pinnacullata
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 24506
- Sejak
- 24 Okt 2007
- Pesan
- 13.034
- Nilai reaksi
- 224
- Poin
- 63
Just for sharing, this is a really touching story
Jakarta siang hari. Hangat kerontang sesak oleh wajah-wajah diburu waktu,
sibuk berlalu lalang tak tentu arah. Perutku sudah berbunyi minta diisi.
Ya,
semalam si kecil sakit, badannya panas sekali, membikin aku dan istriku
wajib mengalah, menganti jatah makan malam dan sarapan pagi kami dengan
sebotol kecil sirup penurun panas dan seplastik bubur balita.
Kucomot sebuah pisang goreng, dan sebuah lagi, lalu menenggak sisa kopi
digelas hingga tinggal ampasnya, lumayan untuk sekedar menganjal perut
yang lapar. Kuambil sebatang rokok, menghisapnya dengan perasaan
dinikmat-nikmatkan, wajib nikmat karena khusus hari ini apa yang kuperoleh
sejatinya adalah kemewahan. Pendapatan kernet metromini sungguh pas-pasan,
ditambah seorang buah hati yang sakit, wah-aku memang mesti pandai-pandai
berhemat.
Dan lelaki itu datang. Lelaki yang paling kubenci di seantero bumi hingga
aku sempat bertanya : kenapa Tuhan mesti menciptakan manusia buruk rupa
seperti dirinya. Ya, rambutnya gondrong lusuh meriap-riap ditiup angin
kerontang. Senyum menyelingai diapit dua bilah pipi yang berliang-liang
karena bekas jerawat di masa muda.ee
Mata mendelik merah, entah karena muak menahan kantuk atau lepas menenggak
minuman keras. Dengan tubuhnya yang tinggi tegap itu dan beraroma bacin
keringat, adalah modal utamanya untuk
jadi preman terminal, tukang jambret pasar, jadi bromocorah tengik, jadi
lintah penghisap darah orang-orang miskin sepertiku.
Kendati begitu, aku tidak takut kepadanya, aku bahkan pernah nyaris
menghabisi nyawanya. Ya, siang itu tanganku sudah bersiap dengan sebilah
kunci Inggris. Aku tegak di samping pintu bis dengan nafas memburu dan
berharap ia langsung memaki-maki saat kukatakan tidak ada setoran ini
hari.
Tapi lacur, Bang Ucok, sopir bisku kesusu melarang, bisik gemetarnya
menjilat telingaku.
"Jangan konyol. Dia itu preman dan seberani apapun preman, ia tak
pernahsendirian."
Ia sudah berdiri di hadapanku. Menyodorkan tangan hitamnya, dengan
kuku-kuku panjang yang kotor. Mulutnya menebar aroma minuman keras. Aku
menutup hidung, benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa muakku, kendati
begitu tanganku, sesuai dengan wasiat Bang Ucok tetap saja merogoh saku
dan meletakkan dua lembar ribuan di genggamannya.
Ia menatapku dengan mata merahnya, seperti ingin mengucapkan sesuatu,
tetapi urung karena aku keburu mengibas-ngibaskan tanganku akibat aroma
tengik minuman keras yang menyebar dari mulutnya. Ia garuk-garuk kepala
lantas berbalik masuk ke rumah makan Padang . Di sana kulihat ia
melempaskan sebungkus rokoknya, menenggak segelas kopi dan memesan
sepiring nasi.
Aku kesusu mengucap asma Tuhan, takut-takut kegeraman itu menyeruak tak
terkendali dan mengantarku untuk memukul kepalanya dengan botol minuman
bersoda. Kernet bayangan terminal memberi isyarat. Bis sudah penuh. Aku
berbisik malu
di telinga penjual gorengan itu, " Ngutang dulu, Mbok."
Mbok Sumi menganguk, paham akan kondisiku. Ya, aneh memang tetapi
terkadang para orang miskin itu seakan direkatkan oleh hubungan batin.
