Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Anti repost gan
Halo agan sista yg tamvan & cantik
Dah lama nih ane pensi sekarang waktunya ane comeback. Siapa nih yg nungguin ane comeback? Hehe
oke deh, gausah panjang lebar lagi langsung masuk materi aja
Sebelumnya, agan-sista disini pasti dah gak asing kan dengan gerakan "Black Lives Matters" di Amerika sana?
Gerakan ini merupakan bentuk protes dari warga kulit hitam yg sering mendapatkan diskriminasi & juga sikap semena-mena dari warga kulit putih.
Nah, berikut merupakan salah satu bukti kebiadapan warga kulit putih kepada warga kulit hitam
Pada tahun 1932 dicetuskan eksperimen Tuskegee oleh The Public Health Service (PHS) yg bekerja sama dengan Salah Satu Universitas tinggi di Alabama, Amerika Serikat. Dalam studi tersebut, terdapat 600 petani keturunan kulit hitam dari golongan ekonomi rendah yg berasal dari Macon County, Alabama.Sekitar 399 di antaranya menderita sifilis ( penyakit mematikan yg dapat menyebabkan kebutaan, tuli, penyakit jiwa, penyakit jantung, kerusakan tulang, kerusakan sistem saraf pusat, hingga kematian) & 201 pria lainnya yg tak menderita penyakit ini dijadikan kontrol. Sebagai insentif bagi mereka yg rela berpartisipasi dalam penelitian ini, dijanjikan mendapatkan perawatan medis gratis.
Hal ini terdengar sangat menggiurkan , Sebab di Amrik sana (hingga kinipun) nggak ada layanin kesehatan murah (bahkan gratis) seperti BPJS & JKN-KIS.
Nah, apakah mereka benar-benar mendapatkan program layanin kesehatan "gratis" ini?
Tentu saja tidak
Para korban yg diiming-imingi perawatan kesehatan itu sesungguhnya tengah ditipu oleh PHS. Mereka sebenarnya tak pernah berusaha mengobati penyakit sifilis mereka. Obat-obatan yg mereka berikan pun cuma plasebo (obat palsu) yg disamarkan, serta proses pengobatan yg mereka lalui hanyalah prosedur diagnostik semata (tapi tentu, karena mereka bukan dokter atau petugas kesehatan, mereka sama sekali tidak paham). Tujuan percobaan tersebut, bagi pemerintah Amerika, bukanlah untuk mengobati mereka, melainkan untuk melihat seperti apa gejala & akibat siflis berkepanjangan pada tubuh manusia.
Celakanya, prosedur yg sama sekali tidak manusiawi ini berlangsung hingga 40 tahun. Dengan mengatakan lain, selama 40 tahun, para pasien tersebut dibiarkan hidup menderita karena penyakit mereka. Bahkan, pihak pemerintah tak harap mereka sembuh, sebab akan menghalangi tujuan awal penelitian mereka.
Padahal kala itu, dunia kedokteran Barat sudahlah sedemikian canggih.Para dokter yg bekerja untuk riset medis tersebut tahu benar bahwa sifilis sesungguhnya dapat diobati dengan mudah mengpakai antibiotik.
Para pasien yg jadi subjek penelitian juga kebanyakan tak tahu bahwa mereka menderita sifilis karena rendahnya pendidikan mereka.Sebaliknya, para korban ini diberitahu bahwa mereka sedang dirawat karena anemia & menderita penyakit darah kotor.
Yang lebih parah lagi, sifilis merupakan penyakit seksual menular sehingga para korban tak tahu bahwa penyakit mereka dapat menulari istri mereka. Bahkan, kalau tak ditangani, penyakit tersebut dapat menular ke janin yg dikandung ibu yg mengidap sifilis & menyebabkan bayi lahir cacat & mengalami deformasi ( kondisi tubuh berkembang tidak normal contohnya kaki bengkok) .
Yang lebih menciptakan geram lagi, eksperimen ini sesungguhnya hampir saja terbongkar pada 1940-an. Selama Perang Dunia II, 256 dari subjek penelitian yg terinfeksi diwajibkan mendaftar untuk wajib militer. Pihak militer AS kemudian akibatnya menolak mereka karena didiagnosis menderita sifilis & merekapun diperintahkan untuk mendapatkan pengobatan. Akan tetapi para peneliti PHS menghalang-halangi supaya orang-orang itu untuk diobati, tentu demi melancarkan eksperimen mereka.
Penelitian Tuskegee barulah dihentikan pada 1972, namun bukan karena pemerintah yg didominasi kulit putih tiba-tiba memiliki hati nurani, namun karena terjadi kebocoran hingga pers mencium skandal tersebut. Namun terkuaknya aib memalukan ini dapat dibilang terlambat, sebab eksperimen ini sudah menyebabkan kematian 128 pesertanya, tentu saja karena penyakit sifilis mereka tidak ditangani. Tak cuma itu, sekitar 40 istri dari para subjek penelitian juga tertular penyakit tersebut (padahal penyakit ini mudah dihindari dengan cara penggunaan kondom, yg lagi-lagi tidak diinformasikan pada mereka) & menyebabkan 19 anak mereka lahir dengan sifilis.
Salah satu korban dalam studi Sifilis
SUMBER
kejam banget ya gan.
