagi saya cuma dapat berharap & meminta kepada-Mu. Sebab wanita yg baru saja melahirkan anak pertamaku itu tak punya bukti diri sama sekali, kecuali ia adalah istriku yg sah.

Sudah maklum bagi pendatang, pasien gelap atau siapa saja yg ketahuan tak punya bukti diri terancam dipulangkan dengan paksa. Meski bersama bayi merahnya sekalipun.

Subhanallah. Allah Subhanahu Wataala tak pernah tidur & membiarkan hamba-Nya dirundung kesusahan. Allah berkuasa atas segala tipu daya yg ada.

Saat petugas pemeriksa itu datang, mereka cuma melewati istriku yg masih terbaring lemah. Rupanya petugas itu mengira diriku adalah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias pembantu & istriku disangkanya seorang majikan orang Arab yg sedang kujaga.Allahu Akbar!

*/Roidatun Nahdhah, pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri. Kisah nyata ini dihinggakan oleh Nashirul Haq dalam sebuah kesempatan majelis taklim, di Gunung Tembak, Balikpapan Hari ini 20:42
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.