• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kristenisasi tanpa Kristus

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Kristenisasi tanpa Kristus


Sejarah panjang Kristenisasi di Indonesia tidak pernah dapat dilepaskan dari pertarungan epistemologis. Pada tahap awal kedatangan bangsa Eropa, Kristenisasi dilakukan secara frontal: gereja didirikan, sekolah misi dibuka, & Injil dikabarkan dengan cara langsung. Strategi ini efektif di beberapa daerah, seperti Minahasa, Maluku, & Nusa Tenggara Timur, tetapi gagal di wilayah Islam dengan kekuatan sosial-politik yg kuat, seperti Aceh, Jawa, & Minangkabau.

Jan Sihar Aritonang dalam Sejarah Perjumpaan Kristen & Islam di Indonesia (2004) mencatat bahwa di wilayah dengan struktur Islam yg mapan, misi terbuka justru menimbulkan resistensi. Alih-alih menghasilkan konversi massal, strategi itu memicu konflik & memperkuat bukti diri Islam lokal. Dalam konteks inilah, kolonial & misionaris mulai menyadari bahwa strategi frontal tidak akan pernah berhasil menaklukkan Islam.

Abad ke-19 menandai lahirnya strategi baru: infiltrasi. Tokoh sentral di balik strategi ini adalah Christiaan Snouck Hurgronje. Dalam karyanya De Atjehers (1893), ia menekankan pentingnya membedakan Islam sebagai agama ritualyang boleh dijalankan umatdari Islam sebagai kekuatan politikyang harus ditekan. Snouck bahkan menyamar sebagai muslim di Mekkah untuk memahami Islam dari dalam. Strateginya bukan menantang ulama secara terbuka, melainkan memengaruhi cara mereka berpikir.

Michel Foucault dalam Power/Knowledge (1980) menjelaskan bahwa pengetahuan adalah instrumen kekuasaan yg paling efektif. Snouck memahami logika ini: kalau ulama dapat diarahkan, maka umat otomatis akan mengikuti. Fokus misi pun bergeser: dari rakyat awam ke elit pengetahuan, dari jamaah ke pakar agama.

Karel Steenbrink dalam Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern (1986) menegaskan bahwa kolonialisme berperan akbar dalam transformasi pendidikan Islam. Melalui sekolah-sekolah negeri, kolonial memperkenalkan ilmu pengetahuan Barat, rasionalitas modern, & disiplin birokrasi. Sementara itu, pesantren didorong untuk memasukkan kurikulum biasa supaya lebih relevan.

Pendidikan misi juga mengambil peran penting. Leonard Y. Andaya dalam The World of Maluku (1993) menunjukkan bahwa di Maluku, sekolah misi menghasilkan generasi baru birokrat, tentara, & pegawai yg loyal kepada kolonial. Anak-anak yg bersekolah di lembaga misi memang tidak sering jadi Kristen, tetapi mereka menyerap nilai-nilai disiplin, loyalitas, & rasionalitas Barat. Efek jangka panjangnya lebih signifikan: mereka jadi agen kolonial dalam tubuh masyarakatnya sendiri.

Pola serupa dapat dilihat di Minahasa, Sulawesi Utara. Cornelis Ch. de Jong dalam De Zending der Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indi (1935) mencatat bagaimana keberhasilan misi di Minahasa tidak cuma diukur dari jumlah orang yg dibaptis, tetapi juga dari terbentuknya elit lokal Kristen yg mengisi struktur administrasi kolonial. Pendidikan jadi alat paling ampuh untuk mencetak Kristen barubukan cuma secara agama, tetapi juga secara mentalitas.

Di wilayah muslim yg kuat, strategi ini harus lebih halus. Madrasah & sekolah Islam yg didirikan pada awal zaman ke-20, sering kali dipuji sebagai upaya modernisasi Islam. Namun, kalau dilihat dari perspektif kritis, seperti yg diingatkan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), modernisasi pendidikan juga dapat jadi arena domestikasi. Murid-murid muslim diajarkan sains, matematika, & bahasa Eropa, tetapi secara bersamaan diarahkan menjauh dari pemahaman Islam politik.