Semoga saja di jaman modern ini sudah tidak ada hal serupa ini
Oke gan, cukup sekian kisah yg dapat ane bagi
Apabila agan & sista merasa trit ini bermanfaat dapat siram ane dengan cendol
Sebarin juga ke temen agan & sista
Subscribe & like
Bye - Bye
Kemarin 22:31
Halo agan sista yg tamvan & cantik
Dah lama nih ane pensi sekarang waktunya ane comeback. Siapa nih yg nungguin ane comeback? Hehe
oke deh, gausah panjang lebar lagi langsung masuk materi aja
Sebelumnya, agan-sista disini pasti dah gak asing kan dengan gerakan "Black Lives Matters" di Amerika sana?
Gerakan ini merupakan bentuk protes dari warga kulit hitam yg sering mendapatkan diskriminasi & juga sikap semena-mena dari warga kulit putih.
Nah, berikut merupakan salah satu bukti kebiadapan warga kulit putih kepada warga kulit hitam
Pada tahun 1932 dicetuskan eksperimen Tuskegee oleh The Public Health Service (PHS) yg bekerja sama dengan Salah Satu Universitas tinggi di Alabama, Amerika Serikat. Dalam studi tersebut, terdapat 600 petani keturunan kulit hitam dari golongan ekonomi rendah yg berasal dari Macon County, Alabama.Sekitar 399 di antaranya menderita sifilis ( penyakit mematikan yg dapat menyebabkan kebutaan, tuli, penyakit jiwa, penyakit jantung, kerusakan tulang, kerusakan sistem saraf pusat, hingga kematian) & 201 pria lainnya yg tak menderita penyakit ini dijadikan kontrol. Sebagai insentif bagi mereka yg rela berpartisipasi dalam penelitian ini, dijanjikan mendapatkan perawatan medis gratis.
Hal ini terdengar sangat menggiurkan , Sebab di Amrik sana (hingga kinipun) nggak ada layanin kesehatan murah (bahkan gratis) seperti BPJS & JKN-KIS.
Nah, apakah mereka benar-benar mendapatkan program layanin kesehatan "gratis" ini?
Tentu saja tidak
Para korban yg diiming-imingi perawatan kesehatan itu sesungguhnya tengah ditipu oleh PHS. Mereka sebenarnya tak pernah berusaha mengobati penyakit sifilis mereka. Obat-obatan yg mereka berikan pun cuma plasebo (obat palsu) yg disamarkan, serta proses pengobatan yg mereka lalui hanyalah prosedur diagnostik semata (tapi tentu, karena mereka bukan dokter atau petugas kesehatan, mereka sama sekali tidak paham). Tujuan percobaan tersebut, bagi pemerintah Amerika, bukanlah untuk mengobati mereka, melainkan untuk melihat seperti apa gejala & akibat siflis berkepanjangan pada tubuh manusia.
Celakanya, prosedur yg sama sekali tidak manusiawi ini berlangsung hingga 40 tahun. Dengan mengatakan lain, selama 40 tahun, para pasien tersebut dibiarkan hidup menderita karena penyakit mereka. Bahkan, pihak pemerintah tak harap mereka sembuh, sebab akan menghalangi tujuan awal penelitian mereka.
Padahal kala itu, dunia kedokteran Barat sudahlah sedemikian canggih.Para dokter yg bekerja untuk riset medis tersebut tahu benar bahwa sifilis sesungguhnya dapat diobati dengan mudah mengpakai antibiotik.
Para pasien yg jadi subjek penelitian juga kebanyakan tak tahu bahwa mereka menderita sifilis karena rendahnya pendidikan mereka.Sebaliknya, para korban ini diberitahu bahwa mereka sedang dirawat karena anemia & menderita penyakit darah kotor.
Yang lebih parah lagi, sifilis merupakan penyakit seksual menular sehingga para korban tak tahu bahwa penyakit mereka dapat menulari istri mereka. Bahkan, kalau tak ditangani, penyakit tersebut dapat menular ke janin yg dikandung ibu yg mengidap sifilis & menyebabkan bayi lahir cacat & mengalami deformasi ( kondisi tubuh berkembang tidak normal contohnya kaki bengkok) .
Yang lebih menciptakan geram lagi, eksperimen ini sesungguhnya hampir saja terbongkar pada 1940-an. Selama Perang Dunia II, 256 dari subjek penelitian yg terinfeksi diwajibkan mendaftar untuk wajib militer. Pihak militer AS kemudian akibatnya menolak mereka karena didiagnosis menderita sifilis & merekapun diperintahkan untuk mendapatkan pengobatan. Akan tetapi para peneliti PHS menghalang-halangi supaya orang-orang itu untuk diobati, tentu demi melancarkan eksperimen mereka.
Penelitian Tuskegee barulah dihentikan pada 1972, namun bukan karena pemerintah yg didominasi kulit putih tiba-tiba memiliki hati nurani, namun karena terjadi kebocoran hingga pers mencium skandal tersebut. Namun terkuaknya aib memalukan ini dapat dibilang terlambat, sebab eksperimen ini sudah menyebabkan kematian 128 pesertanya, tentu saja karena penyakit sifilis mereka tidak ditangani. Tak cuma itu, sekitar 40 istri dari para subjek penelitian juga tertular penyakit tersebut (padahal penyakit ini mudah dihindari dengan cara penggunaan kondom, yg lagi-lagi tidak diinformasikan pada mereka) & menyebabkan 19 anak mereka lahir dengan sifilis.
Salah satu korban dalam studi Sifilis
SUMBER
kejam banget ya gan.
Semoga saja di jaman modern ini sudah tidak ada hal serupa ini
Oke gan, cukup sekian kisah yg dapat ane bagi
Apabila agan & sista merasa trit ini bermanfaat dapat siram ane dengan cendol
Sebarin juga ke temen agan & sista
Subscribe & like
Bye - Bye