yonie
IndoForum Beginner E
- No. Urut
- 95969
- Sejak
- 24 Apr 2010
- Pesan
- 450
- Nilai reaksi
- 22
- Poin
- 18
maaf sebelumnya karena agak panjang.. tapi, menurut saya, ini patut dibaca..
sudah salahkah kita memilih orang2 terhormat yang duduk di kursi pemerintahan itu...??
source
Rombongan DPR "Telantarkan" TKW di Dubai
Jumat, 19 November 2010 | 08:19 WIB
*KOMPAS.com *— Cerita pilu Sumiati, tenaga kerja wanita yang disiksa
majikannya di Arab Saudi, menghias halaman pemberitaan media beberapa
hari ini. Sikap abai ternyata bukan hanya milik para majikan yang kejam
di negeri orang. Para wakil rakyat, yang menjadi anggota parlemen karena
dipilih oleh rakyat, pun menunjukkan sikap abai saat rakyat yang
memilihnya tengah kelimpungan di negeri seberang.
Rombongan Anggota DPR yang tengah melakukan kunjungan kerja ke Moskwa,
Rusia, dilaporkan ”menelantarkan” seratusan lebih tenaga kerja wanita
(TKW) Indonesia yang tengah kebingungan di Dubai. Di antara para TKW itu
ada yang kedua tangannya melepuh karena disiram air keras oleh
majikannya di Arab Saudi. Sementara, satu orang TKW lainnya mengalami
pendarahan di perut.
”Mereka egois sekali. Tidak ada satu pun yang peduli dengan nasib rakyat
yang mereka wakili yang tengah kebingungan. Mereka menelantarkan para
TKW di Dubai,” tutur Adiati Kristiarini, seorang warga Indonesia yang
mendampingi para TKW, dalam perbincangan dengan /Kompas.com /beberapa
waktu lalu.
Ia menceritakan, peristiwa itu terjadi pada Sabtu (6/11/2010). Ia
bersama suaminya transit di Bandara Dubai dalam penerbangan New
York-Jakarta. Di Gate 206 Bandara Dubai, mereka menunggu keberangkatan
Pesawat Emirates dengan nomor penerbangan EK 358 tujuan Jakarta yang
dijadwalkan berangkat pukul 10.25 waktu setempat.
Di situ, menunggu pula rombongan TKW yang jumlahnya ia perkirakan
sekitar 150 orang. Adiati mengetahui kemudian, ternyata para TKW itu
tidak saling kenal dan tidak pergi dalam satu koordinasi kelompok
rombongan. Secara kebetulan saja mereka bertemu di bandara. Ada juga
rombongan anggota DPR yang hendak pulang seusai melakukan studi banding
ke Rusia.
*Kebingungan **
*
Sekitar 30 menit menunggu, tutur Adiati, ada pengumuman bahwa
penerbangan ke Jakarta dibatalkan karena lalu lintas udara Indonesia
tidak aman akibat letusan Gunung Merapi. Oleh Emirates, para penumpang
diarahkan menuju hotel. Dari sinilah kepanikan dan kericuhan dimulai.
Para TKW itu bingung. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, sementara
petugas Emirates dirasa kurang informatif.
Menurut Adiati, sebelum tiba di Hotel yang terletak di luar bandara,
mereka harus melewati sejumlah prosedur. Inilah yang membingungkan para
TKW sebab banyak di antara mereka tidak bisa berbahasa Inggris. ”Para
TKW itu adalah orang-orang sederhana dan lugu. Mereka kebingungan. Saya
dan beberapa orang Indonesia lain lalu spontan saja berinisiatif
membantu mereka,” ujar Adiati.
Inisiatif membantu para TKW yang jumlahnya seratusan ini ternyata
dilakukan sporadis oleh sejumlah orang Indonesia yang ada di situ. Agus
Safari, seorang peneliti yang juga transit di Dubai dari Rusia,
menceritakan dalam /e-mail/-nya kepada /Kompas.com/, prosedur dari
bandara menuju hotel memang terasa berbelit.
*Saya heran, kok mereka tidak tergerak ya mengatasi rakyat yang memilih
mereka sedang panik dan bingung. *
-- Riny Konig
Pertama, para penumpang harus antre untuk mendapatkan visa
/sponsorship/. Setelah itu, mereka harus menjalani cek imigrasi. Seusai
urusan imigrasi, mereka harus datang ke satu loket untuk mencap kartu
visa. Kemudian, harus antre lagi untuk /scan/ mata di satu sudut yang
jaraknya cukup jauh dari /counter cap/.
Sejumlah orang Indonesia, tutur Agus, secara spontan pontang-panting
mencoba mengarahkan para TKW yang kebingungan. Suasananya sangat riuh.
Di tengah keriuhan, menurut Agus, rombongan anggota Dewan terlihat duduk
berkelompok di sudut ruang tunggu, sementara kartu visa mereka
dikerjakan oleh agen tur mereka. Agus mengenali mereka sebagai anggota
DPR sebab ia satu pesawat dalam penerbangan dari Rusia. Temannya di
Kedutaan Besar Rusia memberi tahu Agus soal rombongan ini.
