Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
.
Suatu hari saat melewati sebuah jalan di Kota Malang, mata saya terpaku pada tulisan di sebuah depot. Di menu yg terlihat dari jalanan tertulis kompiang. Sebenarnya kompiang itu makanan seperti apa ya? Karena penasaran, mampirlah saya di depot Semeru yg terletak di Jalan Semeru 46.
Setelah bertanya kepada mbak penunggu depot, diberikanlah sebuah roti bulat dengan taburan wijen di atasnya. Yang mengejutkan, roti ini keras tidak seperti roti pada umumnya. Seperti mengerti keheranan saya, bu Agustine pemilik depot menghampiri saya & menerangkan roti ini.
Dokpri
Menurut penuturannya kompiang ini adalah roti yg terbuat dari tepung terigu, garam, gula & ragi yg diuleni lalu dibentuk bulat. Setelah mengembang bagian atasnya diolesi putih telur & ditaburi biji wijen lalu dipanggang 30 menit di oven.
Roti ini enak disajikan dengan teh hangat ataupun kopi. Dalam sehari, bu Agustine dapat menciptakan sebanyak 30 buah roti kompiang. Roti ini sebenarnya tahan lama tetapi demi menjaga kualitasnya, sang pemilik depot tidak akan menjual roti sisa kemarin & akan menciptakan roti baru setiap hari.
Sejarah kompiang ini menarik untuk diceritakan. Makanan ini dicetuskan oleh Qi Jiguang , seorang panglima perang di Fujian pada tahun 1562. Saat bertempur dengan perompak Jepang, pihaknya sering dapat dideteksi keberadaaanya oleh musuh dari aroma masakan yg disediakan untuk pasukannya.
Sedangkan pihak lawan membawa bekal nasi kepal (onigiri) sehingga dapat lebih mudah menyerang pihak Cina & juga sulit dideteksi keberadaannya karena tidak ada aktivitas memasak.
Akhirnya Qi Jiguang menyusun strategi dengan menciptakan makanan yg setipe dengan onigiri. Tekstur makanan itu sengaja dibuat keras sehingga tidak mudah hancur & tahan lama. Selain itu , bagian tengahnya diberi lubang untuk menyelipkan tali & dapat dibawa dengan mudah di leher.
Berkat ide itulah akhirnya perompak jepang dapat dikalahkan. Untuk mengenang kemenangan itu, maka makanan ini disebut sebagai Guang Bing atau Guang Biang yg akhirnya jadi Kompiang atau Kompia di negara kita.
Awalnya Kompiang menyebar di Indonesia dari para saudagar Cina yg datang untuk berdagang. Karena keawetannya, makanan ini pun diketahui di berbagai kota & daerah, seperti Semarang, surabaya, Malang, Solo, Kupang dll. Uniknya makanan ini jadi makanan khas di Nusa Tenggara Timur. Dari beberapa artikel yg saya temui disebutkan bahwa tak lengkap rasanya kalau bertandang di NTT bila tak mencoba kompiang .
Namun ada sedikit disparitas cara penyajiannya. Di NTT, Kompiang digoreng setelah dipanggang, pun teksturnya dirasa lebih lembut . Namun begitu tetap awet & tahan lama.
Hari ini 20:48
Suatu hari saat melewati sebuah jalan di Kota Malang, mata saya terpaku pada tulisan di sebuah depot. Di menu yg terlihat dari jalanan tertulis kompiang. Sebenarnya kompiang itu makanan seperti apa ya? Karena penasaran, mampirlah saya di depot Semeru yg terletak di Jalan Semeru 46.
Setelah bertanya kepada mbak penunggu depot, diberikanlah sebuah roti bulat dengan taburan wijen di atasnya. Yang mengejutkan, roti ini keras tidak seperti roti pada umumnya. Seperti mengerti keheranan saya, bu Agustine pemilik depot menghampiri saya & menerangkan roti ini.
Dokpri
Menurut penuturannya kompiang ini adalah roti yg terbuat dari tepung terigu, garam, gula & ragi yg diuleni lalu dibentuk bulat. Setelah mengembang bagian atasnya diolesi putih telur & ditaburi biji wijen lalu dipanggang 30 menit di oven.
Roti ini enak disajikan dengan teh hangat ataupun kopi. Dalam sehari, bu Agustine dapat menciptakan sebanyak 30 buah roti kompiang. Roti ini sebenarnya tahan lama tetapi demi menjaga kualitasnya, sang pemilik depot tidak akan menjual roti sisa kemarin & akan menciptakan roti baru setiap hari.
Sejarah kompiang ini menarik untuk diceritakan. Makanan ini dicetuskan oleh Qi Jiguang , seorang panglima perang di Fujian pada tahun 1562. Saat bertempur dengan perompak Jepang, pihaknya sering dapat dideteksi keberadaaanya oleh musuh dari aroma masakan yg disediakan untuk pasukannya.
Sedangkan pihak lawan membawa bekal nasi kepal (onigiri) sehingga dapat lebih mudah menyerang pihak Cina & juga sulit dideteksi keberadaannya karena tidak ada aktivitas memasak.
Akhirnya Qi Jiguang menyusun strategi dengan menciptakan makanan yg setipe dengan onigiri. Tekstur makanan itu sengaja dibuat keras sehingga tidak mudah hancur & tahan lama. Selain itu , bagian tengahnya diberi lubang untuk menyelipkan tali & dapat dibawa dengan mudah di leher.
Berkat ide itulah akhirnya perompak jepang dapat dikalahkan. Untuk mengenang kemenangan itu, maka makanan ini disebut sebagai Guang Bing atau Guang Biang yg akhirnya jadi Kompiang atau Kompia di negara kita.
Awalnya Kompiang menyebar di Indonesia dari para saudagar Cina yg datang untuk berdagang. Karena keawetannya, makanan ini pun diketahui di berbagai kota & daerah, seperti Semarang, surabaya, Malang, Solo, Kupang dll. Uniknya makanan ini jadi makanan khas di Nusa Tenggara Timur. Dari beberapa artikel yg saya temui disebutkan bahwa tak lengkap rasanya kalau bertandang di NTT bila tak mencoba kompiang .
Namun ada sedikit disparitas cara penyajiannya. Di NTT, Kompiang digoreng setelah dipanggang, pun teksturnya dirasa lebih lembut . Namun begitu tetap awet & tahan lama.
Hari ini 20:48