Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kisah ini diceritakan oleh mereka yg jadi saksi dari peristiwa ini. Sebuah kisah tentang kemanusiaan, kasih sayang, sayang, ketulusan & kepedulian.
Apa pun agama Anda, latar belakang serta suku & asal Anda, kisah ini dapat jadi bukti bahwa kasih sayang & kepedulian antar manusia masih terjaga.
Inilah kisah yg terkenal itu.
Sepasang wisatawan asyik menikmati kopi di sebuah kafe terkenal di Venesia, Italia.
Mereka terlibat dialog seru seputar keindahan kota serta pengalaman mereka.
Tak lama kemudian, datanglah seorang pria paruh baya, duduk di salah satu meja kosong. Ia memanggil pramusaji & memesan : Kopi 2 cangkir. Yang 1 untuk di dinding.
Suara sang pria cukup lantang. Sepasang pelancong tadi juga mendengar kalimat dari pria itu.
Sang wisatawan merasa heran mendengar kalimat tersebut. Apalagi sang pria kemudian cuma disuguhi 1 cangkir kopi, namun ia membayar untuk 2 cangkir. Lalu ke mana kopi yg satunya?
Segera setelah pria tersebut pergi, pramusaji itu menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan "Segelas Kopi" di dinding kafe.
Suasana kafe kembali hening. Tak lama kemudian masuklah dua orang pria. Kedua pria tersebut pesan 3 cangkir kopi. Dua cangkir di meja, satu lagi untuk di dinding. Mereka pun membayar tiga cangkir kopi sebelum pergi.
Lagi-lagi setelah itu pramusaji mengerjakan hal yg sama, menempelkan kertas bertulis "Segelas Kopi" di dinding.
Pemandangan aneh di kafe sore itu menciptakan pasangan wisatawan itu heran. Mereka meninggalkan kafe dengan menyimpan pertanyaan atas kejadian ganjil yg disaksikannya, namun ia tidak sempat mengajukan pertanyaan, apa yg dimaksud dengan kopi di dinding tadi.
Minggu berikutnya, mereka mampir kembali di kafe yg sama. Mereka melihat, seseorang lelaki tua masuk ke dalam kafe. Pakaiannya kumal & kotor. Setelah duduk ia melihat ke dinding & berkata kepada pelayan : Satu cangkir kopi dari dinding."
Pramusaji segera menyuguhkan segelas kopi.
Setelah menghabiskan kopinya, lelaki lusuh tadi lantas pergi tanpa membayar. Tampak pramusaji menarik satu lembar kertas dari dinding tersebut, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Kini pertanyaan pasangan wisatawan itu terjawab sudah.
Begini rupanya cara penduduk kota ini menolong sesamanya yg kurang beruntung, dengan tetap menaruh respek kepada orang yg ditolongnya. Kaum papa dapat menikmati secangkir kopi tanpa perlu merendahkan harga diri untuk mengemis secangkir kopi. Bahkan mereka pun tidak perlu tahu siapa yg mentraktirnya.
Suatu tatanan hidup bermasyarakat yg amat menyentuh & mengharukan.
Seorang guru akbar yg meyakini, bahwa kita tidak dapat hidup lebih baik, tanpa memberi & menerima sayang, perhatian, & bantuan dari orang lain.
Terlalu sering kita meremehkan kekuatan sebuah sentuhan, sekilas senyuman, sebuah kata, mendengar keluhan orang lain, pujian tulus atau tindakan kecil menolong orang lain, yg semua itu punya kekuatan untuk mengubah kehidupan, katanya.
Secangkir kopi di dinding adalah wujud sayang yg ikhlas kepada kaum miskin, tanpa menyikapi kaum miskin dengan cara sombong : "Aku memberi kepadamu".
Tidak penting seberapa banyak kita sudah memberi.
Yang lebih penting adalah bagaimana cara kita memberi
Apakah Anda bersedia memberi sesuatu pada orang yg tidak Anda kenal?
Bersediakah Anda menolong seseorang yg sudah pasti tidak dapat menolong Anda?
Bagikan kisah ini kepada semua orang. Berikan juga tanggapan Anda di kolom komentar. Catatan Adi akan bahagia membacanya.
