Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Saya adalah orang yg suka mengobrol. Lebih tepatnya, suka bicara, & orang lain mendengarkan. Jaman kuliah, ada satu momentum ketika kawan-kawan saya begitu hobi main ke kosan untuk sekedar mendengarkan ocehan saya hingga berjam-jam, rokok berbatang-batang, & kopi bergelas-gelas. Bukan apa-apa, bagi saya, bicara depan orang itu ibarat memuntahkan lahar dari gunung api pikiran saya.
Apalagi kalau baru baca ngelarin bacaan satu topik. Makin menjadi-jadi saya harap menumpahkan hasil olah bacaan saya. Buku yg saya tuntaskan dalam waktu seminggu, misalkan, dapat saya ektraksi ke dalam sebuah dialog jadi cuma dua hingga tiga jam. Manakala saya masuk pada sebuah obrolan, gatal rasanya kalau tidak me-mention buku yg pernah saya baca.
Namun yg aneh, semasa kuliah, meski saya suka baca buku, tetapi yg saya baca bukan buku yg berkaitan dengan materi perkuliahan. Ibaratnya, materi kuliah itu ke arah timur, materi di luar kuliah ke arah barat. Saya bukan ke arah barat lagi, tetapi sudah tinggal di barat. Akibatnya dapat ditebak, saya ketinggalan materi kuliah, nilai turun.
Lebih aneh lagi, selama materi itu di luar kuliah, saya suka semuanya. Kala itu jurusan yg saya ambil adalah farmasi. Maka semua materi di luar farmasi, baik itu agama, politik, filsafat, arsitektur, fengshui, pseudo-science dll, selama materi itu di luar farmasi, malah semakin saya gandrungi.
Tetapi kebiasaan itu akhirnya saya hilangkan selepas lulus kuliah. Saya lulus farmasi, konyol rasanya kalau ditanya urusan farmasi saya mematung malu karena tidak tahu. Tapi urusan di luar farmasi saya lebih banyak tahu. Padahal aspek legal saya menyatakan bahwa saya semestinya jago dalam urusan farmasi, mengingat ijazah di rumah menyatakan bahwa saya layak menyandang gelar sarjana farmasi.
Pelan-pelan saya mengatur prioritas. Ilmu kefarmasian kembali saya tingkatkan, sementara ilmu di luar farmasi saya membatasi diri cuma cukup tahu saja. Tidak hingga pakar juga tidak apa-apa. Masalahnya adalah, orang lain sudah kadung mengenal saya sebagai orang farmasi. Sudah pasti akan jadi rujukan orang lain, di luar farmasi, bertanya kepada saya soal farmasi. Saya harus dapat berpuasa, untuk tidak terlalu penasaran lagi kepada sesuatu yg bukan bidang saya. Biar orang dengan bidang bersangkutan yg mendalaminya.
Agaknya "penyakit" ini tidak cuma menjangkiti saya. Di luar sana, masih ada orang yg belum memahami dia fokusnya apa, & segmennya siapa. Orang masih tidak tahan untuk masuk ke halaman rumah orang lain, namun lupa untuk menghias rumahnya sendiri. Maksudnya, sering kita melihat orang dengan latar belakang tertentu, tetapi mengomentari atau menggeluti sesuatu yg bukan ranahnya.
Hanya saja hidup ini memang acak. Raditya Dika yg jebolan ilmu politik, malah sukses jadi penulis & stand up comedy. Pak Volodymyr Zelensky yg seorang komedian malah sukses karirnya di politik dengan jadi presiden Ukraina.
Jadi apa kesimpulannya?
Kalau anda latar belakang pendidikannya X, jadilah profesi & kegiatanmu ke kedepannya tidak jauh dari X. Jangan Y, jangan Z, & jangan A. Dengan anda fokus terus akan X, itu yg akan menciptakanmu jadi seorang expert. Pakar. Ahli. Tapi soal kenyamanan, siapa yg tahu, meski anda latar belakangnya seorang X, tetapi anda nyamannya jadi Y, ya lanjutkan saja. Selama anda nyaman & aspek kebermanfaatannya lebih luas.
Saya pribadi, meski awalnya tak terlalu nyaman dengan dunia farmasi, & lebih bahagia dengan topik agama, rasanya harus mulai mengalah pada ego. Masalahnya kalau saya giat dengan topik agama, cuma dengan modal baca buku, tidak akan mengantarkan saya jadi ulama akbar yg seperti jebolan Timur Tengah & sekitarnya. Tentu harus ada jenjang yg harus ditempuh lagi. Sementara keilmuan farmasi, paling tidak saya sudah ada di tengah-tengah piramid, tinggal setengah jalan lagi untuk mencapai puncak.