*
*Tidak tergerak *
*
”Saya heran, kok mereka tidak tergerak ya mengatasi rakyat yang memilih
mereka sedang panik dan bingung. Mereka hanya tertawa-tawa dan
/ngobrol/, dan saya sempat mendengar celetukan mereka saat saya sedang
mengarahkan para TKW ini, ’ya, kita bermalam di Dubai ini sekalian saja
untuk menghabiskan sisa rubel (mata uang Rusia)’. Masya Allah...,”
cerita Agus.
Di antara orang Indonesia yang spontan membantu para TKW ada juga Riny
Konig. Ia juga transit di Dubai dalam penerbangan dari Swiss. Menurut
Riny, karena kesulitan komunikasi, para TKW ini banyak yang
dibentak-bentak oleh petugas bandara.
”Di sebelah saya ada orang-orang Indonesia dengan paspor biru. Mereka
diam saja melihat para TKW dibentak-bentak. Kok, ya enggak ada hati
orang-orang ini,” tutur Riny saat berbincang dengan /Kompas.com/,
beberapa waktu lalu, dengan nada jengkel.
Adiati, Agus, dan Riny mulanya tidak saling kenal. Mereka dipertemukan
oleh spontanitas menolong para TKW yang kebingungan. Ada sejumlah orang
Indonesia lainnya yang juga spontan membantu secara sporadis. ”Hanya
faktor rasa kebangsaan dan kemanusiaanlah yang membuat kami berbuat,”
kata Agus.
Rombongan penumpang pesawat Emirates dengan nomor penerbangan EK 358
yang batal terbang menuju Jakarta akhirnya tiba di Hotel Holiday Inn,
tidak jauh dari bandara, Sabtu (6/11/2010).
Di sini, para TKW kembali gaduh. Lagi-lagi mereka bingung dengan urusan
pembagian kamar. Riny Konig, Adiati Kristiarini, Agus Safari, dan
sejumlah orang Indonesia kembali turun tangan mengatur mereka yang
kebingungan.
Dalam perbincangan dengan /Kompas.com/, beberapa waktu lalu, Riny Konig
menuturkan, saat mereka tengah sibuk mengoordinasi seratusan TKW,
tiba-tiba seorang perempuan menegurnya.
”Bu, tolong, dong, /dibilangin/ rombongannya jangan ribut, /malu-maluin/
negara /aja/, kan enggak enak ribut begitu,” tegur perempuan itu kepada
Riny.
”Rombongan mana, Bu?” tanya Rini.
”Itu, rombongan TKW,” kata perempuan itu.
”/Lha/, saya bukan TKW, Bu. Saya ini ingin pulang ke Indonesia,
berlibur, kebetulan bertemu dengan mereka. Mereka ribut karena bingung
Bu, banyak yang bertahun-tahun enggak pulang, kasihan. Ibu mau liburan
juga?” tanya Rinny.
”O enggak, saya baru pulang dari Moskow, tugas negara,” kata perempuan
itu yang menurut Rinny hanya tetap berdiri tanpa ikut membantu para TKW
yang gaduh karena bingung. Belakangan, Riny tahu perempuan itu adalah
anggota DPR yang habis melakukan studi banding di Moskwa, Rusia.
Mereka menginap di hotel itu satu malam. Selama satu malam itu pula
Riny, Atik, Agus, dan kawan-kawan Indonesia lainnya mendata satu-satu
kamar para TKW yang jumlahnya sekitar 150 orang. ”Hampir setiap jam kami
berhubungan dengan informasi hotel, apa itu untuk membantu mereka urusan
kamar, urusan telepon, urusan makan, /shuttle bus/ ke Dubai City untuk
menukar uang dan belanja minuman dan /snack /karena di hotel mahal,”
terang Riny.
*Tangan melepuh dan pendarahan **
*
Sementara, Adiati menceritakan, di antara para TKW itu ada seorang TKW
yang kedua tangannya melepuh disiram air keras oleh majikannya di Arab
Saudi. Matanya pun merah karena dicolok oleh majikannya.
”Saya lupa namanya. Dia dari Karawang. Baru satu minggu kerja sudah
mendapat kekerasan dan dipulangkan. Ia tidak punya bekal uang sama
sekali. Cuma bawa tas kecil berisi dua potong pakaian. Ia diam terus,
tidak banyak bicara. Kasihan sekali,” tutur Adiati.
Selain itu, ada pula seorang TKW yang perutnya mengalami pendarahan.
Namanya Ipah. Ia sebenarnya sudah memiliki janji dengan seorang dokter
di Jakarta untuk operasi pengambilan kista di perutnya pada hari Senin
(8/11/2010). Adiati yang mendampingi Ipah selama bermalam di hotel
menceritakan, Ipah terus berbaring selama menunggu kepastian terbang.