Bang Ucok sudah duduk di belakang kemudi, aku meloncat naik ke bis dan
mulai meminta ongkos kepada para penumpang.
Bang Ucok lalu memencet klakson, isyarat kalau bis mau bergerak. Aku
kesusu turun dan mulai mengatur arus lalu lintas keluar terminal. Tak ada
masalah, sebentar saja, wajar aku sudah ratusan kali melakukan hal ini.
Bis berhasil keluar terminal dan Bang Ucok mulai tancap gas, aku
berlari-lari kecil dan dengan cekatan meloncat ke pintu bis. Tapi entah
mengapa ketangkasanku mendadak lenyap, handel pintu bis terasa licin dan
basah. Sial. Cengkramanku terlepas dan aku pun sontak jatuh ke aspal.
Sebuah avanza merah marun melesat cepat tepat dihadapanku. Aku menutup
mata,detik itu aku siuman kalau riwayatku tamat di sini.
Namun sebelum itu terjadi, kurasakan ada seseorang yang
menerjangku,mendorongku ke tepi jalan. Lalu ada suara jeritan panjang.
Takut-takut aku membuka mata, dan bersyukur kalau aku masih ada di
dunia,masih bernafas dan tidak kurang satu apapun. Tetapi disampingku ada
sesosok tubuh. Ya, Tuhan penyelamatku ternyata preman terminal itu, lelaki
yang paling kubenci di seantero bumi. Kaki kirinya remuk redam, mungkin
terlindas mobil ketika meloncat menyelamatkanku.
"Kakimu ?" Tanyaku cemas, tak bisa berucap apa-apa lagi.
Lelaki itu mengerling kakinya sekilas lalu tersenyum
"Selama ini kau sudah begitu baik padaku, " katanya " Lalu apakah aku
perlu menyesal karena kehilangan sebilah kaki untuk menyelamatkanmu ?
Jangan bercanda kawan."
Dan aku menangis. Menangis untuk lelaki yang paling kubenci di seantero
bumi.
Jakarta siang hari. Hangat kerontang sesak oleh wajah-wajah diburu waktu,
sibuk berlalu lalang tak tentu arah. Perutku sudah berbunyi minta diisi.
Ya,
semalam si kecil sakit, badannya panas sekali, membikin aku dan istriku
wajib mengalah, menganti jatah makan malam dan sarapan pagi kami dengan
sebotol kecil sirup penurun panas dan seplastik bubur balita.
Kucomot sebuah pisang goreng, dan sebuah lagi, lalu menenggak sisa kopi
digelas hingga tinggal ampasnya, lumayan untuk sekedar menganjal perut
yang lapar. Kuambil sebatang rokok, menghisapnya dengan perasaan
dinikmat-nikmatkan, wajib nikmat karena khusus hari ini apa yang kuperoleh
sejatinya adalah kemewahan. Pendapatan kernet metromini sungguh pas-pasan,
ditambah seorang buah hati yang sakit, wah-aku memang mesti pandai-pandai
berhemat.
Dan lelaki itu datang. Lelaki yang paling kubenci di seantero bumi hingga
aku sempat bertanya : kenapa Tuhan mesti menciptakan manusia buruk rupa
seperti dirinya. Ya, rambutnya gondrong lusuh meriap-riap ditiup angin
kerontang. Senyum menyelingai diapit dua bilah pipi yang berliang-liang
karena bekas jerawat di masa muda.ee
Mata mendelik merah, entah karena muak menahan kantuk atau lepas menenggak
minuman keras. Dengan tubuhnya yang tinggi tegap itu dan beraroma bacin
keringat, adalah modal utamanya untuk
jadi preman terminal, tukang jambret pasar, jadi bromocorah tengik, jadi
lintah penghisap darah orang-orang miskin sepertiku.