Edward Said dalam Orientalism (1978) menjelaskan bahwa kolonialisme bekerja bukan cuma dengan menundukkan Timur dari luar, tetapi juga dengan membentuk cara Timur memandang dirinya sendiri. Ulama yg belajar di Barat atau di lembaga pendidikan modern kolonial adalah contoh paling jelas dari internalisasi orientalisme. Mereka pulang sebagai ahli agama dengan reputasi ilmiah, tetapi epistemologi mereka sudah selaras dengan modernitas sekuler.

William Roff dalam Studies on Islam and Society in Southeast Asia (2009) menegaskan bahwa kolonialisme di Asia Tenggara jarang menargetkan konversi massal. Yang lebih penting adalah memastikan Islam tidak mengganggu proyek negara modern. Untuk itu, kontrol kepada ulama adalah kunci. Jika ulama dapat dikondisikan untuk mengajarkan Islam yg privat & apolitis, maka Islam tidak lagi jadi ancaman.

Talal Asad dalam Genealogies of Religion (1993) mengingatkan bahwa agama sering dikonstruksi oleh kekuasaan. Ahli agama yg lahir dari sistem pendidikan kolonial-modern adalah produk konstruksi itu. Mereka tetap berbicara dalam bahasa agama, tetapi makna agama sudah bergeser. Islam tidak lagi diposisikan sebagai kekuatan sosial-politik, melainkan sebagai moralitas personal.

Di Jawa, kolonial memanfaatkan modernisasi pendidikan Islam untuk melemahkan otoritas pendidikan Islam tradisional. Steenbrink mencatat bahwa madrasah yg diperkenalkan pada awal zaman ke-20 jadi perantara masuknya kurikulum Barat. Ulama lulusan madrasah modern lebih akrab dengan ilmu umum, tetapi kurang mendalami kitab kuning. Dalam jangka panjang, hal ini melemahkan basis resistensi politik Islam.

Di Sumatra Barat, muncul gerakan kaum muda yg dipengaruhi oleh modernisme Islam Timur Tengah. Gerakan ini menekankan rasionalitas, purifikasi, & penolakan kepada praktik lokal. Namun, sebagaimana dicatat Azyumardi Azra dalam The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia (2004), modernisme Islam yg tampak progresif juga kompatibel dengan agenda kolonial: Islam dijadikan agama privat yg lebih cocok dengan negara modern.

Dan setelah sejarah panjang infiltrasi misionaris ke dalam dunia pendidikan Islam, satu ironi akbar muncul di hadapan kita. Kristenisasi tidak lagi hadir dari luar, dengan tanda salib & injil di tangan, tetapi merembes dari dalam, dibawa oleh mereka yg tampil sebagai pakar agama.

Umat melihat sorban, mendengar ayat, & merasakan kharisma, tetapi sering tidak menyadari bahwa kerangka pengetahuan yg dipakai sudah lama dikonstruksi oleh kolonial & modernitas Barat. Dengan demikian, bahasa agama tetap dipertahankan, tetapi maknanya sudah berubah.

Justru karena itulah, para pakar agama yg mestinya jadi benteng terakhir pertahanan kini justru jadi kelompok yg paling layak dicurigai sebagai agen terselubung. Bukan karena mereka sadar menjalankan misi, melainkan karena epistemologi yg mereka bawa sudah menyerap nilai-nilai yg dirancang untuk menjinakkan Islam.

Maka, sikap kritis kepada otoritas & pakar -ahli agama jadi keniscayaan. Kecurigaan bukan ditujukan pada simbol lahiriah, melainkan pada wacana yg mereka sebarkan. Sejarah mengajarkan bahwa pengaruh kolonial tidak pernah benar-benar hilang; ia hidup kembali melalui tafsir, kurikulum, & pendidikan yg seolah-olah Islami, tetapi sesungguhnya melanjutkan proyek lama: mengendalikan umat dari dalam.​
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.