• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Kualitas Pembantu SBY

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. byakuya
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

byakuya

IndoForum Activist C
No. Urut
46894
Sejak
25 Jun 2008
Pesan
14.460
Nilai reaksi
288
Poin
83
Presiden akhirnya mengeluarkan Keppres soal pemberhentian Jaksa Agung Hendarman Supandji. Hal ini bertolak belakang dengan sikap sejumlah pembantunya yang keukeuh menyebut Hendarman masih sah sebagai Jaksa Agung.

Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Mohammad Ikhsan Tualeka mempertanyakan kompetensi Staf Khusus Kepresiden Bidang Hukum Denny Indrayana dan Menteri Sekretaris Negera Sudi Silalahi yang menafsirkan berbeda putusan Mahkamah Konstitusi (MK), sebelum Presiden mengeluarkan Keppres.

“Realitas ini menunjukkan bahwa sejumlah pembantu SBY ternyata tidak kompeten dan cenderung memberikan informasi yang keliru, sehingga SBY tidak mampu menyikapi persoalan secara cerdas, cepat dan tepat. Ini juga harus menjadi pertimbangan Presiden untuk mengevaluasi para pembantunya,” ujarnya kepada okezone, Minggu (26/9/2010).

Menurut Ikhsan, ada sinyalemen berlakunya kembali mekanisme “asal bapak senang” seperti terjadi pada zaman Orde Baru. Dia mencontohkan sikap Denny yang ngotot dengan argumentasinya tentang legitimasi Jaksa Agung.

“Kan terbukti keliru. Begitu juga dengan pembelaan yang disampaikan Sudi Silalahi, kan juga salah,” tegasnya.

Tidak adanya kerendahan hati bahkan cenderung egois dari para pembantu Presiden dalam merespon saran dan tuntutan publik, dinilai Ikhsan akan sangat menguras energi publik.

"Coba, kalau sejak awal para pembantu presiden mau legowo atau berbesar hati. Kan tidak terjadi polemik dan kekisruhan hukum dan politik semacam ini,” katanya.

Karena itu dia berharap, polemik semacam ini bisa menjadi pelajaran penting bagi Presiden untuk lebih cepat dan tanggap dalam merespon persoalan krusial, terutama menyangkut implementasi sistem ketatanegaraan di Indonesia.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.