Kalau ada bagian yg anda belum paham dari beberapa paragraf di atas, tanya di komentar saja ya Pak! Hari ini 12:49
Apalagi kalau baru baca ngelarin bacaan satu topik. Makin menjadi-jadi saya harap menumpahkan hasil olah bacaan saya. Buku yg saya tuntaskan dalam waktu seminggu, misalkan, dapat saya ektraksi ke dalam sebuah dialog jadi cuma dua hingga tiga jam. Manakala saya masuk pada sebuah obrolan, gatal rasanya kalau tidak me-mention buku yg pernah saya baca.
Namun yg aneh, semasa kuliah, meski saya suka baca buku, tetapi yg saya baca bukan buku yg berkaitan dengan materi perkuliahan. Ibaratnya, materi kuliah itu ke arah timur, materi di luar kuliah ke arah barat. Saya bukan ke arah barat lagi, tetapi sudah tinggal di barat. Akibatnya dapat ditebak, saya ketinggalan materi kuliah, nilai turun.
Lebih aneh lagi, selama materi itu di luar kuliah, saya suka semuanya. Kala itu jurusan yg saya ambil adalah farmasi. Maka semua materi di luar farmasi, baik itu agama, politik, filsafat, arsitektur, fengshui, pseudo-science dll, selama materi itu di luar farmasi, malah semakin saya gandrungi.
Tetapi kebiasaan itu akhirnya saya hilangkan selepas lulus kuliah. Saya lulus farmasi, konyol rasanya kalau ditanya urusan farmasi saya mematung malu karena tidak tahu. Tapi urusan di luar farmasi saya lebih banyak tahu. Padahal aspek legal saya menyatakan bahwa saya semestinya jago dalam urusan farmasi, mengingat ijazah di rumah menyatakan bahwa saya layak menyandang gelar sarjana farmasi.
Pelan-pelan saya mengatur prioritas. Ilmu kefarmasian kembali saya tingkatkan, sementara ilmu di luar farmasi saya membatasi diri cuma cukup tahu saja. Tidak hingga pakar juga tidak apa-apa. Masalahnya adalah, orang lain sudah kadung mengenal saya sebagai orang farmasi. Sudah pasti akan jadi rujukan orang lain, di luar farmasi, bertanya kepada saya soal farmasi. Saya harus dapat berpuasa, untuk tidak terlalu penasaran lagi kepada sesuatu yg bukan bidang saya. Biar orang dengan bidang bersangkutan yg mendalaminya.
Agaknya "penyakit" ini tidak cuma menjangkiti saya. Di luar sana, masih ada orang yg belum memahami dia fokusnya apa, & segmennya siapa. Orang masih tidak tahan untuk masuk ke halaman rumah orang lain, namun lupa untuk menghias rumahnya sendiri. Maksudnya, sering kita melihat orang dengan latar belakang tertentu, tetapi mengomentari atau menggeluti sesuatu yg bukan ranahnya.
Hanya saja hidup ini memang acak. Raditya Dika yg jebolan ilmu politik, malah sukses jadi penulis & stand up comedy. Pak Volodymyr Zelensky yg seorang komedian malah sukses karirnya di politik dengan jadi presiden Ukraina.
Jadi apa kesimpulannya?
Kalau anda latar belakang pendidikannya X, jadilah profesi & kegiatanmu ke kedepannya tidak jauh dari X. Jangan Y, jangan Z, & jangan A. Dengan anda fokus terus akan X, itu yg akan menciptakanmu jadi seorang expert. Pakar. Ahli. Tapi soal kenyamanan, siapa yg tahu, meski anda latar belakangnya seorang X, tetapi anda nyamannya jadi Y, ya lanjutkan saja. Selama anda nyaman & aspek kebermanfaatannya lebih luas.
Saya pribadi, meski awalnya tak terlalu nyaman dengan dunia farmasi, & lebih bahagia dengan topik agama, rasanya harus mulai mengalah pada ego. Masalahnya kalau saya giat dengan topik agama, cuma dengan modal baca buku, tidak akan mengantarkan saya jadi ulama akbar yg seperti jebolan Timur Tengah & sekitarnya. Tentu harus ada jenjang yg harus ditempuh lagi. Sementara keilmuan farmasi, paling tidak saya sudah ada di tengah-tengah piramid, tinggal setengah jalan lagi untuk mencapai puncak.
Kalau ada bagian yg anda belum paham dari beberapa paragraf di atas, tanya di komentar saja ya Pak! Hari ini 12:49