yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
BANDUNG - Terduga teroris MK yang ditangkap Densus 88 Antiteror di Bandung, kemarin, dikenal menguasai teknologi informasi. Bahkan, pada 2009, karyanya menjadi salah satu nominator Indonesia ICT Award (INAICTA) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).
"Pada 2009 saya pernah ketemu dengan alumni tersebut (MK). Aplikasinya masuk nominasi INAICTA Kominfo," tutur Ketua Prodi TI Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Bandung, Mira Kania Sabariah, di Kampus Unikom, Jalan Dipatiukur, Bandung, Jumat (31/8/2012).
Mira menambahkan, saat itu, MK membuat perangkat lunak tentang pengelolaan dokumen proyek untuk memudahkan perusahaan. Namun, karyanya tidak lolos memenangkan INAICTA 2009. Terlepas dari dugaan keterlibatan MK dalam aksi terorisme, Mira saat itu mengaku bangga karena ada alumni Unikom yang tembus di ajang bergengsi bidang information communication technology (ICT) itu.
Mira termasuk dosen yang paling ingat dengan pria yang diduga sebagai penyandangan danang terorisme di Medan, Sumatera Utara, itu.
Ajang INAICTA 2009 itulah yang membuat mengingatkan Mira akan MK.
MK mengenal MK sebagai sosok yang humoris, supel, dan ahli di bidang ICT. Tidak ada kecurigaan MK terlibat degan aktivitas terorisme, terlebih saat itu dia tidak berjenggot. Selama kuliah juga tidak tampak hal negatif. "Positif semua, makanya saat melihat berita itu saya kaget," ujarnya.
Mira mendapat kabar MK keluar dari perusahaan yang menggunakan software yang dilombakan di INAICTA. "Setelah itu, entah bergabung dengan siapa lagi. Kami kan enggak tahu lingkungannya seperti apa. Yang saya tahu, tracknya selama ini positif. Kalau seandainya terlibat, dia tetap dalam posisi orang ICT," ungkapnya.
"Pada 2009 saya pernah ketemu dengan alumni tersebut (MK). Aplikasinya masuk nominasi INAICTA Kominfo," tutur Ketua Prodi TI Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Bandung, Mira Kania Sabariah, di Kampus Unikom, Jalan Dipatiukur, Bandung, Jumat (31/8/2012).
Mira menambahkan, saat itu, MK membuat perangkat lunak tentang pengelolaan dokumen proyek untuk memudahkan perusahaan. Namun, karyanya tidak lolos memenangkan INAICTA 2009. Terlepas dari dugaan keterlibatan MK dalam aksi terorisme, Mira saat itu mengaku bangga karena ada alumni Unikom yang tembus di ajang bergengsi bidang information communication technology (ICT) itu.
Mira termasuk dosen yang paling ingat dengan pria yang diduga sebagai penyandangan danang terorisme di Medan, Sumatera Utara, itu.
Ajang INAICTA 2009 itulah yang membuat mengingatkan Mira akan MK.
MK mengenal MK sebagai sosok yang humoris, supel, dan ahli di bidang ICT. Tidak ada kecurigaan MK terlibat degan aktivitas terorisme, terlebih saat itu dia tidak berjenggot. Selama kuliah juga tidak tampak hal negatif. "Positif semua, makanya saat melihat berita itu saya kaget," ujarnya.
Mira mendapat kabar MK keluar dari perusahaan yang menggunakan software yang dilombakan di INAICTA. "Setelah itu, entah bergabung dengan siapa lagi. Kami kan enggak tahu lingkungannya seperti apa. Yang saya tahu, tracknya selama ini positif. Kalau seandainya terlibat, dia tetap dalam posisi orang ICT," ungkapnya.