• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Klorofil si "Emas" Hijau : Klorofil Mengobati Kanker

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. yophi
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

yophi

IndoForum Beginner E
No. Urut
45381
Sejak
5 Jun 2008
Pesan
512
Nilai reaksi
15
Poin
18
Klorofil Mengobati Kanker

Peneliti Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, yang merupakan ahli klorofil, menemukan potensi zat hijau daun untuk terapi kanker. Mendapatkan ITSF Award 2005.

JAKARTA - Sudah 15 tahun ini Dr Leenawaty Limantara, MSc, memfokuskan riset mendasar dan terapannya pada bidang yang belum banyak diminati peneliti di Indonesia, klorofil. Bagi dosen Program Magister Biologi Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, ini, klorofil layaknya bintang film yang memiliki daya pikat luar biasa. Setiap informasi baru terkait dengan klorofil menjadi penyemangat baginya untuk menguak misteri di dalamnya.

Karena intensifnya bergelut dengan klorofil, jadilah Leenawaty sebagai salah satu pakar klorofil dunia. Ia adalah murid pakar klorofil terapan dari Jerman, Hugo Scheer. Tak aneh kalau dari tangan Shinta--begitu Leenawaty kerap disapa--muncul hasil riset berkelas internasional, bahkan dua penemuannya merupakan yang pertama di dunia.

Pantas pula jika Komisi Seleksi Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) memilih proposalnya yang bertema "Chlorophyll the Golden Green: From Basic to Its Application" sebagai peraih ITSF Science and Technology Award 2005. Kemarin, ia menerima penghargaan itu--yang berbentuk danang penelitian sebesar Rp 60 juta.

Shinta mengaku jatuh hati pada klorofil sejak menempuh pendidikan strata satu biologi di Fakultas Biologi UKSW pada 1985. "Awalnya saya tidak paham melihat formula reaksi fotosintesis. Tapi setelah dipikir, peran klorofil di situ sangatlah besar," kata saudari kembar Inawaty Limantara ini.
"Klorofil di alam tersedia dalam jumlah melimpah. Tuhan menciptakan seperti itu tentu ada tujuannya," kata Shinta. "Seperti juga air yang melimpah. Tapi baru akhir-akhir ini saja gencar riset menguak potensi air sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Saking melimpahnya sehingga diabaikan orang."
Berlatar pemikiran itulah, Shinta ingin menguak potensi klorofil sebagai photosensitizer--obat pemicu yang aktif oleh rangsangan cahaya--untuk terapi tumor dan kanker.

Obat seperti itu bukan barang baru, karena telah diterapkan dalam terapi fotodinamika (photodynamic therapy) sejak 1997. Di Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat, teknik ini sudah dipakai untuk menangani kanker, seperti kanker otak, paru-paru, dan mulut.

Terapi fotodinamika menjadi alternatif yang lebih aman ketimbang terapi gelombang radio dan kemoterapi--yang kerap disertai efek samping, seperti kerontokan rambut dan rusaknya kulit. "Tak seperti kemoterapi yang butuh selang waktu antarpemberian, terapi fotodinamika dapat dilakukan lebih sering dalam kurun waktu tertentu," kata Shinta.

Klorofil yang dipilih Shinta dalam risetnya adalah yang terdapat secara alamiah di tubuh bakteri fotosintesis, diistilahkan sebagai bakterioklorofil. Ia menggunakan Rhodobacter sphaeroides. Alasannya, "Bakteri ini paling mudah." Lagi pula, untuk kerja di skala industri, akan lebih mudah memelihara bakteri ketimbang tanaman. Efek lingkungan di tanaman juga lebih berpengaruh," katanya.

Yang menambah mudah lagi adalah penemuan bakteri Rhodobacter sp. yang bermutasi sehingga hanya memiliki klorofil tanpa karotenoid (carotenoid). Bakteri mutan itu dinamai R26 dan R26.1.

Selain itu, bakterioklorofil mempunyai serapan maksimum yang cocok pada jendela terapi fotodinamika, yakni pada 750 nanometer atau inframerah (rata serapan klorofil 600-650 nanometer). Spektrum inframerah memiliki energi yang rendah tapi panjang gelombang yang panjang sehingga mudah menembus sel.

"Ternyata klorofil ini berkumpul hanya di sel kanker sehingga bisa menjadi penanda tumor. Untuk mendeteksinya juga mudah, pasien yang telah diberi obat lalu dipindai. Bagian yang terdapat klorofilnya akan berpendar terang," kata putri bungsu enam bersaudara bapak Indra Gunawan Limantara ini.
Klorofil sebagai sensitizer, menurut Shinta, bukanlah obat kanker, melainkan sebagai pemicu spesies oksigen menjadi singlet oksigen yang sangat reaktif yang akan membunuh sel kanker.

Untuk mengetahui mekanisme dan pola degradasi obat itu, misalnya apakah klorofil yang terdegradasi di dalam tubuh manusia menimbulkan efek samping, Shinta harus mengetahui berbagai tipe interaksi molekul serta struktur molekul dan elektronik bakterioklorofil dan produk turunannya. Di sinilah perlunya penelitian di tingkat in vitro.

