steven yan
IndoForum Junior D
- No. Urut
- 208832
- Sejak
- 2 Jan 2013
- Pesan
- 1.870
- Nilai reaksi
- 23
- Poin
- 38
Untuk kali pertama dalam sejarah, negeri ginseng Korea Selatan memiliki presiden wanita pertama. Dia Park Geun-Hye, putri mantan pemimpin junta militer Korsel, Park Chung-hee.
Wanita 61 tahun ini diambil sumpahnya hari ini di Seoul, Senin 25 Februari 2013, dalam sebuah upacara pelantikan yang berlangsung selama 2,5 jam dan disaksikan oleh ribuan rakyat Korsel, ungkap kantor berita Reuters.
Upacara pelantikan ini juga dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono dan istrinya, Herawati.
Park kembali melangkahkan kakinya ke dalam Blue House, istana presiden Korsel, setelah 50 tahun lalu sang ayah berhasil meraih kekuasaan melalui kudeta militer. Geun-Hye merupakan sosok yang dikagumi oleh kaum konservatif Korea yang merasa bahwa dia mewarisi bakat kepimpinan sang ayah.
Selain itu publik jatuh simpati padanya karena telah kehilangan orang tuanya dalam tragedi pembunuhan. Ibu Park tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh Korea Utara ke Blue House tahun 1968. Sedangkan sang ayah juga tewas dalam aksi pembunuhan berencana pada 1979.
Ajak Korut
Segera setelah dilantik sebagai presiden negara dengan perekonomian keempat terkuat di dunia, Park dibanjiri tugas-tugas penting. Berbagai tantangan mulai dari menyikapi rezim di Korut, lambatnya perkembangan kesejahteraan dan ekonomi Korsel adalah sebagian tugas yang telah menantinya.
Dalam menyikapi krisis nuklir Korut, Park cenderung mengajak Korut kembali ke meja perundingan. Sikap yang berbeda yang tidak ditunjukkan oleh pendahulunya. Ketimbang menggunakan jalur kekerasan, Park memilih membangun kepercayaan di antara dua negara melalui pengiriman bantuan, pembicaraan rekonsiliasi dan pembukaan kembali beberapa insiatif ekonomi skala besar.
Seperti dilansir laman CBC News, Minggu 24 Februari 2013, Park memperingkatkan Korut bahwa negara itu akan terus mengalami kehancuran tidak menghentikan program uji coba nuklirnya. Park bahkan menekan Pyongyang untuk merespon tawaran terbuka yang diberikan kepada Korut.
Sikap kooperatif ini diambil Park karena dia berpikir bahwa itu merupakan jalan terbaik yang dapat ditempuh untuk memperbaiki konflik di antara kedua negara. Dia bahkan telah menunjukkan inisiatif sejak tahun 2002, dengan mengunjungi mantan pemimpin Korut Kim Jong-il. Park juga bahkan memberikan cinderamata yang kemudian dipajang di sebuah museum di Korut.
Dalam biografinya yang ditulis di tahun 2007, Park mengatakan maksud dari kunjungannya karena ingin memperbaiki hubungan di antara kedua negara.
"Menurut saya dengan pengalaman menyakitkan yang pernah saya alami sebelumnya, tidak ada orang lain yang lebih baik lagi dapat menyelesaikan konflik Korut dengan Korsel selain diri saya," tulisnya di dalam biografi itu.