Kendati begitu, aku tidak takut kepadanya, aku bahkan pernah nyaris
menghabisi nyawanya. Ya, siang itu tanganku sudah bersiap dengan sebilah
kunci Inggris. Aku tegak di samping pintu bis dengan nafas memburu dan
berharap ia langsung memaki-maki saat kukatakan tidak ada setoran ini
hari.
Tapi lacur, Bang Ucok, sopir bisku kesusu melarang, bisik gemetarnya
menjilat telingaku.
"Jangan konyol. Dia itu preman dan seberani apapun preman, ia tak
pernahsendirian."
Ia sudah berdiri di hadapanku. Menyodorkan tangan hitamnya, dengan
kuku-kuku panjang yang kotor. Mulutnya menebar aroma minuman keras. Aku
menutup hidung, benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa muakku, kendati
begitu tanganku, sesuai dengan wasiat Bang Ucok tetap saja merogoh saku
dan meletakkan dua lembar ribuan di genggamannya.
Ia menatapku dengan mata merahnya, seperti ingin mengucapkan sesuatu,
tetapi urung karena aku keburu mengibas-ngibaskan tanganku akibat aroma
tengik minuman keras yang menyebar dari mulutnya. Ia garuk-garuk kepala
lantas berbalik masuk ke rumah makan Padang . Di sana kulihat ia
melempaskan sebungkus rokoknya, menenggak segelas kopi dan memesan
sepiring nasi.
Aku kesusu mengucap asma Tuhan, takut-takut kegeraman itu menyeruak tak
terkendali dan mengantarku untuk memukul kepalanya dengan botol minuman
bersoda. Kernet bayangan terminal memberi isyarat. Bis sudah penuh. Aku
berbisik malu
di telinga penjual gorengan itu, " Ngutang dulu, Mbok."
Mbok Sumi menganguk, paham akan kondisiku. Ya, aneh memang tetapi
terkadang para orang miskin itu seakan direkatkan oleh hubungan batin.
Bang Ucok sudah duduk di belakang kemudi, aku meloncat naik ke bis dan
mulai meminta ongkos kepada para penumpang.
Bang Ucok lalu memencet klakson, isyarat kalau bis mau bergerak. Aku
kesusu turun dan mulai mengatur arus lalu lintas keluar terminal. Tak ada
masalah, sebentar saja, wajar aku sudah ratusan kali melakukan hal ini.
Bis berhasil keluar terminal dan Bang Ucok mulai tancap gas, aku
berlari-lari kecil dan dengan cekatan meloncat ke pintu bis. Tapi entah
mengapa ketangkasanku mendadak lenyap, handel pintu bis terasa licin dan
basah. Sial. Cengkramanku terlepas dan aku pun sontak jatuh ke aspal.
Sebuah avanza merah marun melesat cepat tepat dihadapanku. Aku menutup
mata,detik itu aku siuman kalau riwayatku tamat di sini.
Namun sebelum itu terjadi, kurasakan ada seseorang yang
menerjangku,mendorongku ke tepi jalan. Lalu ada suara jeritan panjang.
Takut-takut aku membuka mata, dan bersyukur kalau aku masih ada di
dunia,masih bernafas dan tidak kurang satu apapun. Tetapi disampingku ada
sesosok tubuh. Ya, Tuhan penyelamatku ternyata preman terminal itu, lelaki
yang paling kubenci di seantero bumi. Kaki kirinya remuk redam, mungkin
terlindas mobil ketika meloncat menyelamatkanku.
"Kakimu ?" Tanyaku cemas, tak bisa berucap apa-apa lagi.
Lelaki itu mengerling kakinya sekilas lalu tersenyum
"Selama ini kau sudah begitu baik padaku, " katanya " Lalu apakah aku
perlu menyesal karena kehilangan sebilah kaki untuk menyelamatkanmu ?
Jangan bercanda kawan."
Dan aku menangis. Menangis untuk lelaki yang paling kubenci di seantero
bumi.
