Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Selasa, tanggal 19 bulan April, tercatat seorang demonstran asal Sri Lanka tertembak mati saat mengikuti protes atas kenaikan harga barang-barang pokok di Sri Lanka. Pemerintahan Sri Lanka yg gagal membayar hutang luar negeri sudah mengakibatkan cadangan devisa jadi kosong sehingga pemerintah harus membatasi impor bahan-bahan pangan & berujung pada kelangkaan, & kelangkaan barang berujung pada kenaikan harga.
Singkatnya, Sri Lanka sudah jatuh pada krisis ekonomi yg menciptakan para penduduknya kelaparan. Demo besar-besaran yg terjadi di seluruh penjuru negeri adalah bukti betapa buruknya keadaan mereka sekarang & kalau terus dibiarkan tak ada yg dapat menjamin Sri Lanka dapat bertahan.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Negara dengan jumlah hutang yg baru-baru ini menembus 7000 triliun?
Indonesia memang belum memasuki krisis ekonomi, belum. Namun apa yg terjadi di Sri Lanka adalah sebuah fenomena yg tak dapat dianggap remeh. Dalam tahun-tahun ke depan dapat jadi jumlah hutang akan semakin akbar hingga ke tahap pemerintah tak lagi sanggup membayar kembang & cicilan hutang tersebut. Jika itu hingga terjadi maka siapa yg akan jadi korban? Siapa lagi kalau bukan rakyat kecil?
Tapi sebenarnya di mana sih kesalahan dari pengelolaan uang di Indonesia? Setiap tahunnya pemerintah menciptakan anggaran belanja yg nilainya mencapai ribuan trilyun tetapi masalah-masalah yg sama terdengar lagi & lagi. Apakah jumlah APBN itu masih kurang? Atau.
Mari kita sedikit memasuki lautan hipotesis. Apakah menurut Anda Indonesia negara miskin? Tidak, saya rasa jumlah kekayaan negara ini termasuk fantastis kalau dibandingkan dengan negara lain. Kalau begitu ke mana perginya semua kekayaan tersebut?
Anggaplah Anda memesan barang secara online. Jika seller sudah menunjukkan bukti barang dikirim dengan mulus tetapi barang yg Anda terima ternyata cacat maka siapa yg perlu dicurigai? Benar, kurirnya. Atau dalam kasus kekayaan negara, para pejabat. Tampaknya di negeri ini pasti ada saja satu kasus dugaan korupsi yg terjadi setiap bulan & banyak sekali kasus yg berakhir dengan tidak jelas atau sanksi yg terlalu ringan.
Korupsi bukan satu-satunya alasan. Kelebihan bayar, pencucian uang, suap, & anggaran-anggaran yg tidak masuk akal juga turut menyumbang kemiskinan di negara ini. Tak jarang juga beberapa proyek menelan anggaran yg begitu akbar tetapi akhirnya mangkrak atau hasil proyeknya ternyata tidak laku. Ujung-ujungnya pemerintah seolah membuang uang ke tempat sampah atau yg lebih parah, mengalirkannya ke luar negeri.
Dan yg tersisa adalah apa yg rakyat dapatkan. Minyak goreng yg mahal, covid yg terus menolak mati, pajak yg semakin tinggi, & juga perpecahan menjelang pemilu 2024. Sebenarnya masalahnya bukanlah di jumlah uang melainkan sikap dari para pengelolanya. Jika para koruptor terus saja dihukum ringan maka krisis ekonomi cuma tinggal menghitung mundur & kalau itu terjadi siapa yg dapat bertanggungjawab?
Sekian dari saya mari berjumpa di thread saya yg lainnya. Hari ini 06:04