• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Komnas Perempuan Peringati Hari Jadi Ke-21

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Komnas Perempuan Peringati Hari Jadi Ke-21


(foto: dok. Komnas Perempuan)


Memperingati 21 tahun kelahiran Komnas Perempuan, acara Bincang Lintas Generasi Gerakan Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan digelar di Perpustakaan Habibie Ainun di Patra Kuningan, Jakarta Selatan.

Acara yg diadakan pada 24 Oktober 2019 lalu ini dihadiri oleh para wanita pembela HAM yg sudah jadi bagian dari 21 tahun perjalanan Komnas Perempuan, kaum muda dari sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), & gerakan wanita yg saat ini memimpin kerja penegakan HAM & demokrasi di komunitasnya masing-masing.

Hadir sebagai pembicara adalah dua orang seniman wanita, yaituDewi CandraningrumdanDolorosa Sinaga. Dewi Kanti, penyintas diskriminasi masyarakat adat & penghayat sunda wiwitan, danSamsidar, aktivis HAM juga hadir sebagai pembicara.

Menurut Dewi Kanti, negara belum dapat melayani kebutuhan masyarakat adat, khususnya dalam hal administrasi negara. Hal ini berdampak pada legalitas pengakuan negara kepada eksistensi masyarakat hukum adat, termasuk di dalamnya wanita adat. Namun, Komnas Perempuan sudah jadi pendamping, motivator, & mengawal perjuangan hak wanita adat secara konstitusional.

Komnas Perempuan sudah berperan menguatkan kapasitas perempuan adat untuk mengenali hak nya sebagai warga negara & melanjutakan advokasi perjuangan dengan cara yg konstitusional. Disinilah peran Komnas Perempuan sebagai lembaga independen itu memberi penguatan kepada perempuan adat sesuai dgn amanat kelembagaannya, ujar Dewi Kanti.

Komnas Perempuan Peringati Hari Jadi Ke-21


(foto: dok. Komnas Perempuan)


Sementara itu, Dewi Candraningrum mengaku seringkali merasa pesimis kepada masa depan kemanusiaan, namun ia berusaha menepisnya. Hal ini dilakukan Dewi dengan cara menciptakan karya lukisan dengan warna-warna berani.

Dewi kerap mengangkat isu-isu wanita dalam lukisannya. Beberapa di antara karyanya adalah lukisan paras wanita-wanita korban kekerasan seksual di masa pendudukan Jepang, pasca peristiwa 1965, & tragedi 1998. Ia mengpakai warna cerah, kontradiktif, & berani sebagai simbol asa & pemulihan trauma.

Benang merahnya itu ada di kekerasan kepada perempuan. Jadi fitnah kepada tubuh & seksualitas perempuan sering ada. Warna yg saya pakai dalam lukisan saya sebut sebagai asa karena saya terus terang sangat pesimis kepada kemanusiaan. Karena itu saya putuskan memakai warna yg menusuk mata & harus indah," jelas Dewi Candraningrum.

Para pembicara ini juga menuangkan asa bagi wanita-wanita generasi muda. Dolorosa harap wanita penerus bangsa jadi sumber informasi yg membuka mata sesama pemuda untuk peduli pada ragam persoalan, khususnya berkaitan dengan kondisi wanita saat ini.

Jangan jadi manusia pasif yg cuma mencari sumber informasi pada teknologi, tetapi anda sendiri sebagai perempuan harusnya menciptakan informasi untuk mengisi teknologi komunikasi yg canggih," ujar Dolorosa.

Wanita berusia 65 tahun ini juga berpesan supaya wanita muda dapat berteman dengan orang-orang dari berbagai lintas generasi & meneruskan perjuangan supaya masyarakat tak lagi melihat wanita sebagai objek, namun sebagai nilai yg setara & punya kontribusi yg sama dalam membangun bangsa.

Sedangkan Samsidar punya asa supaya generasi muda dapat melanjutkan perjuangan bagi para korban pelanggaran HAM yg belum tertangani dengan baik.

Generasi muda harus mengupayakan ada gerakan sosial untuk terus menggugat, mengubah paradigma, cara pikir negara & orang-orang bahwa kekerasan pada perempuan itu bukan ekses. Namun kekerasan pada perempuan itu sesuatu yg terjadi karena memang ada yg keliru dalam pola pikir, budaya, nilai, & undang-undang," ujar Samsidar.(f)

https://www.femina.co.id/trending-to...ari-jadi-ke-21 Kemarin 21:38
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.