”Tidak ada satu pun anggota Dewan yang terhormat itu menaruh perhatian
pada nasib dua TKW ini. Mereka pasti tidak tahu karena memang tidak
pernah mau tahu,” ucap Adiati kesal.
*Di mata orang DPR, TKW itu enggak ada harganya. Ya, memang beginilah
nasib kami, selalu dianggap menyusahkan di negeri sendiri. *
*Bapak, **kan**anggota DPR **
*
Esoknya, Minggu (7/11/2010), ”relawan” Indonesia dan para TKW melakukan
”konsolidasi” di lobi hotel. ”Kami mendata kembali satu per satu
teman-teman TKW. Kami mengingatkan agar masing-masing jangan bergerak
sendiri dan memisahkan diri supaya mudah melakukan koordinasi jika ada
pengumuman kapan pesawat ke Jakarta akan terbang," ungkap Riny.
Ia menuturkan, saat para ”relawan” sibuk mendata para TKW, seorang
lelaki tampak berdiri menonton. ”Spontan saya bilang ke dia, Pak,
mestinya Bapak yang /ngurusin/ para pahlawan devisa ini, kan Bapak
anggota DPR. Ini di depan mata Bapak jelas-jelas ada rakyat Bapak yang
kesusahan, kasihan, kan,” kata Riny.
”Maaf, Bu. Saya bukan anggota DPR, tetapi terima kasih banyak ya, Ibu
dan teman-teman sudah menolong mereka,” kata lelaki itu seperti
ditirukan Riny. Ia mengetahui kemudian, lelaki itu adalah petugas agen
/travel/ yang mengurus perjalanan rombongan anggota DPR.
Menurut Rini, lelaki itu kemudian membalikkan punggung, bergabung dengan
rombongan anggota DPR yang duduk tidak jauh dari situ. Beberapa orang
dari mereka, kata Rini, sempat menoleh saat ia berbicara dengan lelaki
dari agen /travel/ tersebut karena berbicara dengan suara lantang.
”Mereka, ya enggak ikut membantu tuh, habis itu malah keluar menuju
mobil sewaan,” ungkap Rini.
*"Ngapain" cari duit ke luar negeri **
*
Sementara itu, salah seorang TKW, Diah, punya pengalaman yang menurutnya
tidak mengenakkan saat ia mencoba menyapa satu-satunya perempuan anggota
Dewan dalam rombongan tersebut. Ia bertanya kepada perempuan itu apakah
sudah ada informasi kapan pesawat akan terbang menuju Jakarta.
”Eh, bukannya menjawab, ibu itu malah balik bertanya ke saya dengan
ketus, /ngapain/ cari duit ke luar negeri, di dalam /aja/ banyak kok.
Saya kaget, kok ditanya baik-baik malah /ngomong/ ketus banget. Saya
bilang /aja kalo/ saya /emang/ orang miskin, cari duit ke mana /aja/
yang penting halal,” terang Diah saat dihubungi /Kompas.com/, Kamis
(18/11/2010).
Diah pun langsung melengos pergi. ”Di mata orang DPR, TKW itu enggak ada
harganya. Ya, memang beginilah nasib kami, selalu dianggap menyusahkan
di negeri sendiri,” katanya.
Diah sudah empat tahun bekerja untuk sebuah keluarga di Madinah, Arab
Saudi. Ia bersyukur mendapat majikan yang baik. ”Saya cuti pulang
kampung selama dua bulan untuk /nengok/ anak. Majikan saya sayang sama
saya. Dia malah nangis /nganter/ saya pulang, minta saya cepet balik
lagi ke Madinah,” katanya.
*Mereka pulang duluan **
*
Selanjutnya, Minggu sore, seperti diceritakan Agus Safari, mereka
mendapat kabar bahwa pesawat akan berangkat pada pukul 01.00 waktu Dubai
(Senin, 8/11/2010). Kembali terjadi kegaduhan.
”Tidak mudah mengatur seratusan orang. Para TKW itu tersebar.
Pelan-pelan kami mengumpulkan mereka di lobi. Tidak semua dapat
terangkut oleh bus yang disediakan. Jadi kami berangkat secara bertahap
menuju bandara,” ujar Agus.
Saat itu, Agus merasa heran sebab hingga di bandara ia tidak melihat
seorang pun rombongan DPR. ”Rupanya mereka sudah pulang duluan naik
penerbangan pukul 20.00. Luar biasa tuan-tuan yang terhormat itu, mereka
/ngeloyor/ pergi duluan tanpa sedikit pun mengindahkan rakyatnya yang
kelabakan ini,” kata dia.
*Studi banding rumah susun **
*
Menurut catatan /Kompas.com/, anggota DPR yang pergi ke Rusia adalah
rombongan Komisi V yang tengah melakukan studi banding terkait RUU Rumah
Susun. Selain ke Rusia, Komisi V juga melakukan studi banding yang sama
ke Italia.
sudah salahkah kita memilih orang2 terhormat yang duduk di kursi pemerintahan itu...??
source



, sumbernya jg dari mana gaje