Pemikiran Sendiri
Sumber:Google Gambar
Hari ini 16:35
Apa pun agama Anda, latar belakang serta suku & asal Anda, kisah ini dapat jadi bukti bahwa kasih sayang & kepedulian antar manusia masih terjaga.
Inilah kisah yg terkenal itu.
Sepasang wisatawan asyik menikmati kopi di sebuah kafe terkenal di Venesia, Italia.
Mereka terlibat dialog seru seputar keindahan kota serta pengalaman mereka.
Tak lama kemudian, datanglah seorang pria paruh baya, duduk di salah satu meja kosong. Ia memanggil pramusaji & memesan : Kopi 2 cangkir. Yang 1 untuk di dinding.
Suara sang pria cukup lantang. Sepasang pelancong tadi juga mendengar kalimat dari pria itu.
Sang wisatawan merasa heran mendengar kalimat tersebut. Apalagi sang pria kemudian cuma disuguhi 1 cangkir kopi, namun ia membayar untuk 2 cangkir. Lalu ke mana kopi yg satunya?
Segera setelah pria tersebut pergi, pramusaji itu menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan "Segelas Kopi" di dinding kafe.
Suasana kafe kembali hening. Tak lama kemudian masuklah dua orang pria. Kedua pria tersebut pesan 3 cangkir kopi. Dua cangkir di meja, satu lagi untuk di dinding. Mereka pun membayar tiga cangkir kopi sebelum pergi.
Lagi-lagi setelah itu pramusaji mengerjakan hal yg sama, menempelkan kertas bertulis "Segelas Kopi" di dinding.
Pemandangan aneh di kafe sore itu menciptakan pasangan wisatawan itu heran. Mereka meninggalkan kafe dengan menyimpan pertanyaan atas kejadian ganjil yg disaksikannya, namun ia tidak sempat mengajukan pertanyaan, apa yg dimaksud dengan kopi di dinding tadi.
Minggu berikutnya, mereka mampir kembali di kafe yg sama. Mereka melihat, seseorang lelaki tua masuk ke dalam kafe. Pakaiannya kumal & kotor. Setelah duduk ia melihat ke dinding & berkata kepada pelayan : Satu cangkir kopi dari dinding."
Pramusaji segera menyuguhkan segelas kopi.
Setelah menghabiskan kopinya, lelaki lusuh tadi lantas pergi tanpa membayar. Tampak pramusaji menarik satu lembar kertas dari dinding tersebut, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Kini pertanyaan pasangan wisatawan itu terjawab sudah.
Begini rupanya cara penduduk kota ini menolong sesamanya yg kurang beruntung, dengan tetap menaruh respek kepada orang yg ditolongnya. Kaum papa dapat menikmati secangkir kopi tanpa perlu merendahkan harga diri untuk mengemis secangkir kopi. Bahkan mereka pun tidak perlu tahu siapa yg mentraktirnya.
Suatu tatanan hidup bermasyarakat yg amat menyentuh & mengharukan.
Seorang guru akbar yg meyakini, bahwa kita tidak dapat hidup lebih baik, tanpa memberi & menerima sayang, perhatian, & bantuan dari orang lain.
Terlalu sering kita meremehkan kekuatan sebuah sentuhan, sekilas senyuman, sebuah kata, mendengar keluhan orang lain, pujian tulus atau tindakan kecil menolong orang lain, yg semua itu punya kekuatan untuk mengubah kehidupan, katanya.
Secangkir kopi di dinding adalah wujud sayang yg ikhlas kepada kaum miskin, tanpa menyikapi kaum miskin dengan cara sombong : "Aku memberi kepadamu".
Tidak penting seberapa banyak kita sudah memberi.
Yang lebih penting adalah bagaimana cara kita memberi
Apakah Anda bersedia memberi sesuatu pada orang yg tidak Anda kenal?
Bersediakah Anda menolong seseorang yg sudah pasti tidak dapat menolong Anda?
Bagikan kisah ini kepada semua orang. Berikan juga tanggapan Anda di kolom komentar. Catatan Adi akan bahagia membacanya.
Pemikiran Sendiri
Sumber:Google Gambar
Hari ini 16:35