Shinta mengetahui, tahapan elektronik bakterioklorofil yang penting adalah tahapan dasar, radikal kation, dan tahapan tereksitasi. Selama ini penelitian di dunia selalu mentok pada tahapan tereksitasi. Soalnya, pada tahap ini masa hidup molekul sangat singkat, yakni pada tataran pikodetik (10-9 detik) sehingga sangat sulit mengukur molekulnya yang sangat labil meskipun dapat dihasilkan gambarnya.

Namun, Shinta justru menemukan terobosan baru dan yang pertama dalam penelitiannya itu. Ia dapat membandingkan molekul-molekul dengan cara memberi label sehingga dapat mengetahui tingkah laku molekul pada tahapan tereksitasi.

Di tingkat in vivo, ia menemukan dua terobosan tingkat dunia, yakni mengisolasi antena penangkap cahaya (light harvest complex) yang labil dari bakteri R26 dan R26.1. Penemuan itu dilaporkannya ke jurnal biokimia paling terpandang di dunia, Biochemistry, pada 1998.

Terobosan kedua adalah penemuan bahwa dalam proses penangkapan cahaya itu terjadi pembentukan radikal kation di sistem antena penangkap cahaya. Ia juga menemukan fungsi foto proteksi dari karotenoid di antena penangkap cahaya.
 
begitu besar manfaatnya... tapi sampai sekarang belum ada yang bisa membuat tiruan cara kerja clorofil... nice info.
 
krorofil sebenarnya produk turunan pertama . diatasnya klorofil ada sprulina..diatasnya spirulina ada Crorela...
 
Temukan Obat Kanker, Leenawaty Limantara Dapat Penghargaan

Temukan Obat Kanker, Leenawaty Limantara Dapat Penghargaan.

JAKARTA - Yayasan Indonesia Toray Science Fondation (ITSF) memberikan penghargaan kepada Leenawaty Limantara, peneliti dari Universitas Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah. Penghargaan tersebut diberikan, setelah Leenawaty berhasil menemukan kandungan klorofil yang dapat digunakan untuk penyembuh penyakit kanker.

Penyerahan penghargaan bagi Leenawaty yang menerima penghargaan bidang ilmu dan teknologi untuk tahun 2005 tersebut dilaksanakan di Jakarta, Kamis (2/2). Leenawaty mendapatkan uang sebesar Rp 60 juta setelah menyisihkan 20 peneliti calon penerima penghargaan itu.

Ketua Pelaksana Penghargaan ITSF, Sofjan Tsauri APU, menjelaskan berdasarkan hasil penilaian komite seleksi, Leenawaty Limantara berhasil meraih penghargaan, karena telah menghasilkan penelitian yang berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penghargaan ini setiap tahunnya diadakan oleh Yayasan ITSF dan kali ini sudah memasuki tahun yang ke-12.

Leenawati dalam penelitiannya melihat kandungan klorofil dalam alga dan bakteri yang telah diproses melalui beberapa tahapan. Dari proses ini kemudian dihasilkan zat yang dapat digunakan untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit kanker, antara lain kanker saluran pencernaan, otak, mata, dan kulit.

Hasil penelitian yang berjudul Klorofil Si Emas Hijau ternyata sudah digunakan di sejumlah negara asing untuk terapi fotodinamika maupun fotosintiser. Menurut Leenawaty pemakaian klorofil untuk mengobati kanker tidak menimbulkan efek negatif bagi penderita, bahkan produk klorofil dari degradasi pun masih berpotensi dimanfaatkan untuk keperluan bidang kesehatan lainnya.

Selain pemberian penghargaan kepada Leenawaty, ITSF juga menyerahkan hibah penelitian iptek kepada 18 peneliti muda Indonesia berprestasi. "Kami ingin mendorong para peneliti muda, karena peneliti muda dapat mengembangkan kriteria lingkup penelitian yang mengandung tema-tema penuh harapan untuk pengembangan Iptek masa depan," ujar Sofjan.
Mereka yang mendapat hibah adalah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebanyak tiga orang, Institut Teknologi Bandung (ITB) dua orang, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dua orang, Universitas Padjadjaran (Unpad) dua orang, Lembaga Eijkman, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Universitas Jember, BPPT, dan lainnya.

Selain kepada peneliti, juga diberikan penghargaan pendidikan ilmu pengetahuan alam (IPA) kepada 12 guru SMA ilmu-ilmu biologi, dan fisika yang menghasilkan suatu metode pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan mempunyai pengaruh bagi pembelajaran IPA di SMA. Mereka berasal dari Larantuka, Bali, Kalimantan Timur, Lampung, Madiun, Aceh, Jakarta, dan Salatiga. (K-11)
 
^
ada yg jualan =))


btw, klorofil tuh yg zat ada di hijau daun kan ??
 
:)1 sdm chlorophyll = 1 kg sayuran segar:)

Buat yg butuh Chlorophyll produk Synergy bisa lihat di

***Edited By Moderator***

Catatan Moderator : Link yang sifatnya promosi ke web pribadi akan di delete
 
ada yang tahu prosesnya bagimana sesendok makan chlorophyl bisa setara dengan se kg sayuran ?
kalau memang benar, keuntungan besar bagi mereka yang ga suka konsumsi sayuran.
jangan-jangan hanya sumba hijau saja :-S
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.