yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
SOLO - Berkembangnya laju pertumbuhan Usaha Kecil mandilu (UKM) di Kota Solo, Jawa Tengah, yang cukup pesat, mendorong minat perbankan nasional menjadikan Solo sebagai lahan basah yang baru.
Seperti yang dilakukan salah satu perbankan yang mayoritas sahamnya dikuasai Jepang, PT bunk Nusantara Parahyangan Tbk ini, membuka cabang ke-64 di Solo. Tak tanggung-tanggung, BNP mengucurkan asetnya sebesar Rp100 miliar untuk menggarap sektor UKM di Kota Solo, Jawa Tengah.
"Di Solo kami juga sudah punya Divisi Unit Mikro sendiri. Targetnya, 75 persen portofolio kredit kami akan disalurkan ke sektor UMKM,” jelas Direktur Bisnis bunk BNP, Budi T Halim, kepada wartawan, di Solo, Jawa Tengah, Kamis (7/6/2012).
Menurut Budi, dengan alokasi aset yang dikucurkan untuk menggarap sektor UKM di Kota Solo dan kota-kota penyangga lainnya yang dekat dengan Solo, pihaknya optimistis, target tersebut bisa tercapai. Apalagi, sebelumnya BNP Solo akhir April lalu, dan sudah bisa meraup aset sekira Rp15 miliar.
Meskipun ada regulasi bunk Indonesia (BI) yang mengatur kucuran kredit perbankan, menurut Budi, tidak menjadi kendala bagi pihaknya. Malah sebaliknya, dengan regulasi BI, pola penyaluran kredit perbankan bisa terkendali dengan baik.
"Kami ekspansi ke Solo karena di Solo juga banyak kantung-kantung ekspor. Ke depan kami akan garap serius sektor ini karena kami adalah bunk devisa,” pungkasnya.
Seperti yang dilakukan salah satu perbankan yang mayoritas sahamnya dikuasai Jepang, PT bunk Nusantara Parahyangan Tbk ini, membuka cabang ke-64 di Solo. Tak tanggung-tanggung, BNP mengucurkan asetnya sebesar Rp100 miliar untuk menggarap sektor UKM di Kota Solo, Jawa Tengah.
"Di Solo kami juga sudah punya Divisi Unit Mikro sendiri. Targetnya, 75 persen portofolio kredit kami akan disalurkan ke sektor UMKM,” jelas Direktur Bisnis bunk BNP, Budi T Halim, kepada wartawan, di Solo, Jawa Tengah, Kamis (7/6/2012).
Menurut Budi, dengan alokasi aset yang dikucurkan untuk menggarap sektor UKM di Kota Solo dan kota-kota penyangga lainnya yang dekat dengan Solo, pihaknya optimistis, target tersebut bisa tercapai. Apalagi, sebelumnya BNP Solo akhir April lalu, dan sudah bisa meraup aset sekira Rp15 miliar.
Meskipun ada regulasi bunk Indonesia (BI) yang mengatur kucuran kredit perbankan, menurut Budi, tidak menjadi kendala bagi pihaknya. Malah sebaliknya, dengan regulasi BI, pola penyaluran kredit perbankan bisa terkendali dengan baik.
"Kami ekspansi ke Solo karena di Solo juga banyak kantung-kantung ekspor. Ke depan kami akan garap serius sektor ini karena kami adalah bunk devisa,” pungkasnya.